Kutunggu Waktu Kembali Bagian 5

0
142

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu hujan air mata itu turun, perlahan hingga menderas sampai menggetarkan tubuhnya, juga jiwaku. Ia mendekapku erat-erat, dan aku membalasnya lebih erat. Itu adalah pelukan pertama kami. Tubuh kami tak lagi berjarak, ada kehangatan yang menyeruak di antara getirnya kehidupan yang menyelimuti kami.

Malam harinya, selepas makan malam, dua orang polisi datang ke rumah gubuk kami dan menangkapku, menggiringku ke kantor mereka, diinterograsi, ditanyai ini-itu, dan berakhir dengan mengantarku ke ruangan ini, terkunci di dalamnya hingga saat ini kecuali di hari-hari tertentu.

Waktu benar-benar berlari kencang, tapi ia tinggalkan kenangan-kenangan itu bersamaku.

Kadang kakakku datang, membawa serantang makanan masakannya dan menemaniku makan sambil bercerita bagaimana kehidupan Ibu dan dia selanjutnya. Betapa sepinya rumah ketika Ibu jadi jarang bernyanyi dan hanya melamun saja saban hari, ruang tengah jadi lengang ketika makan malam tiba dan tidak ada aku di sana, atau saat malam tiba dan hanya ada suara jangkrik tanpa bunyi dengkuran dariku, padahal aku tahu bahwa aku tak pernah tidur sambil mendengkur.

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu hujan air mata itu turun, perlahan hingga menderas sampai menggetarkan tubuhnya, juga jiwaku. Ia mendekapku erat-erat, dan aku membalasnya lebih erat. Itu adalah pelukan pertama kami. Tubuh kami tak lagi berjarak, ada kehangatan yang menyeruak di antara getirnya kehidupan yang menyelimuti kami.

 

Malam harinya, selepas makan malam, dua orang polisi datang ke rumah gubuk kami dan menangkapku, menggiringku ke kantor mereka, diinterograsi, ditanyai ini-itu, dan berakhir dengan mengantarku ke ruangan ini, terkunci di dalamnya hingga saat ini kecuali di hari-hari tertentu.

 

Waktu benar-benar berlari kencang, tapi ia tinggalkan kenangan-kenangan itu bersamaku.

 

Kadang kakakku datang, membawa serantang makanan masakannya dan menemaniku makan sambil bercerita bagaimana kehidupan Ibu dan dia selanjutnya. Betapa sepinya rumah ketika Ibu jadi jarang bernyanyi dan hanya melamun saja saban hari, ruang tengah jadi lengang ketika makan malam tiba dan tidak ada aku di sana, atau saat malam tiba dan hanya ada suara jangkrik tanpa bunyi dengkuran dariku, padahal aku tahu bahwa aku tak pernah tidur sambil mendengkur.

 

Bersambung…

 

Penulis: Dian Aulia Citra Kusuma. Mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika.