Ein Worth (Cerpen Bagian 4)

0
251

“Emelie sadar! Ia menikah hari ini!”

Suara Vincent yang semakin meninggi, masih tak mempan untuk Emelie. Bagai sebuah dentaman yang keras, Emelie menangis tak karuan.

“Jika kamu menyayanginya, relakan dia.”

Vincent yang turut  terpuruk melihat kondisi Emelie, memilih untuk segera beranjak dari kamar adiknya itu, dan sejenak meninggalkannya sendiri untuk berpikir. Berharap Emelie akan lebih tenang nantinya.

Emelie sadar jika ucapan Vincent ada benarnya. Mathias hanya menganggapnya sebagai seorang adik berkat kekerabatannya dengan Vincent, tak lebih. Namun Emelie selalu merasakan hal lain dalam mata sayunya. Emelie masih tak dapat menerima keputusan sepihak Mathias sejak dua hari lalu keberangkatannya menuju Freiburg, dimana pernikahannya akan berlangsung.

Tidak. Itu semua tidak benar. Mathias berjanji menemuinya hari ini.

            Emelie menepis segalanya, dan segera berlari keluar. Tak peduli Vincent yang meneriaki namanya, berulang kali. Surat undangan pernikahan Mathias yang telah lusuh di genggamnya erat bersamaan dengan dua lembar tiket orchestra di tangannya.

Dan kini, ia telah menapak di Gendarmenmarkt―alun-alun kota bergaya neoklasik, dimana Konzerthaus terletak, gedung konser, rumah dari Berlin Symphony Orhestra yang nampak begitu megah di antara dua katedral kembar―Französischer Dom dan Deutscher Dom. Ia yakin jika Mathias akan menemuinya. Mathias bukanlah tipe yang suka melanggar janjinya.

***

Bersambung…

Penulis adalah Ika keysa. Penulis dapat dihubungi di akun @envychy_oxy dan facebook ikakeysa

Pengen kayak Ika keysa?

Yuk nulis!

Cerpen atau puisi maks. 5000 karakter, bukan plagiat atau mengandung sara dan tidak ada unsur kekerasan ataupun pornograf, belum pernah dipublikasikan dimanapuni. Cerpen atau puisi yang masuk hak milik perusahaan.

Kirim cerpen ataupun puisi ke Koran@pabelan-online.com