HomeSerba-serbiResensiKeadilan dan Gejolak Kemanusiaan

Keadilan dan Gejolak Kemanusiaan

Keadilan dan Gejolak Kemanusiaan

Judul Buku    : Monster Kepala Seribu

Penulis            : Laura Santulo

Penerjemah    : Ratna Diah Wulandari

Penerbit          : Marjin Kiri

Cetakan          : Pertama 2016

Tebal              : 148

ISBN               : 978-979-1260-53-4

 

Bukan hal yang keliru jika seseorang ingin berjuang sedemikian rupa demi orang terkasihnya terlebih menyangkut hidup dan mati. Sonia Bonet hampir putus asa melihat sang suami, Memo yang terbaring menahan rasa sakit yang dirasakannya sendiri. Pengobatan suaminya tidak mendapat angin segar dari  polis asuransi Alta Salud. Premi yang dibayarkan selama 15 tahun lamanya terasa sia-sia dan tak berarti apa-apa.

Sonia telah menempuh cara formal untuk menuntut hak suaminya dengan birokrasi yang terlalu terbelit-belit. Perusahaan asuransi yang digawangi oleh Sandoval serasa acuh tak acuh dan tak berjiwa kemanusiaan tak memikirkan nasib nasabah setia yang bertahun-tahun mempercayainya. Sonia Bonet menempuh berbagai cara untuk memperjuangkan nasib sang suami yang mengidap penyakit kanker.

Pertama dirinya mendatangi rumah sakit polis asuransi ditemani anak laki-lakinya Dario, ia ingin menemui dokter perusahaan tersebut. Akan tetapi harapan tinggallah harapan, setiap kali dirinya berkunjung tak pernah sekalipun menemui sang dokter dengan alibi yang bermacam-macam. Satu, dua tiga kali dirinya merasa kecewa oleh janji-janji itu akhirnya Sonia memutuskan mengikuti sang dokter sampai tempat tinggalnya dengan membawa sebuah pistol di sakunya.

Cara yang tak biasa dilakukan Sonia dengan mengintimidasi para petinggi di Alta Salud. Anak laki-laki semata wayangnya bahkan sudah memperingatkan sang ibu untuk tidak melakukan hal yang akan mengancam keselamatan dirinya dan ibu tercintanya. Ketika amarah telah menguasai pikiran Sonia ia bahkan tak menghiraukan apa yang telah dikatakan oleh sang anak, dirinya tidak bisa lagi berpikir jernih dan yang ada di kepalanya hanyalah kekecewaan teramat besar terhadap polis asuransi yang dipercayainya selama ini. Berbagai petinggi mulai dari dokter, direktur, notaris bahkan pemegang saham di perusahaan Alta Salud terintimidasi olehnya dengan misi memperoleh tanda tangan atas dokumen yang berisi riwayat medis sang suami.

Di situ Sonia hanya menuntut keadilan dari polis asuransi untuk mengembalikan apa yang menjadi hak sang suami. Sonia bahkan tak memahami apa yang sedang terjadi dengan dirinya, sikap sembrononya hingga melakukan berbagai intimidasi yang bahkan tak direncanakan sebelumnya. Hingga akhirnya di tengah-tengah drama antara dirinya dengan pemegang saham sedang terjadi, ia mendapat kabar mengejutkan jika sang suami telah meninggal dunia. Duka mendalam dirasakan Sonia usai mengetahui orang yang dicintainya telah tiada. Perjuangan yang bahkan membahayakan dirinya sendiri dan anak semata wayangnya terasa sia-sia. Kisah Sonia Bonet mengundang simpati dari media dan masyarakat atas nama kemanusiaan.

Monster kepala seribu bercerita mengenai muatan sosiologis yang amat kental. Pembaca seolah-olah diajak merasakan kekejaman perusahaan polis asuransi yang tak berperikemanusiaan yang hanya mementingkan profit saja. Pembaca ikut merasakan alur ketegangan dan penuh haru  yang terjadi dalam buku tersebut hingga akhirnya menimbulkan stigma dan pemahaman tentang hal-hal yang berjalan tidak seharusnya di lingkungan yang ditinggali selama ini.

Dari sampul buku, pembaca disuguhkan oleh judul dan warna sampul yang terasa mencekam. Sampul dengan warna ungu kehitaman serta ilustrasi tangan yang memegang pistol seakan-akan menggambarkan ketegangan dan unsur kriminalitas serta intimidasi yang terjadi di dalam cerita. Monster kepala seribu diceritakan dari sudut pandang masing-masing karakter sehingga pembaca dihadapkan pada pemahamannya sendiri terkait dengan karakter-karakter di dalamnya.

Alur yang diusung di dalam cerita sangat lurus sehingga pembaca dapat menyimpulkan sendiri ending cerita karena mudah sekali ditebak. Karakter inti tokoh kurang diperkenalkan sejak awal sehingga pada buku tersebut seakan akan terfokus pada karakter Sonia Bonet yang memperjuangkan hak sang suami terhadap polis asuransi tanpa memperdalam karakter tokoh Memo sang suami. Ending dari cerita terkesan menggantung dan menimbulkan rasa penasaran pembaca.

Penulis seakan-akan tidak menyelesaikan karakter tokoh Sonia Bonet yang difokuskan sejak awal. Problematika sejak awal serasa tidak ada penyelesaian yang konkrit. Bahkan di bagian akhir cerita penulis menceritakan sedikit sosok Dario tetapi itu tak terselesaikan dengan penuh. Sosok Memo yang diperkenalkan sebagai korban rasanya tidak disinggung lagi sejak kematiannya. Tindakan kriminalitas dan intimidasi yang dilakukan karakter Sonia bahkan tak berlanjut hingga mendapat titik terang.

Penulis: Aprilia Indra Setya Pangesti

Mahasiswi Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Rate This Article

lpmpabelanums@gmail.com

No Comments

Leave A Comment