HomeSerba-serbiCerpenKisah Putri dan Cangkirnya

Kisah Putri dan Cangkirnya

Kisah Putri dan Cangkirnya

Aku suka di sini. Di rumah ini. Di beranda rumah sambil menyambut pagi di pukul setengah enam. Lalu kembali menyambut lagi ketika matahari harus turun dari singgasananya.

Aku suka di sini. Di rumah ini. Di beranda rumah yang sederhana dengan sepasang meja kursi dari rotan. Aku suka ketika ia menemaniku sambil bersenandung, terkantuk-kantuk terbawa angin, atau terkadang menyibukkan diri dengan buku bacaannya.

Aku menyebutnya Putri. Karena dia adalah gadis termanis yang pernah aku tahu dalam rumah ini. Usianya barangkali sudah lima belas, atau enam belas, aku tidak begitu tahu. Di beranda rumah ini, pertama kali ia menaruh perhatian padaku. Neneknya dengan tanggap memberitahu siapakah aku. Kala itu, giginya baru tumbuh satu dan suka mengoceh dalam gendongan seorang perempuan muda yang merupakan penjaganya.

Aku senang sekali saat itu. Belum pernah aku melihat orang yang begitu tertarik padaku selain kakeknya yang sudah sakit-sakitan diusia senjanya.

Tapi, di suatu pagi ketika hujan turun rintik-rintik, ia tidak keluar dari kamarnya dan tidak menemuiku seperti biasanya. Dengar-dengar, ia terus mengurung diri di kamar. Bahkan hingga keesokan harinya. Ia tidak menjemputku seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi. Ia membuatku menunggu di antara kejengkelan dan kecemasanku. Ia membuatku berspekulasi ini-itu setelah tiga pembantunya bergunjing tentang perkelahian kedua orang tuanya semalam hingga saling mencaci-maki.

Sungguh cemas aku dibuatnya.

Seribut apa pun ia dengan orangtuanya, tidak pernah ia sampai melupakanku. Atau, setidaknya, menyesap apa yang ada dalam tubuhku. Apalagi sampai mengurung diri dan tidak menjamah beranda rumahnya yang menenangkan.

Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Aku dibuat rindu. Ia tidak juga keluar dari ruang kamarnya. Aku dibuat lagi seperti ini, setelah ditinggal oleh kakeknya yang mati dan disusul oleh neneknya beberapa bulan kemudian. Sungguh, tidak ada lagi yang peduli padaku selain dia saat ini.

Hingga, hari itu akhirnya tiba. Satu minggu yang rasanya seperti satu tahun bagiku. Dia berkunjung ke dapur, menengokku, membelai tubuhku sebentar, mengisinya dengan satu sendok gula dan air panas hingga penuh, ditutup dengan satu teh celup wangi rasa lemon favoritnya. Oh, sungguh senangnya!

Baru aku tahu, bahwa saat itu waktu sudah tengah malam. Ia membawaku ke balkon kamarnya, meletakanku di atas meja kayu sementara ia duduk dengan mata dipejamkan. Ia tidak membawaku ke beranda rumah ini, beranda rumah yang selama ini menjadi tempat kebersamaan kami.

Ini pertama kalinya ia membawaku ke balkon kamarnya, juga pertama kalinya aku mengunjungi sisi lain dari rumah ini selain dapur dan beranda rumah. Tidak buruk, di langit ada bulan sabit dan beberapa bintang yang kerlap-kerlip. Tak apa, asal dia mau menghabiskan waktunya bersamaku, dimana pun tempatnya, aku bahagia.

Lama, hingga akhirnya ia mengeluarkan suara. Suaranya serak, beda dari biasanya yang terdengar lembut dan menenangkan. Ketika kelopak matanya terbuka, mata yang biasa berbinar itu merah dan berkaca-kaca. Tak lama, dari sudutnya meneteskan air mata. Aku terpana.

Kalau boleh bertanya, kamu itu kenapa?

“Aku rindu pada Eyang Kakung dan Eyang Putri,” seolah mendengar pertanyaanku, ia bergumam. Matanya menerawang pada rembulan.

Helaan napas kemudian terdengar. Ia menoleh padaku, menelusuri tepi tubuhku dengan ujung jari telunjuknya.

“Kamu adalah satu-satunya yang mereka sayang. Iya, kan?,”

Ah, benar begitu. Lalu apa? Kenapa? Kenapa kamu bicara seperti ini? Kamu tidak pernah bicara padaku sebelum ini.

“Aku ingin sepertimu, disayang oleh kedua Eyangku. Seolah kamu adalah anaknya. Aku ingin seperti itu. Aku juga ingin menjadi anak. Maksudku, seseorang yang disayang oleh orang yang lebih tua dariku. Maksudku… maksudku….”
Dia tergugu di antara ucapannya yang belum usai. Jari pada tepian tubuhku itu bergetar mengikuti kedua bahunya. Ia tak kuasa untuk menyelesaikan ucapannya sebelum akhirnya tangis itu pecah dan berubah jadi sesenggukan hingga napasnya tersengal.

Oh Putri, ada apa dengan dirimu hari ini? Pun dengan kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi? Apa yang telah membuat gadis secantik dirimu menangis seperti ini? Siapa yang telah mematahkan hatimu dan memecah kantong air matamu, Putri?

