Ada yang Tertinggal (Cerpen Bagian 5)

0
256

Wajah mereka terlihat kusut karena lelah, juga gundah. Nafas mereka mulai berangsur lebih cepat, karena berlarian kesana kemari. Namun sepertinya mereka kehilangan arah dan lamban, hingga tak dapat menemukan apa yang tengah mereka cari. Mereka terlihat bergerombol sejenak untuk berdiskusi mengenai suatu hal, sebelum akhirnya kembali masuk dalam mobil putih besar dengan sirine menakutkannya. Dan mereka pun berlalu.

Bersamaan dengan bunyi sirine mobil itu yang terdengar semakin jauh, Eleza menghembuskan nafasnya panjang, lega, lalu melempar tatapannya pada Kevin yang sepertinya benar-benar tak paham.

“Mereka bisa memutus waktu kita, Kevin. Dan aku gak mau itu.”

Kevin hanya menatapnya tak mengerti. Namun tanda tanya yang terselubung itu tak di-indahkannya. Eleza hanya tesenyum tipis menatap ketidak pahaman Kevin. Biarlah ia melupakan sejenak tentang balutan pakaian yang kini tengah dikenakannya.

Tapi nanti, Kevin pasti akan kembali sadar.

Biarkanlah waktu yang kan menyadarkannya. Biarkanlah mereka memiliki waktu itu sekarang. Hingga ia bisa menerimanya, menerima segala ketidak-adilan yang Eleza rasakan untuk mereka berdua. Dan Eleza sangat mengerti, jika Kevin pasti sangat tersiksa di ruang tertutup itu setiap harinya. Bahkan tidak dengan kasur, dan bantal empuknya, juga dengan suntikan yang selalu menyakitinya.

***

Waktu berjalan begitu cepat, membawa keduanya pada lukisan indah malam dengan kerlip taburan bintang. Menyembunyikan jingga kemegahan mentari dibalik tirai malamnya.

Begitupula dengan senyum Eleza yang turut bersembunyi. Lagi dan lagi ia memajukan kedua bibirnya hingga membentuk lengkungan kekesalan pada raut wajahnya. Gadis itu mengunyah keras marshmallow-nya, dan duduk menyampingi Kevin dengan irisnya yang mengintip tajam pada sudut matanya, disela waktu Kevin tidak memfokuskan pandangan padanya.

“Kevin, jawab dong!”

“Nanti eza, jika rembulan tak dapat lagi mengontrol dirinya. Disanalah pertemuan mereka,” responnya santai.

Beriringan dengan akhir kalimat kekasihnya itu, ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul dalam dadanya, ada sakit di parunya. Bulir hangat mulai menggenagi pelupuk matanya, menyelimuti iris cantiknya, dan memaksa untuk menuruni lembahnya. Namun Eleza menahannya hingga mencekat kerongkongannya sendiri. Eleza hanya ingin semua itu terjadi secepatnya, pertemuan sang rembulan. Karena waktu juga terus berotasi, sama halnya dengan apa yang bumi lakukan, tanpa henti menghantui Eleza dengan ketidak-relaannya.

Ia telah berjalan jauh menembus sang waktu, demi kerinduannya pada pemuda bermata elang itu. Dan saat itu pula, Eleza harus merelakannya, meski hati tak mengizinkannya.

Disekanya bulir hangat yang mulai menuruni sudut matanya. Eleza memberanikan diri untuk menatap mata elang pria itu, dengan senyum tipisnya yang melebar.

“Ku dengar, sebentar lagi akan ada gerhana bulan total,orang orang akan pergi untuk melihatnya, haruskah kita juga pergi?”

Eleza menarik-narik lengan Kevin. Sepertinya Eleza sangat ingin melihat fenomena langka itu. Eleza menatap girang, setelah Kevin meng-iyakan ajakannya. Dan segera melepas kardigan kelabu tipis yang di gunakannya, mengaitkannya pada pundak pemuda itu. Meski tidak pas, karena kekecilan, namun melihat lengan pendek baju tipisnya, membuat Eleza khawatir.

Bersambung…

Penulis adalah Ika keysa. Penulis dapat dihubungi di akun @envychy_oxy dan facebook ikakeysa

Pengen kayak Ika keysa?

Yuk nulis!

Cerpen atau puisi maks. 5000 karakter, bukan plagiat atau mengandung sara dan tidak ada unsur kekerasan ataupun pornograf, belum pernah dipublikasikan dimanapuni. Cerpen atau puisi yang masuk hak milik perusahaan.

Kirim cerpen ataupun puisi ke Koran@pabelan-online.com