Kutunggu Waktu Kembali Bagian 2

0
129

Kami tak banyak bercakap-cakap setelahnya. Kami hanya sering duduk dan sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa percakapan apapun sampai berjam-jam lamanya. Terkadang saja, Darsam menyumbang suara merdunya dengan menembang lagu Jawa dan mau tak mau mengingatkanku pada sosok Ibu yang saban hari menyanyikannya di rumah.

Aku tidak dekat dengan Ibuku, tapi cukup mengenalnya dengan baik. Ia adalah sosok wanita renta yang baik hati, melakoni hidupnya yang sudah uzur itu dengan penuh kesabaran, dan begitu taat dengan pencipta-Nya. Enam orang dulunya pernah bermukim dalam rahimnya, yang pertama dan kedua laki-laki, tiga hingga lima perempuan, dan yang terakhir adalah diriku.

Meskipun pernah menikah hingga dua kali, kini tak ada lagi suami yang mendampinginya. Bapak dari empat kakakku meninggal karena malaria, dan suami terakhirnya, yang merupakan bapakku dan kakak perempuan kandungku, meninggal tertimbun longsor saat sedang menambang batu.

Kemiskinan seolah jadi jodoh dari kehidupan yang Ibu alami. Pekerjaannya tiap hari berladang, mengurusi lahan kecilnya di punggung bukit yang ditanami umbi-umbian dan beberapa sayuran untuk dijual ke pasar. Ia juga selalu membawa pulang gendongan ranting yang didapatnya selama perjalanan turun. Kadang dijual, atau kadang dipakai sendiri untuk menghidupi dapurnya yang kering.

 

Bersambung…

Penulis: Dian Aulia Citra Kusuma. Mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika.