HomeSerba-serbiOpiniAntara Pencerdasan Poltik Kampus atau Adu kekuatan?

Antara Pencerdasan Poltik Kampus atau Adu kekuatan?

Antara Pencerdasan Poltik Kampus atau Adu kekuatan?

Pemilihan umum mahasiswa atau yang sering disebut Pemilwa nampaknya sudah tak asing lagi di telinga masyarakat kampus (mahasiswa), apalagi bagi para pelaksana (peserta) demokrasi kampus ini. Pemilwa, sejatinya merupakan ajang demokrasi kampus dalam lingkup yang kecil di tataran universitas dan juga miniatur perwujudan demokrasi negara dalam berdemokrasi. Tahun 2017 ini, UMS akan mengadakan Pemilwa yang diselenggarakan oleh Komisi Umum Pemilihan Mahasiswa (KPUM) selaku tim penyelenggara Pemilwa dan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan umum (Panwaslu) yang kebetulan kedua jajaran ini telah sah dilantik dan siap menjalani mahligai pertarungan dalam pesta demokrasi ini.

Tidak perlu panjang lebar membahas terkait KPUM ataupun Panwaslu, melainkan lebih banyak membahas bagaimana dinamika yang akan terjadi saat pra pelaksanaan, pelaksanaan dan paska pelaksanaan pemilunya. Pemilihan umum mahasiswa sampai saat ini sebenarnya menjadikan sebuah tanda tanya besar di setiap pelaksanaannya. Agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya menjadi hal yang rancu. Dari DPT (mahasiswa aktif UMS) lebih dari 20.000 mahasiswa hanya 3.000 sampai 4.000 saja pemilih. Lantas kemana sisanya? Nah, sebenarnya peran Pemilwa di kampus ini menjadi sebuah pertanyaan besar kembali ketika peserta pemilu dan KPUM harus mencoba membangkitkan gairah dalam pesta demokrasi ini.

Pesta demokrasi menjadi ajang kontestasi belaka, dimana tidak ada sama sekali pencerdasan politik kampus untuk mahasiswa secara umum. Bisa dibayangkan dari pemilih yang jumlahnya sekitar 3.000 sampai 4.000 mahasiwa ini bisa dikatakan mereka hanya ikut-ikutan mencoblos. Pencerdasan politik kampus hanya terjadi di tataran peserta pemilu semata yang mengonsep secara matang bagaimana mereka menyiapkan taktik jitu dalam proses memenangkan pesta demorasi ini. Masing-masing peserta Pemilwa menonjolkan visi misi calonnya masing-masing dan berusaha memenangkan calonnya dengan berbagai konstelasi politik yang terjadi. Pemilu yang sejati juga dijadikan sebagai sarana pencerdasan politik akhirnya luntur dengan pergeseran paradigma ini.

Lantas seberapa jauh peran peserta pemilu dalam upaya pencerdasan politik kampus sebagai miniatur negara karena tidak semua mahasiswa itu peduli dan mau aktif dalam dunia ini? Nampaknya pencerdasan politik kampus ini sangat susah terjadi dan hanya akan ada yang namanya adu kekuatan untuk upaya memenangkan calonnya masing-masing. Hal ini pasti akan terjadi, mengingat kerasnya dinamika dan konstelasi politik yang kuat antar calon daalam memenangkan pesta demokrasi ini.

Kerinduan akan terwujudnya pesta demokrasi yang mempunyai upaya pencerdasan politik kampus kepada mahasiswa umum hanya menjadi sebuah dambaan. Seharusnya Pemilwa tidak hanya dijadikan sebuah ajang kontestasi belaka yang tidak mempunyai dampak positif secara langsung ke mahasiswa umum. Nah, disini peran KPUM dan peseta Pemilwa dalam upaya mensosialisasikan Pemilwa sebagai sarana pencerdasan politik bukan hanya adu gagasan ataupun kekuatan untuk memenangkan calonnya.

 

Penulis: Rizki Maulana Ahzar

Mahasiswa Umum Fakultas Hukum UMS

Rate This Article

lpmpabelanums@gmail.com

No Comments

Leave A Comment