Kutunggu Waktu Kembali Bagian 4

0
144

Aku menunggunya, tapi ia tidak berkunjung pada malam harinya, atau esok harinya hingga berminggu-minggu lamanya.

Aku datangi ia sekali lagi di tempat yang sama ketika dulu kami bertemu. Sifatnya tak berubah dari terakhir kali kami bertemu, membuatku lepas kendali. Kemarahan itu semakin membara. Tanpa kenal tempat, aku menyerangnya membabi buta. Emosi telah membentuk kabut dalam mataku hingga akal sehatku sudah tidak berguna lagi. Sungguh, jika tak orang yang melihat dan memisahkan kami, barangkali aku sudah benar-benar mengantarnya pada sang malaikat maut dan memasukkannya ke dalam neraka.

Wajah kami berdua sama-sama babak belur, tapi keadaannya lebih parah dariku. Ini menyenangkan. Tahu begitu, jauh-jauh hari sebelum hari ini aku sudah memukulinya. Ia menatapku murka, dan berteriak garang bahwa ia akan melaporkanku pada pihak yang berwajib. Kujawab dengan santai waktu itu begini: “Silakan saja, laporkan saja aku pada mereka, tapi kamu perlu ingat, bahwa Yang ada di Atas Sana tidaklah buta, tidaklah tuli, dan tahu mana yang benar mana yang salah. Kamu boleh saja menggantungkan hidupmu pada hukum dunia, silakan, aku tak takut! Aku, dan Ibumu yang melahirkanmu dan merawatmu hingga jadi begini, kami sama-sama tahu, bahwa Yang Maha Pencipta adalah pemilik hukum yang hakiki di mana pun makhluk-Nya berada.”

Aku pulang dengan bahagia hari itu. Tidak lupa bilang pada Ibuku yang menatapku cemas melihat keadaanku, bahwa anak-anaknya yang lain telah mati, dilindas oleh dunia yang fana ini, dan tubuh mereka kini jadi tempat persemayaman para setan.

 

Aku menunggunya, tapi ia tidak berkunjung pada malam harinya, atau esok harinya hingga berminggu-minggu lamanya.

 

Aku datangi ia sekali lagi di tempat yang sama ketika dulu kami bertemu. Sifatnya tak berubah dari terakhir kali kami bertemu, membuatku lepas kendali. Kemarahan itu semakin membara. Tanpa kenal tempat, aku menyerangnya membabi buta. Emosi telah membentuk kabut dalam mataku hingga akal sehatku sudah tidak berguna lagi. Sungguh, jika tak orang yang melihat dan memisahkan kami, barangkali aku sudah benar-benar mengantarnya pada sang malaikat maut dan memasukkannya ke dalam neraka.

 

Wajah kami berdua sama-sama babak belur, tapi keadaannya lebih parah dariku. Ini menyenangkan. Tahu begitu, jauh-jauh hari sebelum hari ini aku sudah memukulinya. Ia menatapku murka, dan berteriak garang bahwa ia akan melaporkanku pada pihak yang berwajib. Kujawab dengan santai waktu itu begini: “Silakan saja, laporkan saja aku pada mereka, tapi kamu perlu ingat, bahwa Yang ada di Atas Sana tidaklah buta, tidaklah tuli, dan tahu mana yang benar mana yang salah. Kamu boleh saja menggantungkan hidupmu pada hukum dunia, silakan, aku tak takut! Aku, dan Ibumu yang melahirkanmu dan merawatmu hingga jadi begini, kami sama-sama tahu, bahwa Yang Maha Pencipta adalah pemilik hukum yang hakiki di mana pun makhluk-Nya berada.”

 

Aku pulang dengan bahagia hari itu. Tidak lupa bilang pada Ibuku yang menatapku cemas melihat keadaanku, bahwa anak-anaknya yang lain telah mati, dilindas oleh dunia yang fana ini, dan tubuh mereka kini jadi tempat persemayaman para setan.

 

 

Bersambung…

 

Penulis adalah Dian Aulia Citra Kusuma. Mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika.