Alpha Karenina Bagian 1

0
190

Terakhir kali aku menghabiskan waktu bersama Karen adalah lima belas tahun yang lalu, saat ia menyeretku dengan paksa dalam rencana gilanya menyelinap di Planetarium Taman Ismail Marzuki pukul 11 malam. Dulu, gadis bersurai panjang yang selalu mengenakan baseball cap itu memang kukenali sebagai sosok militan jika berhubungan dengan luar angkasa. Ia terobsesi dengan semesta dan benda-benda langit di dalamnya. Dan percayalah, tak ada yang lebih melelahkan dibandingkan berteman dengan seorang gadis impulsif yang tiap pagi mendobrak jendela kamarmu, menyodorkan ensiklopedia astronomi yang tebalnya tidak manusiawi, lalu menceramahimu tentang fakta planet Venus—yang terlalu panas bukan karena jaraknya lebih dekat dengan matahari, melainkan karena atmosfernya sendiri yang tertutup total dengan awan asam sulfat. Ya. Aku ingat betul, saat itu mataku bahkan belum terbuka, juga sebenarnya tak paham dengan apa yang ia racaukan. Bagaimana mungkin aku bisa memahaminya, jika kapasitas maksimal otakku saat itu hanya cukup untuk menampung hafalan urutan planet Mer-Ve-Bu-Mar-Yu-Sa-U-Nep-To saja?

Pun ternyata aku salah, mengira bahwa saat itu adalah benar-benar kesempatan terakhirku melihat Karen. Tepatnya di malam ketika kami kabur dari losmen, tempat di mana rombongan dari sekolah kami menginap, kemudian sembunyi-sembunyi mengadakan ‘tur tambahan’ di gedung planetarium dengan gelagat mencurigakan seperti ninja. Yang alasannya tak lain adalah karena gadis itu belum cukup puas mengamati keindahan Pleiades, sebuah klaster di konstelasi Taurus dengan tujuh bintangnya yang sangat terang. Awalnya semua berjalan mulus, sampai seorang penjaga memergoki kami di ruang pertunjukan film dan melapor pada guru pendamping kami. Aku dan Karen pun dihukum mengerjakan tugas tambahan, dan sejak saat itu, aku tak pernah melihat gadis itu lagi. Tidak saat acara perpisahan sekolah, maupun tahun-tahun setelahnya. Namun siapa sangka lima ribu empat ratus hari kemudian, aku dan Karen berjumpa lagi. Sekarang, di balkon ini, dengan hiruk pikuk pesta di balik punggung kami.

 

Bersambung…

Penulis adalah Desynta Putri Brilliany. Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Cerpen pemenang lomba Milad 39 Tahun LPM Pabelan. Pernah dimuat di Majalah Pabelan Edisi Agustus 2016