HomeSerba-serbiCerpenSi Gila Pencuri Lampion

Si Gila Pencuri Lampion

Si Gila Pencuri Lampion

Kami tak sengaja bertemu di festival lampion tengah kota setelah tak pernah kontak selama lima tahun, sebab aku ingat betul kami satu sekolah berpisah lima tahun yang lalu. Tapi masalahnya bukan itu, aku memang mahir menghitung, tapi goblok menghafal nama orang. Aku lupa siapa nama teman lamaku itu. Kami hanya nyengar-nyengir dan berbincang mengenai nama guru-guru kami dan keadaan mereka setelah lima tahun kami tinggalkan.

“Pak Sofian kepala sekolah kita telah berpulang,” katanya di sela perbincangan.

“Benarkah?” tanyaku tanpa mengandung rasa berduka sedikitpun.

“Ya, dan Ibu Fatimah yang manis itu baru saja melahirkan anak pertamanya pekan lalu. Dan kau ingat Pak Erwanto? Ia baru saja menikahi istrinya yang ke enam.”

Aku tak terlalu memperhatikan apa yang ia katakan, pikiranku masih berusaha mengingat siapa namanya dan malu untuk bertanya padanya. Selain itu, aku tak terlalu ingat nama-nama guruku di masa lalu dan sedikit jenuh dengan apa yang ia bicarakan. Maka demi membunuh rasa jenuh, aku hanya mengangguk-angguk dan sesekali menghitung jumlah lampion yang bertengger rapi di atas tempat kami berdiri.

“Hei, apa yang kau lihat?,” tegurnya, “Lampion? Kau tahu, nyala merah lampion memiliki makna pengharapan bahwa di tahun yang akan datang diwarnai dengan keberuntungan dan kebahagiaan.”

“Aku menghitungnya, terdapat sekitar enam puluh lampion,” kataku tak acuh.

Pada menit ke dua puluh kami akhirnya berpisah. Aku meninggalkannya sendiri di bawah lampion-lampion, dan menghembuskan nafas lega karena tak perlu lagi berusaha memikirkan namanya dan mengikuti cerita-ceritanya.

Malamnya, Si Cicak menelponku, ia teman kuliahku, aku lupa nama aslinya sehingga kerap memanggilnya Si Cicak. Dan ia tak keberatan dengan nama panggilan itu. Ia menyukai gadis penjaga Perpustakaan Kampus, dan malam itu ia curhat padaku tentang gadis itu.

“Sepertinya ia tak menyukaiku,” kata Si Cicak.

“Tahu dari mana?” tanyaku.

“Aku berkunjung ke perpustakaan setiap hari dan ia tak pernah melirikku.”

“Berdoalah esok ia akan melirikmu.”

Esok malam ia kembali menelpon dan melaporkan padaku kejadian yang menimpanya di siang hari tentang si gadis.

“Ia sudah memiliki kekasih,” katanya sekonyong-konyong.

“Kau bertanya padanya?” tanyaku.

“Aku bertanya padanya dan bahkan mengabdikan diri menjadi simpanannya.”

“Dan apa jawabnya?”

“Ia menamparku.”

“Kalau begitu lupakanlah dia.”

“Tak akan, selagi ia belum menikah.”

“Dan kau akan berhenti mengejarnya bila ia telah menikah?”

“Tidak juga, akan kutunggu masa jomblonya.”

Si Cicak memang berpendirian kukuh. Ia bersumpah akan menjomblo selamanya bila tak memiliki gadis itu. Sebenarnya aku kasihan padanya. Ia cukup tampan dan seharusnya lebih mudah mendapatkan seorang kekasih, tetapi dua buah daun telinganya telah hilang, itu merusak ketampanannya. Sesungguhnya dulu hanya satu daun telinganya yang hilang, dan itu karena dipotong seseorang saat tawuran di sekolah kala ia SMA, paling tidak itu yang ia ceritakan padaku.

Setelah itu, ia kuliah mengambil jurusan biologi dan selalu melakukan percobaan menumbuhkan daun telinga manusia sebagaimana cicak menumbuhkan ekornya. Selama tiga tahun ia melakukan percobaan dan selalu gagal. Hal itu membuatnya gila jangka pendek dan membenci Tuhan. Diperparah kenyataan bahwa gadis yang ia sukai telah memiliki kekasih, di suatu magrib, kala muadzin parau melantunkan adzan, Si Cicak memotong daun telinganya yang tersisa. Sehingga kini ia dijuluki “Mahluk Tanpa Telinga” di lingkup kampus.

