Tragedi Mayat Terbungkam Bagian 5

0
121

Wahidin begitu bersikeras untuk menyerahkan diri pada polisi, maka malam itu, di rumah itu juga terjadi pembunuhan yang tidak diinginkan. Mereka sempat berdebat lama, hingga Antok Lingsur menganggap rekannya memang benar-benar sudah gila. Ia mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya, dan tanpa basa-basi, dihujamkan dalam pada jantung Wahidin. Dalam pembunuhan itu hanya ada dua saksi, yaitu deru angin malam yang semakin kencang, dan Miranda, anak semata wayang Wahidin yang baru berusia sepuluh tahun. Miranda menjerit sangat kencang begitu melihat Ayahnya terkapar berlumuran darah oleh tangan Antok Lingsur, sebelum akhirnya terhuyung dan pingsan.

Dan begitulah mengapa Antok Lingsur begitu tertarik pada Siti Latjuba yang sebenarnya hanyalah janda yang tidak punya apa-apa.

“Ini bukan Wanita biasa, ia punya yang kau butuh,” kata¬† Berenyak.

“Benarkah?”

“Ya, dia punya Rumah yang letaknya sangat terpencil, kau bisa menyembunyikan barang terlarang itu disana. Dan yang jauh lebih penting, kau bisa menyembunyikan anak Wahidin disana, anak itu akan bungkam. Selain itu, kupikir wanita ini akan sangat tergila-gila padamu.”

Kemudian tiga hari selepas itu, tak menunggu waktu perkenalan yang lama, Antok Lingsur dan Siti Latjuba sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Lalu Antok Lingsur mulai menetap di rumah istri barunya. Tentunya dengan Miranda yang disekap di sebuah gudang tua.

Ketika Antok Lingsur dan Siti Latjuba telah divonis penjara oleh aparat polisi. Miranda masih juga disana, di gudang tua yang tak terjangkau oleh hiruk-pikuk warga desa. Baru dua hari kemarin, Asep Uceng dan beberapa warga menemukan mayatnya tergeletak lemas karena kelaparan.

 

Selesai…

 

Penulis adalah Prasetiyo Leksono Nur Widodo. Mahasiswa Teknik Industri.