Kutunggu Waktu Kembali Bagian 3

0
807

Tidak ada yang tahu kemana perginya anak-anaknya yang lain. Hanya ada aku dan kakak kandungku yang menemani Ibu. Sisanya sudah pergi bersama istri maupun suami masing-masing. Mereka tak pernah pulang sejak masing-masing punya pasangan, kecuali kakakku yang memang memutuskan untuk tetap tinggal bersama Ibu dan suaminya yang jadi kuli batu tak jauh dari tempat tinggal kami.

Tak ada yang pernah mengirimi kabar. Sementara ibuku, wanita renta yang diselimuti oleh kesahajaan itu, selalu terbangun di dua pertiga malam, menjunjung doanya ke langit, memohon pada Yang Maha Pengasih untuk selalu melindungi anak-anaknya di manapun mereka berada. Tak jarang pula Ibu menangis pilu ditemani dinginnya udara hingga badannya menggigil dan membangunkan tidurku. Seringkali aku mengumpati anak-anak durhakanya dan berjanji untuk menemui mereka semua yang sudah lupa pada siapa mereka dulu berasal.

Hari itu datang juga. Aku dipertemukan dengan Abang pertamaku yang sudah jadi mandor di kota tanpa sengaja pada suatu sore. Kemarahan itu semakin memuncak tatkala dengan pongahnya ia bertanya siapa diriku. Jika saja aku tidak ingat bagaimana khusuknya Ibu ketika berdoa, sudah pasti aku akan mengantarnya pada malaikat pencabut nyawa. Hari itu aku tahan. Aku sabarkan diri dan bilang padanya bahwa Ibu merindukannya, lantas meninggalkannya begitu saja.

 

Penulis: Dian Aulia Citra Kusuma. Mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika.