Catatan Sejarah Perawan Doeloe

0
203

udul                         : Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer

Penulis                    : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta

Tebal buku               : ix + 218 halaman

Cetakan I                 : Maret, 2001

ISBN                       : 979-9023-48-3

 

“Dengan hati berat aku tulis surat ini untuk kalian. Belum sepatutnya pada kalian kuajukan suatu berita yang mengguncangkan, memilukan, menakutkan dan menyuramkan. Kalian, para perawan remaja, hidup di alam kemerdekaan, di bawah atap keluarga yang aman, membela, dan melindungi.” (halaman 3)

 

Perang Dunia (PD) II menyisakan kejahatan kemanusiaan yang belum banyak terungkap oleh catatan sejarah. Salah satunya perbudakan seks terhadap para perawan remaja di kawasan Asia yang pernah diduduki Jepang, termasuk Indonesia.

Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, sebuah novel catatan sejarah perbudakan seks oleh militer Jepang yang ditulis Pramoedya Ananta Toer. Pram menyusun cerita berdasarkan keterangan teman-temannya di Pulau Buru dan hasil pelacakan terhadap para budak seks yang ditinggalkan di pulau tersebut oleh Jepang setelah menyerah pada tahun 1945.

Kepada pemuda-pemudi, pemerintah Pendudukan Balatentara Dai Nippon berjanji memberi kesempatan mereka untuk belajar ke Tokyo dan Shonanto (Singapura). Pada tahun 1943 mereka mulai mengangkuti para perawan menuju Tokyo dan Shonanto. Tak ada kejelasan mengenai pengangkutan tersebut. Media cetak seluruhnya di bawah kekuasaan Jepang.

Sumiyati, salah seorang korban dalam wawancara Sukarno Mitodiharjo menceritakan kisahnya dalam asrama pengumpulan. Tak ada yang dapat dilakukan kecuali menyerah, para perawan harus melayani kebutuhan seks para serdadu Jepang secara bergilir.

“Setiap gadis mendapat satu bilik. Serdadu Nippon yang berhajad seks datang ke kamar yang ditentukan pada karcis berisikan nomor bilik. Mereka yang belum dapat giliran harus menunggu sampai yang di dalam kamar keluar.” (halaman 39)

 

Sejak di tangan Jepang, perpisahan perawan remaja dengan keluarga dimulai. Ada yang berhasil melarikan diri tapi tak berani kembali pada keluarga. Mereka yang berhasil pulang, keluarganya tak berani menanyakan cara mereka dapat kembali, mengetahui pengalaman perawan itu sudah menjadi beban moral.

Mereka pun menjadi buangan setelah kekalahan Jepang di tahun 1945. Tak ada fasilitas maupun pesangon untuk kembali. Tak sedikit pula yang menetap di pedalaman Pulau Buru untuk akhirnya menjadi istri penduduk setempat.

Novel setebal 218 halaman ini menarasikan cerita melalui gaya bahasa surat terbuka. Sehingga dapat menggugah serta menumbuhkan rasa kemanusiaan dalam hati pembaca secara alami. Penulis berhasil membawa suasana Pulau Buru secara baik, melalui penggambaran adat-istiadat dan bahasa yang digunakan masyarakat.

Namun, bahasa Buru dalam percakapan menyulitkan untuk memahami cerita dalam novel ini. Terlepas dari kekurangan tersebut, novel ini layak dibaca sebagai pelengkap catatan sejarah yang tak hanya fokus pada taktik politiknya. Namun, ada sisi lain yang perlu diketahui masyarakat.

 

Penulis: Imroatus Sholihah. Mahasiswi FKIP/Pendidikan Matematika