Itu mengagumkan, di kampusku tak banyak julukan seperti itu, kebanyakan julukan hanya datang pada orang-orang yang memiliki kelebihan. Seperti halnya, “Si Otak Kalkulator” atau “Kembang Kampus” atau “Arjuna Pemikat Wanita”. Sedang, Si Cicak diberi julukan karena kekurangannya tak memiliki telinga, itu membuatku iri.

Namun hal itu tak membuatnya senang, sebab seminggu setelah itu ia berkata padaku bahwa ia hendak memotong anggota tubuh lainnya yang lebih besar.

“Aku hendak memotong leherku sendiri.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Aku tak tahan hidup seperti ini,” jawabnya tersedu.

Aku pikir ia benar-benar akan memotong lehernya sendiri sebagaimana ia memotong daun telinganya, tetapi ia tak melakukan itu karena tak memiliki nyali yang cukup.

Setahun kemudian ia berubah drastis, ia berhenti melakukan percobaannya menumbuhkan daun telinga, dan mencabut sumpahnya untuk menjomblo selamanya, bahkan ia memiliki solusi yang baik mengenai kedua masalah itu. Pertama, ia melakukan percobaan menggondrongkan rambut, hal ini ia lakukan karena rambut gondrong bisa menutupi kondisi telinganya yang buntung. Kedua, ia tak lagi suka membaca di perpustakaan dengan niat menjauhkan diri dari gadis penjaga Perpustakaan itu, ini langkah awal melupakan si gadis. Sekarang ia terlihat tampan dan telah berpacaran dengan seorang penjaga Laboratorium.

Aku berfikir bahwa Si Cicak, bagaimanapun, telah mendapat keberuntungan dan kebahagiaan. Hal ini semakin membuatku iri. Sebab kau tahu, aku memiliki kelebihan mahir menghitung dan kekurangan sulit menghafal nama orang–sekaligus, akan tetapi tak pernah mendapatkan julukan sedikitpun, dan tak memiliki seorang kekasih sebatang hidung pun.

Di awal tahun ini aku datang berkunjung ke festival lampion seperti empat tahun lalu, aku berharap tak menemukan teman lamaku yang cerewet itu lagi. Aku duduk di sebuah warung angkring tak jauh dari kumpulan lampion dan menyesap secangkir kopi hangat ditemani cekcok pelanggan dan deru mesin seliweran. Lalu seperti kebiasaan penghilang rasa jenuh sebagaimana pernah terjadi, aku kembali iseng menghitung jumlah lampion yang bertengger rapi di suatu jarak. Terdapat lima puluh sembilan lampion.

Aku terhenyak. Ada yang salah dengan hitunganku.

Aku menghitung ulang dengan cermat, sebab seharusnya terdapat enam puluh lampion. Tetapi untuk percobaan menghitung yang ke enam kali, hasilnya tetap sama: lima puluh sembilan. Aku berfikir bahwa seseorang telah mencurinya.

“Nyala merah lampion memiliki makna pengharapan bahwa di tahun yang akan datang diwarnai dengan keberuntungan dan kebahagiaan,” terngiang kalimat itu dalam kepalaku, meskipun aku lupa siapa yang mengatakannya.

Aku tersenyum. Seseorang telah mencuri satu lampion itu untuk mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan, dan aku sudah tahu siapa yang mencurinya, pastilah Si Cicak. Esoknya aku bertandang ke rumah Si Cicak dan meledeknya telah mencuri lampion tengah kota. Tapi ia mengelak.

“Aku tak mencurinya, lagipula jumlah lampion tahun ini dan empat tahun lalu bisa jadi tak sama banyak.” katanya.

“Lalu dari mana kau mendapat keberuntungan dan kebahagiaan?” tanyaku.

“Aku bertobat dan kerap istiqoroh untuk minta petunjuk,” jawabnya. “Lagipula aku terlalu pendek untuk mencuri lampion yang bertengger setinggi itu.”

“Kau kan Si Cicak, kau bisa merayap,” candaku.

Beberapa hari berselang, kala aku dan Si Cicak sedang makan nasi kucing di sebuah warung angkringan, beberapa bapak pelanggan tengah bergosip tentang seorang gila yang mencuri lampion di tengah kota. Kabar itu membuatku bersalah telah menuduh Si Cicak. Lalu yang semakin membuat rasa iriku membuncah, orang gila yang telah mencuri lampion tengah kota itu sekarang telah mendapat julukan, ia mendapat julukan “Si Gila Pencuri Lampion”. Lihat, begitu banyak julukan yang datang bukan hanya dari kelebihan.

Penulis: Prasetyo Leksono Nur Widodo

Mahasiswa Fakultas Teknik Industri

Rate This Article

lpmpabelanums@gmail.com

No Comments

Leave A Comment