Riwayat Saripetojo yang Tinggal Sejarah

0
731

UMS, Pabelan-Online.com – Sejak 27 Mei 2016, tanah yang dahulunya berdiri Pabrik Es Saripetojo diresmikan menjadi bangunan megah nan mewah. Bangunan tersebut adalah Hotel Swiss-Beliin. Bangunan tersebut memiliki sebelas lantai yang dilengkapi dengan pusat perbelanjaan bernama Robinson Departement Store. Lalu, apakah masih ada sisa-sisa bangunan yang mengingatkan kita pada Pabrik Es Saripetojo? Untungnya masih ada, terlihat kontras dengan kasat mata. Disamping mal megah itu ada sebuah bangunan tua yang merupakan rumah dinas Pabrik Es Saripetojo. Rumah dinas yang tertutup hingar-bingar kemewahan Hotel Swiss-Beliin.

Alih fungsi Saripetojo telah dicanangkan sejak Joko Widodo menjabat Wali Kota Solo. Kala itu, terjadilah sengketa antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Pemkot Solo menolak keras pembongkaran pabrik es dengan alasan bangunan tersebut merupakan Benda Cagar Budaya (BCB) sehingga pembangunan urung dilakukan.

Beberapa tahun kemudian, alih fungsi kembali berjalan lagi, namun oleh warga sekitar dan budayawan ditolak mentah-mentah. Mereka kemudian mendatangi balai kota namun tidak membuahkan hasil. Akhirnya, alih fungsi bangunan tetap berjalan.

Koordinator Tim Ahli Cagar Budaya, Titis Srimuda Pitana menegaskan bahwa Saripetojo memang masuk dalam BCB, namun hanya rumah dinasnya saja. “Saripetojo (pabriknya-red) hanya memenuhi aspek sejarah saja,” tuturnya dalam majalah Pabelan edisi Agustus 2016.

Titis yang juga masuk dalam bagian Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) menyatakan Saripetojo memang bukan BCB namun dirinya mengaku tidak merekomendasikan alih fungsi bangunan tersebut menjadi hotel dan pusat perbelanjaan.

Menanggapi permasalahan ini, Heri Priyatmoko yang merupakan budayawan menganggap Pemkot Solo tidak konsisten untuk mempertahankan Saripetojo sebagai BCB. Padahal, menurutnya dalam majalah Pabelan edisi Agustus 2016, Pemkot Solo pernah berkoar-koar akan mempertahankan Saripetojo sebagai BCB. Pun dikatakannya Saripetojo adalah simbol munculnya budaya minum es di Jawa, khususnya Solo Raya.

“Ketika mereka mengatakan tidak masuknya Saripetojo dalam BCB karena hanya memenuhi satu unsur, segi kesejarahan saja, maka mereka salah,” katanya dengan kecewa.

Kini, riwayat Pabrik Es Saripetojo hanya tinggal sejarah, yang akan selalu dikenang generasi dahulu dan dilupakan generasi depan. Namun setidaknya pabrik es bikinan Belanda itu ‘pernah’ ada di Kota Solo.

Penulis: Aisyah Arminia