Kisah Seorang Teroris Tunggal Bagian 9

0
264

Seperti yang telah ia ceritakan, ia memang hidup sendirian, kedua orangtuanya telah berpulang. Tapi hal lain yang kutemukan dari para tetangga adalah bahwa Rio Kutluk adalah seorang pembual. Hampir seluruh rakyat di desa itu telah tahu kisah seorang Rio Kutluk. Tapi ini juga masih simpang siur. Ada yang bilang bahwa Rio Kutluk-lah yang membunuh Ibu dan Adiknya. Dengan cekikan atau sumbatan saluran pernafasan. Semua itu dilakukan untuk menghentikan rasa sakit yang di derita Ibunya. Rio Kutluk tak tahu obat untuk penyakit Ibunya, jelas ia lebih memilih mengakhiri hidup Ibunya dibandingkan terus membiarkannya merasakan kesakitan. Dengan begitu berarti memang Rio Kutluk memiliki kelainan mental.

Sementara kematian Ayahnya, ada yang bilang Ayahnya sempat terhuyung dan ambruk terlebih dahulu sebelum pelor merobek lambungnya. Mereka bilang Rio Kutluk telah memasukan racun ke dalam miras Ayahnya sebelum Ayahnya pamit bekerja. Racun itu akan bekerja jika pengguna telah kelelahan dan mengeluarkan keringat. Jelas Ayahnya sempat berlari membabi buta sebelum terkapar tak bernyawa. Racun-racun itu mudah saja ia dapat dari tempat kerjanya, sebab di sana bukan hanya golongan ganja yang akan ditemukan, tapi juga racun dan zat-zat kimia bahan pembuatan bom.

Aku tidak pernah menentukan mana cerita yang benar. Tapi satu hal dari seluruh fakta yang kutemukan adalah, bahwa Rio Kutluk adalah seorang pembunuh; baik pembunuh para Polisi, atau pembunuh kedua orangtuanya. Seperti yang telah ia ceritakan, ia memang hidup sendirian, kedua orangtuanya telah berpulang. Tapi hal lain yang kutemukan dari para tetangga adalah bahwa Rio Kutluk adalah seorang pembual. Hampir seluruh rakyat di desa itu telah tahu kisah seorang Rio Kutluk. Tapi ini juga masih simpang siur. Ada yang bilang bahwa Rio Kutluk-lah yang membunuh Ibu dan Adiknya. Dengan cekikan atau sumbatan saluran pernafasan. Semua itu dilakukan untuk menghentikan rasa sakit yang di derita Ibunya. Rio Kutluk tak tahu obat untuk penyakit Ibunya, jelas ia lebih memilih mengakhiri hidup Ibunya dibandingkan terus membiarkannya merasakan kesakitan. Dengan begitu berarti memang Rio Kutluk memiliki kelainan mental.

 

Selesai…

 

Penulis adalah Prasetiyo Leksono Nur Widodo. Mahasiswa Teknik Industri.