Kisah Seorang Teroris Tunggal Bagian 6

0
254

Dua Polisi berlari berbanjar dengan pistol lengkap siap tembak di tangan mereka. Disaat itulah sebuah pelor terlontar deras dari moncong pistol. Suaranya membendung keramaian pasar. Ujung pelor merobek kaos oblong Ayahnya, mendobrak kenyal daging perutnya, dan meledakkan lambungnya. Ayahnya terkapar dengan lubang hitam koyak di bagian perut.

Sebagaimanapun ia bercerita dengan khidmatnya, Polisi tidak akan percaya, ia berkata bahwa seseorang memberiku sebuah benda semacam kaleng berwarna hitam. Orang itu menyuruhku mengantarkan benda itu ke pos polisi,

“Untuk apa?” tanya Rio Kutluk. Mereka sedang berada di Pasar tak jauh dari Pos Polisi.

“Mereka sedang sakit, ini obat untuk menyembuhkan mereka,”

“Aku benci mereka, sebab mereka membunuh Ayahku. Aku tidak mau mengantarkannya!”

“Kau tidak perlu mengantarkannya, itu terlalu sopan, kau lempar saja ke arah pos Polisi itu, setelah itu sudah.”

“Mengapa aku harus menyembuhkan mereka sementara mereka pembunuh Ayahku?”

Orang di depannya sedikit berfikir sebelum kembali berkata, “Kau pernah dengar cerita tentang orang yang kembali hidup setelah mati?”

 

Bersambung…

 

Penulis adalah Prasetiyo Leksono Nur Widodo. Mahasiswa Teknik Industri.