Pemegang Realita Cinta Bagian 1

0
198

PRAK!

Aku membuang kaleng soda keduaku pada tempat sampah di ujung kamar dengan lemparan sempurna. Kepalaku rasanya kembung seperti perutku yang membuncit. Pekak dengan suara ayah yang terus mencoba merayuku untuk membatalkan sesuatu yang telah lama kurencanakan, aku menutup telingaku rapat-rapat dengan bantal meski sayup suaranya masih tersaring di gendang. Puh, aku tidak akan luluh semudah itu!

*

Nasi goreng telur dan udang tepung menemani sarapan pagi di akhir pekanku kali ini. Sengaja benar aku mengawali makan di hari libur ini. Aku bahkan sudah memberi gel pada rambutku dan menyisirnya rapi. Aku harus segera pergi sebelum …

“Airlangga!”

Uhuk! Kuteguk air putih cepat-cepat. Aku sangat mengenali suara berat dan aroma kopi yang menguar ini.

“Berapa kali Ayah ingatkan? Ayah bisa dipecat kalau kamu benar-benar akan mengadakan demo di pabrik. Kamu tahu sendiri, Ayah adalah kepala yang menangani masalah limbah. Sudahlah, tidak ada lagi solusi untuk Bengawan Solo, tidak ada. Lucu sekali jika ayah dan anak tidak bisa bekerja sama, kan? Bukankah kau ingin kamera baru?”

Masih dengan mata berair dan teng-gorokan yang terasa panas karena tersedak, aku menyambar jaketku, tak lupa meraih kunci motor. Lupakan soal nasi goreng yang bahkan belum tersentuh separuhnya, me-ninggalkan omelan ayah kali ini adalah pilihan yang sangat tepat.

“ANGGA! Jangan pernah pergi saat orang tua sedang berbicara!”

*

Kantor mahasiswa pecinta alam sudah dipenuhi para anggota yang sedang sibuk mencorat-coret kertas dan spanduk yang akan kami bawa untuk demo pada hari Senin besok, tiga hari lagi. Tulisan seperti, ’We love Benga-wan Solo’, ‘Kembalikan sungai kami!’, dan tulisan-tulisan lainnya menyengat hatiku dan membuat semangatku kembali tumbuh.

 

Bersambung…

 

Penulis adalah Fa Rahma. Tulisan pernah dibuat di Tabloid Pabelan Pos Edisi 110.