Membaca Kisah Cinta Para Remaja yang Tak Biasa

0
176

Judul                     :Norwegian Wood

Pengarang          :Haruki Murakami

Penerjemah        : Jonjon Johana

Cetakan                :Kelima, Februari 2015

Penerbit               :Kepustakaan Gramedia Populer (KPG)

Tebal Halaman : iv + 423

 

Kisah cinta remaja bagaikan sebuah gudang yang menyimpan sejuta kejutan di dalamnya. Juga seperti labirin yang memiliki ratusan pintu yang sewaktu-waktu dapat menyesatkan, dan di satu kesempatan memberi pintu keluar yang sukar ditemukan.

Pengisahan cinta remaja dalam sebuah karya selalu menarik dan populer untuk diangkat. Kerumitannya selalu mengundang decak penasaran pembaca. Akhir cerita yang ditunggu kadang bagai dua bilah mata pisau yang berdampingan. Menghanyutkan lalu mengecewakan atau biasa saja lalu menghentak.

Norwegian Wood karya Haruki Murakami menampilkan hal ini. Kisah asmara para remaja yang rumit, pelik dan tentunya juga kompleks disuguhkan pada para pembaca dalam buku ini. Dimulai dari ingatan yang terlempar pada sebuah kenangan masa remaja yang unik. Kenangan itu kemudian berlanjut dan berkembang menjadi sebuah cerita yang menarik.

Murakami menaruh Toru Watanabe seorang pemuda yang ditampilkan sebagai pemuda yang kalem dan neka-neko tetapi telah meniduri banyak gadis sebagai pusat dalam cerita ini. Watanabe yang jadi titik perhatian para pembaca lantas dibuat oleh Murakami terseret pusaran hasratnya pada perempuan-perempuan yang hadir dalam hidupnya. Membuat para pembaca otomatis ikut dalam narasi yang dicipta oleh Murakami dalam ingatan Watanabe.

Kompleksitas cerita khas anak muda dalam buku ini terlihat jelas. Watanabe mencintai Naoko, seorang gadis perempuan yang jiwanya terganggu akibat belahan jiwanya, Izuki yang juga merupakan teman Watanabe bunuh diri. Saat Watanabe menanti kesembuhan Naoko, dia dikagumi oleh seorang gadis genit, nakal dan cantik bernama Midori. Tapi Watanabe tak sanggup untuk menerima cinta Midori disebabkan ia masih menunggu pulihnya Naoko yang tak lain adalah cinta pertamanya. Tak dapat diterka, Watanabe yang terjerat cinta segitiga itu malah tidur dengan seorang janda tua di akhir cerita.

Murakami menyajikan kompleksitas dengan lihainya dalam cerita ini. Banyak tokoh yang datang dan pergi berhubungan dengan Watanabe, namun pada akhirnya cerita ini tetap berputar pada cinta segitiga yang mengitari sang tokoh utama. Realisme yang ditawarkan Murakami dalam Norwegian Wood memberi para pembaca gambaran yang kurang lebih sama saat kondisi 1970-an di Jepang. Para pembaca muda akan membayangkan dengan idealnya, sedangkan para pembaca tua akan bernostalgia dengan sedikit tambahan sentuhan liar Murakami dalam pengilustrasiannya.

Buku ini secara keseluruhan memberikan sketsa kehidupan para remaja Jepang diawal 1970-an. Kondisi sosial-politik, ekonomi turut diceritakan oleh Murakami agar latar cerita tak tenggelam oleh dominasi kisah cinta dalam buku ini. Hal-hal ini tak lantas membuat buku ini tak semata kisah cinta-cintaan remaja Jepang di masa itu, namun juga sebagai sarana bertamasya ke Jepang di waktu dahulu, di latar cerita ini.

Haruki Murakami sebelum memutuskan mengangkat pena dan berprofesi sebagai penulis adalah seorang pengelola klub musik. Latar belakangnya sebagai pengelola klub musik itu dapat ditilik dari buku ini yang kerap kali memberi referensi-referensi musik yang tak biasa. Contoh paling dekat adalah judul buku ini, yang ternyata merupakan judul lagu yang sama dan dikarang oleh band legendaris asal Inggris, The Beatles. Selain itu, sering kita jumpai judul-judul lagu yang mungkin akan asing di telinga para pecinta musik di Indonesia kebanyakan.

Wawasan Murakami atas kedalaman literaturnya juga bocor dalam buku ini. Watanabe diceritakan Murakami sebagai seorang yang gila buku. Dan pegangan-pegangan bukunya pun tak tanggung-tanggung. Dari bapak realisme Inggris, Joseph Conrad, pendongeng legendaris Charles Dickens, Penyair klasik Herman Hesse, sampai pelopor sastra modern Rusia Leo Tolstoy.

 

Penulis adalah Muhammad Taufik. Mahasiswa Fakultas Psikologi UMS.