Tragedi 26 April, Polemik Panas Antara Dua Kubu

0
373

UMS, Pabelan-Online.com – Berdirinya TPS di Fakultas Hukum ternyata memicu polemik. Tindakan yang dilakukan pihak penyelenggara Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) itu seakan menyulut pecahnya tragedi 26 April.

Suasana Griya Mahasiswa agak berbeda pada Selasa (26/4/2016) sore. Hari yang merupakan momen pesta demokrasi mahasiswa itu harus menjadi saksi bisu dari tragedi penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum (FH) terhadap penyelenggara Pemilwa 2016. Reporter yang semula duduk santai di kantor LPM Pabelan yang berada tepat di sebelah utara kantor Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM U), mencium aroma mencekam ketika melihat beberapa mahasiswa berseragam Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) mendekap erat-erat tong Tempat Pemungutan Suara (TPS) 2 dan membawanya ke Kediaman BEM U tersebut, diikuti oleh sekelompok mahasiswa dari Fakultas Hukum.

“Merdeka!” salah seorang dari kelompok itu memprovokasi. Tanpa komando, personil yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu serentak mengikuti. Tong di dalam, tapi kekisruhan membuat suasana tidak aman. Satu per satu mahasiswa FH itu mulai memasuki kantor BEM U melalui pintu timur, disambut teriakan seorang wanita bernada menolak keras. Sedangkan personil KPUM dan Panwaslu lainnya berhasil mendorong penyerangan dari segerombolan mahasiswa penyerang itu keluar dari pintu timur.

Sayang, mereka kecolongan. Mereka kalah jumlah. Mahasiswa FH lainnya berhasil menyusup dari pintu barat dan mengambil tong di saat posisi pihak penyelenggara lengah. Tong dibawa ke luar, dijatuhkan kasar, bahkan diinjak-injak hingga segel rusak. “Merdeka!” Lagi-lagi pekikan ala pejuang kemerdekaan itu didengungkan secara serentak. Berita acara dan surat suara berstempel injakan sepatu tumpah ruah di sana-sini.

Ketika pekikan “Merdeka!” tidak lagi terdengar, datang seorang mahasiswa yang mengaku perwakilan dari Griya Mahasiswa. Sambil merangkul Presiden Mahasiswa FH, Muh. Isra Bil Ali, mahasiswa itu berusaha menengahi. “Saya bukan BEM U, saya bukan KPUM. Saya asli teman-teman dari Griya Mahasiswa,” ucap mahasiswa yang bernama Rafika Dzulqarnain itu.

“Mudah-mudahan ini pertemuan yang bisa menyatukan kita. Yang harus digaris bawahi adalah saya tidak pernah sama sekali melakukan suatu provokasi terhadap teman-teman saya. Tapi jangan hakimi mereka. Hakimi saya aja. Karena saya yang nggak bisa mengontrol teman-teman tadi. Saya sudah mengatakan ke Pak Dekan, Pak Rektor, bahwa saya mendukung kegiatan dari BEM U, tapi tidak dengan Fakultas Hukum. Saya sudah melakukan komparasi, perbandingan undang-undang antara Kama dan juga statuta UMS. Dan itu menjelaskan bahwa kita independen. Semua fakultas yang ada di UMS itu statusnya adalah independen. Tidak mungkin diatur dari organisasi manapun,” tukas Isra dengan suara parau.

“Saya mewakili teman-teman Griya Mahasiswa. Saya independen. Cuma saya nggak suka kalau teman-teman ke sini untuk berbuat rusuh. Teman-teman yang punya kegiatan lain juga akan terganggu. Teman-teman disekolahkan di sini untuk berbuat baik, nggak untuk tawuran di sini,” kata Rafika.

“Aku sebenarnya tidak mau ikut di sini, tidak mau mengambil kotak suara ini. Sebenarnya saya sudah memberikan instruksi jangan berbuat seperti ini. Tapi kalau rakyat wes memberontak, aku yo biso opo?” jawab Isra lagi.

Dialog yang bersifat cair tersebut sempat terjadi sebelum pada akhirnya Isra mengomandokan teman-temannya untuk segera bubar dan meninggalkan tempat kejadian perkara. Suasana kembali lengang. Namun ketegangan masih saja tersisa di raut setiap wajah yang menyaksikan tragedi 26 April itu.

Awal Mula Tragedi

Dari keterangan yang diperoleh, tragedi ini bermula bersamaan dengan usainya pemungutan suara di wilayah FH. Pukul 16.00 WIB, adu mulut dan debat kusir terjadi antara mahasiswa FH dan KPUM ketika tong yang sudah disegel hendak dibawa ke kantor BEM U. Di tengah-tengah perdebatan, muncul Wakil Dekan III, Nuria Siswi Enggarini, yang dengan segera memberi instruksi untuk membubarkan kekisruhan itu. Nuria meminta pihak penyelenggara Pemilwa untuk membawa tong tersebut ke tempat asalnya. Di saat itu pula, mahasiswa FH merasa tidak terima. Mereka berjalan mengikuti arah dibawanya tong, hingga tragedi penyerangan pun terjadi.

Penulis: Reporter Ritmika Serenady

Editor: Ratih Kartika