Kondisi Industri Batik yang Pasang Surut

0
252

UMS, Pabelan-Online.com – Walaupun batik telah diresmikan menjadi warisan budaya, namun dinamika industri batik masih mengalami pasang surut di beberapa wilayah di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena terdapat kendala yang belum teratasi.

Seperti yang dilansir dari Harian Kompas edisi Kamis (6/10/2016), bahwa pihak Penelitian Dan Pengembangan (Litbang) Kompas telah melakukan survei selisih Batik di 18 wilayah di Jawa dan Sumatera. Salah satu peneliti, Retno Setyowati, mengungkapkan bahwa di beberapa wilayah jumlah perajin batik cenderung naik dan stabil. “Di wilayah seperti Yogyakarta, Surakarta, dan Banyumas, jumlahnya cenderung naik, lalu di daerah Banjarnegara dan Bantul jumlahnya cukup stabil,” ungkap Retno, Rabu (5/10/2016).

Kendala yang dihadapi oleh pembatik rata-rata berupa kehadiran kain printing motif batik, regenerasi yang terhenti, ketiadaan lembaga yang mewadahi pengusaha batik, upah rendah, dan adanya pilihan pekerjaan lain. Namun berdasarkan data Kementerian Perindustrian yang dikutip oleh Kompas, secara keseluruhan nilai ekonomi batik tumbuh pesat di sepanjang tahun 2011 hingga 2015. Pada tahun 2011, terdapat 41.623 unit, kemudian pada tahun 2015 naik menjadi 47.755 unit.

Salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya yang merupakan peneliti batik, Karsam, mengatakan bahwa meskipun batik telah mendunia, masih banyak tantangan yang harus dituntaskan agar batik bergerak ke arah industri yang mapan. “Bagaimana caranya agar para pembatik menciptakan produk menarik dengan tetap mempertahankan muatan lokal ? Maka jawabannya adalah tidak boleh melupakan hal teknis berupa kemasan menarik, brand batik, kualitas kain yang ditingkatkan, pengembangan desain, pengetahuan tentang kondisi pasar, dan pemberian edukasi batik sejak dini,” ujar Karsam, Rabu (5/10/2016).

Penulis : Metanisa Rofi Hamtina

Editor   : Ratih Kartika