Kutunggu Waktu Kembali Bagian 6

0
123

Hingga di suatu hari di musim penghujan, ia datang lagi dan bilang bahwa ibu sedang sakit-sakitan. Badannya semakin kurus dan sudah tidak begitu kuat untuk berjalan. Ia bilang bahwa ibu selalu memohon padanya agar bisa ikut menjengukku.

Sejak aku tinggal di sini, tak pernah sekalipun aku mengizinkan ibu datang menjengukku. Aku malu. Aku tak mau melihat kekecewaan di kedua matanya karena anak bungsunya kini mendekam di balik penjara dan mungkin selamanya akan membujang. Aku juga takut bila kami bertemu, aku tak akan mau lagi berpisah darinya. Dengan segenap jiwaku, sungguh-sungguh aku mengaku bahwa aku mencintainya, lebih mencintainya daripada mencintai diriku sendiri.

Kakakku terus memaksa karena Ibu semakin memaksa dalam keadaannya yang semakin parah. Pada kesempatan itu, akhirnya aku menyetujuinya. Di siang hari, ketika hujan mulai jarang menerjang Bumi, Ibu datang bersama kakakku dan suaminya.

Aku melihat wanita itu sekali lagi. Jauh berubah dari ingatanku tentang dirinya terakhir kali. Padahal kupikir, baru kemarin sore aku meninggalkannya di rumah bersama kakakku beserta suaminya. Tatkala mata kami bersinggungan, ada binaran bahagia di dalam matanya yang kelabu. Ia peluk tubuhku erat-erat, menenggelamkanku dalam kasih sayangnya yang tiada batas itu. Aku dengar ia terisak dalam pelukku, hingga punggungnya menggigil karena kesedihan yang ia bawa. Ia ungkapkan perasaan rindu di antara sedu-sedannya, yang turut serta menyeretku ke dalam tangis penuh sayangnya itu.

 

Bersambung…

Penulis adalah Dian Aulia Citra Kusuma. Mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika.