Kreativitas itu “Dipraktekkin”

0
262

Pengarang        : Tim Wesfix

Penerbit            : Penerbit PT Grasindo

Cetakan           : I, September 2013

ISBN               : 978-602-251-216-5

 

Banyak tulisan tentang kreativitas yang bisa ditemukan di pelbagai macam buku kreativitas, seminar, atau dari beberapa blog. Namun kreativitas bukan perkara penguasaan teori dan segala macam yang terdengar rumit di telinga. Diperlukan tips dan kiat untuk segera mempraktekkannya.

Tim Wesfix merupakan kumpulan beberapa penulis yang memiliki aspirasi untuk membagi ilmu tentang kreativitas. Melalui buku yang berjudul Kreativitas itu “dipraktekin” mereka memberikan berbagai macam strategi, motivasi dan juga inspirasi bagi para pembaca. Buku dengan halaman full color dan gaya penyampaian yang serba visual, serta pembahasan yang singkat-padat.

Isi dari buku dapat diakses mulai dari halaman berapapun. Setiap poin tidak pernah dibahas melebihi dua halaman, sehingga pembaca mendapatkan esensi yang memadai secara ringkas. Terdapat kutipan-kutipan di beberapa halaman yang akan memudahkan untuk mengingat suatu pokok pembahasan. Terdapat pula checklist untuk menilai sejauh mana kreativitas dipraktekkan.

Dijelaskan dalam pendahuluan buku ini, tentang alasan harus menjadi kreatif. Dengan memberi contoh perkembangan bisnis di dunia saat ini. Salah satu produk smartphone yang menjadi buah bibir karena barangnya laku keras. Namun saham produk ini terjun bebas, hanya menguasai 3% pasar smartphone di Amerika Serikat, dari pencapaian tertinggi. Hal itu disebabkan oleh pesaing kuat dibalik fakta tersebut. ‘Oknum’ ini memiliki inovasi yang menjawab kebutuhan.

Dengan demikian, kreatif mutlak diperlakukan, karena jika memiliki kreativitas maka banyak pihak yang membutuhkan kelihaian dan kepiawaian dalam menjalankan bisnis. Pada era ini, hampir semua model bisnis didesain untuk mewadahi kreativitas.

Edward de Brono adalah salah satu eksponen dalam pemikiran kreatif. De Bono mengatakan bahwa otak manusia memiliki satu keunggulan sekaligus kelemahan, yaitu terprogram untuk membuat pola aktivitas berdasarkan rutinitas. Berpikir kreatif berarti melatih otak untuk mencari alternatif terhadap kebiasaan-kebiasaan atau rutinitas.

Berlatih memberi komentar dengan mengesampingkan jawaban-jawaban yang lumrah dapat melatih kreativitas. Sarananya adalah berbagai macam sosial media. Perlu disadari bahwa komentar yang lucu, mengundang gelak tawa, merupakan bentuk kreativitas. Sebab, menurut De Bono, proses mental terciptanya sebuah humor memiliki pola yang sama dengan proses inovasi.

Kata Pablo Picasso, art is theft. Seni atau kreativitas pada dasarnya adalah modifikasi atau deviasi dari karya yang sudah pernah ada. Tidak ada salahnya mencari ide untuk suatu karya dengan berjalan-jalan, ke toko buku, membaca di back cover buku atau surfing ke internet.

Selain memberikan tips dan kiat yang sangat menyenangkan dalam berkreativitas, buku ini juga menyampaikan motivasi untuk menyadarkan akan permasalahan yang dihadapi. Untuk memotivasi agar menjadi lebih kreatif, tidak ada salahnya diam sejenak, dan menyadari permasalahan yang barangkali ingin dikubur. Miliki semangat untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka otak akan bergerak dengan kreatif dan menyalurkan ide-ide segar setiap harinya.

Adapun kelemahan dari buku ini adalah beberapa bagian pembahasan yang tidak tertulis sampai tuntas sehingga membuat kebingungan. Penggunaan beberapa kata maupun kutipan yang menggunakan bahasa asing, membuat pembaca harus mencari terjemahan di mesin pencarian.

Buku ini direkomendasikan terutama bagi pekerja seni, mahasiswa, entrepreneur, artis, penulis, dan semuanya yang tertarik untuk menjadi kreatif. Sampul buku dengan warna dominan kuning dan desain yang sederhana, membuat penasaran pembaca dengan isi buku non fiksi ini.

 

Penulis adalah Dina Ayu Lestari. Mahasiswa  FKIP Matematika UMS