Esensi Sekolah Yang (Perlu) Dipertanyakan

0
46

Di muka bumi ini tidak ada satu pun yang menimpa orang-orang tak berdosa separah sekolah. Sekolah adalah penjara. Tapi dalam beberapa hal sekolah lebih kejam ketimbang penjara. Di penjara misalnya, Anda tidak dipaksa membeli dan membaca buku-buku karangan para sipir atau kepala penjara. (Bernard Shaw dalam Parents and Children)

Rasanya gambaran tentang sekolah dari Bernard Shaw di atas cukup untuk mewakili kondisi yang tengah menimpa dunia pendidikan kita akhir-akhir ini. Tempo hari di berita-berita nasional kita dipertunjukkan kejadian di sekolah antara guru-murid yang membuat hati nurani kita tergugah. Yang pertama, kasus pencubitan guru terhadap anak polisi yang membuat seorang guru perempuan mendekam di penjara. Kedua, drama pelaporan pencubitan guru terhadap murid di Makassar yang membuat guru tersebut juga harus meringkuk sebentar dalam penjara. Dan yang terakhir adalah kasus pengeroyokan guru oleh orang tua dan anaknya yang diawali dari tamparan keras sang guru di wajah sang murid.

Kejadian-kejadian ini sebenarnya menunjukkan pola kecenderungan problematika yang sama. Yaitu keras tangannya sang guru yang menjadi awal mula dari kejadian ini. Dari sini kemudian polemik dan beragam macam perdebatan mencuat. Bahwa apakah esensi dari kekerasan sang guru? Apakah seboleh-bolehnya guru bertindak terhadap murid, lantas dapat menghalalkan “main tangan”? Apakah dengan dalih bahwa guru ialah orang tua di sekolah bisa membenarkan hal ini?

Belum lagi drama konflik guru-murid terurai, Lalu kemudian muncullah wacana full day school. Untunglah itu masih sebatas wacana. Akan tetapi patut kita persepsikan dahulu wacana ini sebelum nantinya menjadi realita.

Bayangkan, seharian penuh belajar di sekolah akan menjadi satu hari penuh bertatap muka dengan guru. Jam pelajaran sudah pasti lebih banyak dari pada jam istirahat. Dalam rentang waktu ini, tentunya perilaku anak akan berada dalam pengawasan guru seutuhnya. Dan guru tentu saja, bertanggung jawab besar dalam proses perkembangan primer anak didiknya.

Satu hari penuh bersekolah, dikatakan oleh pencetusnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, untuk mengantisipasi perilaku anak-anak saat berada di luar lingkungan sekolah. Padahal kita telah melihat sebelumnya tragedi guru dengan murid-muridnya, dan kecenderungannya terjadi di jam-jam pelajaran. Beberapa dari kita pasti juga mengalami bagaimana sikap mereka ketika mereka emosi melihat tingkah laku anak didiknya, bahkan beberapa memang ada yang bersifat temperamental. Lantas, percayakah kita? Apakah masih perlu wacana one day school yang berarti menyerahkan perkembangan anak lebih banyak kepada sekolah?

Guru, bertolak dari wacana tersebut akan memiliki otoritas tinggi dari sekolah dalam mengontrol perilaku para pelajar ketimbang orang tua. Mereka menjadi memiliki otoritas tinggi dalam mengontrol perilaku anak didiknya seturut seharian penuh bersekolah. Semakin banyak jam mengajar guru, maka semakin kuat otoritas guru terhadap murid. Dan intinya program ini telah merenggut banyak tanggung jawab orang tua pada anaknya.

Sang penggagas wacana mungkin sebenarnya ingin memberikan oase di tengah padang pasir, tapi nyatanya ia malah menurunkan petir di siang bolong. Gagasan itu dimaksudkan sebagai solusi dari carut-marutnya sistem pendidikan di Indonesia. Tetapi yang ada malah kontoversi.

Beginilah dramaturgi dunia pendidikan kita. Bermula dari konflik guru dan murid yang beberapa kali mencuat di berita nasional, lalu menjalar ke munculnya wacana one day full school, hingga ujungnya sekolahlah yang mendapat sorotan tajam karena perannya sebagai tempat bernaung kedua oleh pihak yang bersangkutan.

Dengan mengedepankan esensi pendidikan maka kita akan semakin mendekat dengan prinsip humanisme. Prinsip yang mengupayakan memanusiakan manusia. Karena seperti yang diungkapkan Abraham Maslow (1964), seseorang akan dapat menjadi manusia seutuhnya jika kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri, dan kebutuhan aktualisasi dirinya tercukupi.

Jangan sampai sekolah dijadikan sebagai alat untuk melanggenggkan kekuasaan dengan menyempurnakan penciptaan jarak dan kelas-kelas sosial serta memenjarakan pikiran para murid. Dan juga, stigma bahwa guru adalah entitas yang harus ditakuti mesti diubah menjadi yang dihormati. Karena seperti yang diutarakan Soe Hok Gie (1958), bahwa Guru bukanlah dewa dan murid bukanlah kerbau yang dicocok hidungnya.

Penulis adalah Muhammad Taufik. Mahasiswa Jurusan S1 Psikologi semester 5.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here