“Maaf, maafkan aku. Tidak seharusnya aku begini. Aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi, tidak, tidak lagi. Maaf,” ia terus mengucap maaf, sementara kedua tangannya sibuk mengusap wajahnya yang banjir air mata.

“Aku rindu semuanya. Rindu nyanyian Eyang Putri dengan tembang Jawanya, rindu permainan seruling Eyang Kakung meskipun lagunya hanya itu-itu saja. Juga rindu ketika Mama menemaniku mengerjakan PR sewaktu SD. Aku juga rindu suara tawa Papa. Sejak hasil tes itu muncul, Papa berubah. Papa sudah tidak menganggapku lagi. Aku tidak terlihat lagi dalam matanya,”

Ada jeda panjang dari pembicaraannya. Aku kebingungan, dia penyebabnya. Apa maksud dari ucapannya itu?

“Kamu tahu,” ujarnya. Tatapannya menerawang jauh menembus malam yang pekat. Belum pernah aku melihat sosoknya sekelam ini. “Aku rindu momen-momen itu. Maksudku, aku ingin sekali kembali ke masa-masa itu. Kembali ketika Eyang Kakung belum sakit-sakitan dan begitu pula dengan Eyang Putri. Tapi itu sudah empat tahun yang lalu, bukan? Lama, terlalu lama, lama sekali. Setidaknya, aku ingin kembali ke masa ketika keadaan orangtuaku tidak seperti ini. Maksudku… maksudku….”

Gadis malang itu tersedak oleh tangisnya sendiri. Ia terbatuk sebentar, napasnya semakin tersengal.

Minumlah Putri, minumlah teh yang ada dalam tubuhku ini, minuman favoritmu.

Kalau boleh jujur, aku pun rindu pada momen-momen itu. Momen-momen sebelum keributan-keributan itu dimulai, tidak ada caci makian, tidak ada bunyi barang-barang pecah, tidak ada tangisan, tidak ada hari ini ketika Putri menangis di hadapanku seperti ini. Oh Putri, kalau saja bisa, sudah aku peluk tubuh mungilmu itu sedari tadi.

“Kamu tahu apa masalahnya? Kamu tahu?,” ia memberi jeda lagi pada ucapannya, kembali mengusap air matanya yang tampaknya tidak bisa berhenti.

“Mereka bertengkar karena aku. Karena aku. Mereka saling tidak terima, mereka saling menuduh, mereka saling menyumpahi, saling mengutuk menggunakan bahasa yang mengerikan. Kamu tahu, padahal dulu merekalah yang mengajarkanku untuk tidak berkata-kata demikian.

Salahku, kan? Memang aku yang salah, kan? Benar kata Papa, tidak seharusnya aku lahir di dunia ini, tidak seharusnya aku hidup dan merasakan kasih sayang darinya. Harusnya aku mati, di aborsi oleh Mama, dan tidak merusak kebahagiaan mereka.

Aku sudah memikirkannya, aku sudah memikirkannya satu minggu ini, sejak Papa berkata demikian. Aku memang tidak pantas lahir. Aku anak haram. Aku adalah sumber kesedihan Mama. Aku merusak kehidupannya yang begitu sempurna.
Entah siapa bapakku, dia adalah bajingan yang tertarik dengan paras Mama. Aku pantas mati dan tidak boleh hidup. Ya, ya, aku harus mati. Untuk apa aku hidup? Aku ada karena Mama diperkosa, aku ada tanpa ada yang menghendaki. Aku pantas mati!,”

Menyaksikannya jatuh terduduk dari kursi dengan tangisan hebatnya membuatku semakin sakit. Terlebih dengan ucapannya yang membuatku kaget bukan kepalang.

Terpecahlah semua misteri yang selama ini membuatku ingin tahu.

Sekarang aku mengerti alasan mengapa dulu, neneknya menyuruh anaknya cepat-cepat menikah dengan kekasihnya ketika masih duduk di bangku kuliah. Pun alasan mengapa dulu wanita yang mengandung Putri dalam rahimnya hampir mengalami keguguran karena stres berat, barangkali takut jika suaminya akan mengetahui rahasianya.

Ah, semuanya terjawab.

Papanya mungkin tahu rahasia istrinya setelah mendapati bahwa golongan darah Putri tidak sama dengan dirinya ataupun istrinya, lantas mencoba untuk menyelidikinya lebih lanjut. Kalau tidak salah, Putri memberitahu jenis golongan darahnya kepada kedua orangtuanya begitu sekolah mengadakan tes golongan darah massal.

“Bisa jadi, ini adalah pertemuan terakhir kita. Atau, kamu mau bergabung denganku?” suara itu makin terdengar merana di antara tiupan angin malam yang berdesir lembut.

Tentu saja aku tidak bisa menjawab. Aku tidak punya mulut yang dapat mengeluarkan suara. Ia jatuhkan diriku dari meja. Cairan dalam badanku berceceran kemana-mana. Badanku apalagi, hancur jadi kepingan tajam.

Oh Putri, kamu apakan diriku ini? kamu hendak melakukan apa, Putri?

Aku tidak tahu mana yang paling menyakitkan, tahu bahwa dialah yang akhirnya membunuhku setelah bertahun-tahun aku hidup bersama keluarganya, atau akulah yang telah membunuhnya dengan mengiris urat nadinya menggunakan kepingan tubuhku. []

Penulis: Dian Aulia Citra Kusuma

Mahasiswi Program Studi Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

Rate This Article

lpmpabelanums@gmail.com

No Comments

Leave A Comment