HomeSerba-serbiOpiniTernyata Benar, Kemajuan Itu Mahal

Ternyata Benar, Kemajuan Itu Mahal

Ternyata Benar, Kemajuan Itu Mahal

“Untuk meningkatkan profesional dan branding UMS di mata orang luar, gimana kalo kita pakai gedung Walidah aja, sekalian memperkenalkan gedung baru kita gitu.”

“Eh tapi, kalo gak salah, bayar 200ribu per jam deh.”

“Kalo kita pakai 8 jam, berarti 1,6juta dong?”

“Mahal banget, yaudah deh kita pakai ruang kelas aja, kayak tahun-tahun kemarin.”

*

Maka tidak heran jika rilis Ristekdikti menempatkan UMS pada poin 0,0 dalam kegiatan kemahasiswaan yang artinya ‘begitu-gitu saja’ wong dalam kemajuan dan ikhtiar kita mengembangkan kegiatan kemahasiswaan dibatasi. Ini sama halnya seperti anak bayi yang menyusu kepada Ibunya, ia setiap minggunya meminum berliter-liter ASI yang kemudian ketika ia telah besar, ibunya berkata, “Nak, dulu kamu sewaktu kecil sudah minum banyak ASI ibu, jika dihitung-hitung kamu harus membayar 30.000 per liter, maka sekarang totalnya… (masing menghitung).”

 

Namun nyatanya, tidak ada ibu yang tega untuk berlaku seperti itu.

 

Dan UMS, tempat di mana mahasiswa bernaung, mempercayakan pengelolaan uangnya untuk diatur sedemikian rupa demi kemaslahatan bersama nyatanya masih meminta untuk anak-anaknya membayar sewa gedung-gedungnya, wis anak-anaknya uang sangu-nya kurang, lha ini masih ditambah bayar pajak (saya yakin, siapapun anaknya pasti menangis). Aih, saya baru tahu kalau dalam rangka memajukan dunia pendidikan dan kemahasiswaan ada Pajak Menggunakan Bangunan.

 

Sebenarnya berdasarkan fakta, dulu waktu tahun 2015, pembayaran semacam ini sudah ada, ketika itu biaya sewa Auditorium Djazman sebesar Rp. 500.000,-, belum ditambah biaya staff dan pasang taman. Eh sekarang, semakin naiknya angka tahun pada penanggalan masehi (dan tentunya ‘iuran’ masuk UMS) ternyata biaya sewanya makin melonjak ya, saya benar-benar ingin (memaksakan) tersenyum. Karena bukan tidak mungkin, ketika gedung sudah bisa disewakan, nanti suatu saat, dengan alasan untuk menekan laju kendaraan bermotor di UMS, setiap mahasiswa yang membawa motor dikenakan biaya parkir. Dyar!

 

Tapi, tidak apa-apa (karena kita bisa apa?), kan kata Bapak Kennedy, “Tujuan dari pendidikan adalah ilmu pengetahuan dan penyebaran kejujuran.” Untuk tujuan pendidikan yang pertama saya yakin, ruang kelas, ruang organisasi dan ruang-ruang diskusi sudah mengajarkan kita apa artinya ilmu pengetahuan. Untuk tujuan kedua mengenai penyebaran kejujuran tentu dibangun dari pola, transparansi, sikap, dan perilaku. Nah, nuhun pak, bu, kalau boleh tahu kan yang sewa gedung UMS banyak, alhamdulillah pendapatan dari gedung juga bertambah. Berkaca pada kotak tromol Jum’atan yang setiap masjid pun sebelum khotbah selalu memaparkan pendapatan, pengeluaran, dan pemakaiannya. Apakah bisa (sekali lagi maaf), untuk kami tahu sebenarnya landasan filosofis lengkap dan penggunaan biaya sewa secara transparannya buat apa ya pak, bu?

 

Mosi ini saya ajukan sebagai langkah preventif saja untuk meminimalisir prasangka-prasangka buruk, ya sekaligus menerapkan teori Azas Black, setiap energi yang masuk sama dengan energi yang keluar, setiap perilaku yang ada pada atasnya akan tercermin pada bawahnya, tentunya hal ini dalam konteks tujuan pendidikan yang kedua. Insya Allah pak, bu, saling pengertian itu dimulai dari saling terbukanya dua pihak yang saling berselisih.

*

Ya Allah, terima kasih karena engkau telah membimbing saya membuat tulisan ini dengan kata-kata yang lembut, meskipun meledak-ledak hati saya yang sebenarnya.

 

Penulis: Aesna*

*Nama Pena dari Ghiyats Ramadhan, Gubernur BEM Farmasi UMS

Rate This Article

lpmpabelanums@gmail.com

No Comments

Leave A Comment