Kutunggu Waktu Kembali Bagian 7

0
144

Pelukan ini mengingatkanku pada hari terakhir ketika aku tinggal bersamanya di gubuk tua tempat tinggal kami. Ini pelukan kami yang kedua, sama-sama ditemani oleh tangis, sama-sama dikerubungi oleh kepahitan juga kehangatan dari kasih sayang.

Rupanya, pelukan itu adalah pelukan terakhir kami setelah akhirnya ibu meninggal satu minggu kemudian sehabis datang berkunjung.

Hari-hariku jadi semakin tak menarik dan kuharap untuk selamanya aku akan tinggal di sini.

Waktu benar-benar berlari kencang, dan kuharap ia datang kembali agar aku bisa lebih dekat dengan wanita berhati baja itu. Akan aku hujani ia dengan kasih sayang tulusku tiap hari, tanpa menyembunyikan rasa dan kuutarakan semua cintaku padanya, kupeluk dan kukecup ia di kala kami menghabiskan waktu bersama, menemaninya mendendangkan lagu-lagu jawa favoritnya, dan aku buat ia jadi wanita paling bahagia di dunia.

Tapi, waktu tak akan kembali dan tak ada gunanya pula ia kembali. Garis hidup sudah begini dan tak sepatutnya penyesalan itu ada.

Aku hanya rindu. Itu saja.

Waktu bergulir cepat, remaja tanggung di sebelahku terbatuk. Sebentar kemudian, matanya membuka dan kami saling bertatapan. Aku memberinya seulas senyum, lantas ia balas dengan anggukan sembari mendudukkan badan.

“Kenapa Abang menangis?” itulah pertanyaan pertama yang keluar dari suara seraknya.

 

Selesai…

Penulis adalah Dian Aulia Citra Kusuma. Mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika.