HomeSerba-serbiOpiniHaruskah Kaya Untuk Mendapat Ilmu?

Haruskah Kaya Untuk Mendapat Ilmu?

Haruskah Kaya Untuk Mendapat Ilmu?

8 Dzulhijjah 1330 H/ 18 November 1912 M menjadi saksi dimana lahirnya sebuah organisasi muda dengan semangat dakwah Amar Makruf Nahi Munkar yang oleh pendirinya Muhammad Darwis diberi nama Muhammadiyah, yang berarti pengikut Nabi Muhammad SAW. Kini, semenjak Muktamar terakhir di Makassar telah berumur lebih dari satu abad dan tetap kokoh menancapkan asas kebermanfaatannya keseluruh umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia serta dunia pada umumnya, demi mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamain.

Semangat Muhammadiyah untuk menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta ini direalisasikan dalam amal usaha-amal usaha yang besar dan terus berkembang pesat secara kuantitas, baik bidang kesehatan, bidang sosial maupun bidang pendidikan seperti yang saat ini kita berada didalamnya (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Akan tetapi memasuki abad kedua ini, Muhammadiyah jelas menghadapi berbagai dinamika seperti yang dijelaskan oleh ayahanda kita Haedar Nashir dalam bukunya yang berjudul “Memahami Ideologi Muhammadiyah”.

Dalam bab pertama buku ini, beliau menjelaskan tentang situasi yang akan dihadapi Muhammadiyah dengan segala kondisi objektif dalam bentuk kekuatan kelemahan, peluang dan ancaman. Tanpa mengurangi rasa hormat penulis terhadap kekuatan dan peluang yang dimiliki oleh Muhammadiyah, dalam aspek kelemahan poin 3 dijelaskan bahwa salah satu kelemahan yang perlu dijadikan koreksi oleh Muhammadiyah adalah pertumbuhan organisasi yang semakin besar membuat Muhammadiyah cenderung birokratis dan lamban dalam menghadapi persoalan-persoalan yang berkembang dimasyarakat.

Demikian halnya dengan aspek ancaman pada poin 3 dijelaskan pula bahwa cengkraman kapitalisme global yang berdampak pada pembangunan dan orientasi kehidupan yang serba berlandaskan pada profit eksploitasi dan memuja materi maupun kesenangan duniawi. Hal ini ditakutkan akan berpengaruh terhadap pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah yang cenderung berorientasi profit dan menjauh dari teologi atau ideologi Al-Ma’un sebagaimana gerakan awal Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).

Berhenti pada titik ini terbesit pertanyaan pada benak penulis, “Apakah hal-hal yang dituliskan oleh ayahanda Haedar Nashir dalam bukunya tersebut telah masuk menjangkiti kampus kita tercinta ini selaku Amal Usaha Muhamamadiyah?” Taman yang dahulu dijadikan ruang-ruang diskusi dirubah menjadi beton-beton parkiran dan tidak berhenti disitu beberapa hari ini, isu mengenai komersialisasi gedung yang dituangkan dalam Surat Edaran BAU UMS nomor 560/BAU/A.6-VII/XI/2016 serta kebijakan student loan telah menjadi salah satu topik pembicaraan dikalangan mahasiswa.

Siapakah pencetus kebijakan tersebut dan apakah alternatif solusi yang mengiringi kebijakan tersebut menjadi pertanyaan besar dibenak penulis, yang penulis tahu hanyalah bahwa kebijakan ini telah diterapkan dengan kekurangan yang ada dan sampai detik ini belum juga ada keterangan yang jelas untuk mengklarifikasi berita-berita tersebut. Semoga saja mahasiswa selaku salah satu objek kebijakan dapat dilibatkan aktif dalam keputusan-keputusan tersebut. Mahasiswa sendiri juga harus ikut berperan aktif saling berdiskusi dan bergerak bersama untuk menentukan sikap dan aksi dalam mengawal kebijakan tersebut untuk mencari titik terang dan memberikan tawaran solusi yang tepat bagi berbagai pihak. Serta tidak lupa, siapapun pemegang kekuasaan dan siapapun yang membuat kebijakan alangkah baiknya tidak lupa untuk merefleksikan diri dengan semangat awal Muhammadiyah agar menjadi Penolong Kesengsaraan Oemoem.

 

Penulis: Aris Purwanto

Mahasiswa semester VI Fakultas Psikologi yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Al-Ghozali Fakultas Psikologi.

Rate This Article

lpmpabelanums@gmail.com

No Comments

Leave A Comment