Alpha Karenina Bagian 6

0
193

“Ya, kurasa semua orang punya sosok yang dijadikan teladan agar mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Wanita-wanita seperti itulah yang menjadi inspirasi untukku. Seperti, yah… Marie Curie, Anna Magdalena, Melinda Gates, Aisyah, juga Kartini. Bagiku, mereka itu seperti bintang-bintang di angkasa. Kau tahu, kan? Orang-orang zaman dulu menggunakan pola bintang sebagai petunjuk perubahan musim, juga sebagai kompas. Wanita-wanita itu adalah rasi yang terlukis di angkasa yang diperuntukkan untukku, seorang gadis yang mencari arah di tengah bentangan samudera kehidupan,”

“Wih, puitis!”

“Aku tahu!” Karen terbahak.

“Harusnya kamu yang jadi penulis!”

“Terus kamu mau jadi astronot, gitu? Mana ada astronot takut ketinggian?!”

“Sial—eh, tapi benar juga.”

Melihat aku dan Karen yang bercanda lepas seperti ini, kurasa tak akan ada yang percaya kalau umur kami sudah 29 tahun. Yang berarti sama dengan satu kali kala revolusi Jupiter mengelilingi matahari, seperti kata Karen suatu hari.

“Entahlah, sekarang aku masih fokus untuk terus mengembangkan diriku. Biar seperti sebuah quote yang pernah kubaca: aku tak perlu menunggu sampai pangeran tampan berkuda putihku datang, karena aku sudah punya kudaku sendiri. Jadi, jika ada seseorang yang mengatakan bahwa pekerjaanku sebagai peneliti NASA ini adalah alasan mengapa aku tak kunjung menikah, mereka salah besar. Bukankah Entitas Yang Maha Agung menciptakan manusia di dunia ini berpasang-pasangan? Itu sudah jelas. Kenapa orang-orang itu masih saja repot? Kenapa sih, nggak ada yang mengerti jalan pikiranku?”

 

Aku mengerti. Karenina, aku mengerti.

Akan kupastikan untuk perlahan mereduksi jarak yang ada. Jarak kita yang sejauh satu meter ini, ditambah sepuluh ribu tahun cahaya.Bottom of Form

 

Selesai…

Penulis adalah Desynta Putri Brilliany. Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Cerpen pemenang lomba Milad 39 Tahun LPM Pabelan. Pernah dimuat di Majalah Pabelan Edisi Agustus 2016