HomeSerba-serbiResensiSastra dalam Tinjauan Etika Profetik

Sastra dalam Tinjauan Etika Profetik

Sastra dalam Tinjauan Etika Profetik

Judul               : Maklumat Sastra Profetik

Pengarang     : Kuntowijoyo

Penerbit         : Grafindo Litera Media

Tebal Buku    : i – halaman 120

Tahun Terbit : 2006

No. ISBN         : 979-3896-19-1

Bagi kita itu berarti perubahan yang didasarkan pada cita-cita humanisasi/emansipasi, liberasi, dan transendensi, suatu cita-cita profetik yang diderivasikan dari misi historis Islam sebagaimana terkandung dalam QS Ali-Imran [3], ayat 110: Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemunkaran (kejahatan) dan beriman kepada Allah. Tiga muatan inilah yang mengkarakterisasikan ilmu sosial profetik. Dengan kandungan nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi, ilmu sosial profetik diarahkan untuk rekayasa masyarakat Menuju cita-cita sosio-etiknya di masa depan” (Kuntowijoyo, 2006)

Kutipan yang saya ambil dari buku Islam sebagai Ilmu tersebut sedikit menggambarkan tentang gagasan cita-cita profetik oleh Kuntowijoyo. Etika profetik tersebut ditemui pada QS Ali-Imran ayat 110. Kuntowijoyo terilhami oleh Muhammad Iqbal, khususnya ketika membicarakan mengenai peristiwa mi’raj Nabi Muhammad SAW. Andai saja Nabi adalah seorang mistikus atau sufi, mungkin beliau tidak akan kembali ke bumi lagi ketika sudah nyaman berada di Sidratul Muntaha sana dan berada disamping-Nya. Tetapi Nabi memilih kembali turun ke bumi untuk melaksanakan tugas kerasulannya, melakukan transformasi sosial-budaya berdasar cita-cita profetik. Tiga pilar utama cita-cita profetik diderivasikan dari surat Ali-Imran mengacu pada peristiwa empiris-historis tersebut. Singkatnya, amar ma’ruf (humanisasi), tanhauna ‘anil munkar (liberasi), dan tu’minuna billah (transendensi).

Mengenai sastra profetik, barangkali ini adalah hal baru dalam dunia kesusastraan Indonesia. Sebelum ini mungkin kita sudah mengenal sastra humanisme oleh Chairil Anwar atau marxisme milik Pramoedya Ananta Toer misalnya. Karya sastra yang sarat akan nilai, bukan hanya sekedar sastra popular saja. Ia membawa misi tertentu melalui nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“…….justru Tuhanlah yang menginginkan supaya manusia bekerja untuk manusia, tidak hanya mengabdi kepada Tuhan. Bagi-Nya kesadaran ketuhanan belum berarti kaffah kalau tidak disertai kesadaran kemanusiaan. Sastra profetik menghendaki kedua-duanya, kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan.” (hal 6)

Sastra profetik mempunyai dua dimensi nilai, vertikal dan horinzontal. Dalam cerpen Kuntowijoyo yang berjudul Burung Kecil Bersarang di Pohon misalnya, dikisahkan ada seorang Dosen guru besar Ilmu Tauhid yang hendak menjadi khotib dan imam sholat Jum’at. Ketika perjalanan menuju masjid Ia dengan pakaian dan hatinya pula yang bersih melewati pasar tradisional hingga merasa terkotori oleh debu orang-orang pasar yang tak sembahyang. Suatu ketika Ia berhenti melihat ada seorang anak kecil menangis sambil menunjuk ke arah sebuah pohon dengan burung yang mencicit-cicit. Lalu, ia pun memanjat pohon. Setelah selesai, akibat dari waktunya yang terbuang untuk menolong anak kecil tadi, Ia melewatkan waktu sholat Jum’at. Tetapi Ia sadar, Tuhan telah memberikan pencerahan. Tuhan mengingatkan tentang urusan kemanusiaan.

Urusan ketuhanan dan urusan kemanusiaan, menurut Kuntowijoyo seharusnya menjadi tema besar dalam sastra. Namun realitasnya justru karya-karya serius seperti itu jarang diapresiasi oleh publik. Dalam budaya massa, umum lebih tertarik pada sesuatu yang popular. Salah satu upaya untuk mempertahankan eksistensi karya sastra Indonesia.

 

Sebuah Wasiat Terakhir Kuntowijoyo

Maklumat sastra ini konon katanya ditulis beberapa hari sebelum Kuntowijoyo wafat. Maksud saya, bisa jadi Maklumat Sastra Profetik adalah sebuah wasiat terakhir Kuntowijoyo kepada dunia kesusastraan Indonesia. Ia meginginkan pentingnya posisi sastra seperti halnya disiplin ilmu lain. Selama ini sastra telah termarjinalkan oleh laju zaman, karena mulai menjauh dari realitas, nilai-nilai ketuhanan bahkan sosial dan budaya.

Terlepas dari itu semua, yang jelas ada beberapa hal yang menarik perhatian dalam Maklumat ini. Kuntowijoyo mencoba memberi jembatan pemahaman mengenai karya-karya sastranya. Menurut saya ini adalah sesuatu yang tak biasa dan juga sebuah pengorbanan seorang pengarang dengan menguraikan esensi dari karyanya sendiri. Di lain sisi, saya mencoba husnudzon bahwa ini adalah salah satu upaya untuk membentengi dari menjamurnya sastra populer di tengah masyarakat. Barangkali ini merupakan sebuah warisan interpretasi dari seorang pengarang untuk karya-karya sastra selanjutnya, supaya tidak terjebak dalam karya popular tetapi tetap terkandung sebuah sastra sarat nilai yang tak terlepas dari realitas objektif.

Kemudian, ada juga mengenai sinkretisme antara sastra murni dan sastra ibadah. “Sastra ibadah” merupakan penghayatan dari nilai agama dan sastra murni merupakan ekspresi dari kondisi realitas objektif. Namun, Kuntowijoyo menekankan bahwa “sastra ibadah” tetaplah satu bangunan dengan sastra murni, tidak kurang, tidak lebih.

 

Etika Sastra Profetik

Konsepsi dalam etika profetik diaktualisasikan ketika Kuntowijoyo menulis karya sastranya “dari bawah” dan “dari dalam”. Sastra dari dalam membebaskan tokoh imajiner dalam karya tersebut, mereaksi peristiwa-peristiwanya sendiri terlepas dari subjektifitas pengarang.

Menulis sastra dari bawah artinya sastra hadir berangkat dari realitas, bahkan yang paling sederhana sekalipun, bukan berasal dari teori atau konsepsi yang jauh dari realitas. “Misalnya teori collective behavior dan konsep structural conduciveness dari Sosiologi Nell J. smelser untuk tulisan tentang revolusi” (hal. 28)

Tentu pada akhirnya, cita-cita profetik tetap menjadi suatu muara karya sastra Kuntowijoyo. Tiga pilar utamanya, seperti yang sudah dijelaskan di awal, humanisasi, liberasi, dan transendensi merupakan nilai estetis sastra profetik. Humanisasi dan liberasi dengan dimensi horizontal nya dalam menanggapi isu-isu dehumanisasi, penindasan struktural, ketidakadilan, hingga modernisasi. Sedang transendensi mengawal nilai-nilai yang berkaitan dengan urusan ketuhanan, di tengah modernisasi yang membuat realitas masa kini mulai kering akan spiritualitas.

Penulis: Ubaidillah Rosyid,

Mahasiswa aktif Fakultas Geografi Semester 4

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Rate This Article

lpmpabelanums@gmail.com

No Comments

Leave A Comment