Alpha Karenina Bagian 2

0
164

“Kenapa kabur?” tanpa ada pertimbangan dari otak, pertanyaanku itu lolos begitu saja.

Karen lantas tertawa dalam dengus. “Kabur? Siapa yang kabur? Cuma nyari angin aja.”

Hening mendominasi kembali, setelah tiga puluh menit diskoneksi yang kami lakukan dari keramaian, alunan musik juga denting gelas-gelas; dari orang-orang yang sedang larut merayakan bersatunya dua insan. Ah, bukan berarti aku membenci pesta pernikahan yang banyak dihadiri juga oleh teman-temanku semasa SMP ini. Hanya saja, insting alami introverku sedang ingin mencari ketenangan usai mengikuti prosesi utamanya cukup lama. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tidak sengaja bertemu Karen di sini membuat pikiranku jauh lebih gaduh.

“Kamu sendiri? Kenapa nggak ikut seneng-seneng di dalam? Hari bahagianya mantan temen sebangku lho… kok malah galau di sini?”

“Siapa yang galau?” tukasku.

“Jangan bohong deh, kapan nyusul nikah?” Karen tersenyum jahil.

Aku memberinya tatapan malas dan ia pun terkekeh. Entah kenapa jantungku berdetak tidak normal untuk beberapa saat. Segera saja, kutandaskan minuman lemonku ketika merasai tenggorokan yang mendadak kering.

 

Bersambung…

Penulis adalah Desynta Putri Brilliany. Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Cerpen pemenang lomba Milad 39 Tahun LPM Pabelan. Pernah dimuat di Majalah Pabelan Edisi Agustus 2016