HomeInsetMerancang Bendungan Hoax

Merancang Bendungan Hoax

Merancang Bendungan Hoax

UMS, Pabelan-Online.com – Di era digital 2.0 seperti saat ini, banyak sekali informasi yang beredar di masyarakat tersebar luas tanpa diketahui kebenarannya. Buruknya,  pembaca dengan gampang tersihir dengan informasi yang dibaca. Ditambah lagi dengan perangkat-perangkat yang semakin canggih di zaman ini, membikin para pemburu informasi dengan gampangnya menyebarkan tanpa permisi.

Hoax atau sering disebut berita bohong tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial atau publik yang mana membuat gempar seluruh jagat raya. Hal ini membuat masyarakat menjadi resah karena belum terbukti kebenarannya. Hoax umum adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Seperti yang dijelaskan di atas, di zaman sekarang yang semakin canggih ini, hoax mudah sekali menyebar ke masyarakat. Hanya menggunakan gadget dengan cara copy paste lalu kirim, sudah sampai ke pembaca. Tempo ini, para pengguna media sosial yang semakin marak memudahkan mereka berinteraksi dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan diri sendiri. Apalagi dengan pelaku yang memiliki banyak followers di media sosial, semakin mudah saja cara menyebarkan kabar bohong ke semua lini dunia maya.

Seperti yang dipahami banyak pihak, hoax mudah sekali mempengaruhi dan mengklaim pikiran pembaca. Orang lebih percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Untuk itu, dilansir dari mti.binus.ac.id terdapat empat metode dalam kegiatan penemuan informasi melalui internet. Pertama, Undirected Viewing, seseorang mencari informasi tanpa tahu informasi tertentu dalam pikirannya. Tujuan keseluruhan adalah untuk mencari informasi yang secara luas dan sebanyak mungkin dari beragam sumber informasi yang digunakan dan informasi yang didapatkan kemudian disaring sesuai dengan keinginannya.

Kedua, Conditioned Viewing, seseorang sudah mengetahui apa yang dicari, sudah mengetahui topik informasi yang jelas. Pencarian informasinya sudah mulai terarah. Ketiga, Informal Search, seseorang telah mempunyai pengetahuan tentang topik yang akan dicari. Sehingga pencarian informasi melalui internet hanya untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang topik tersebut.

Dalam tipe ini, pencari informasi sudah mengetahui batasan-batasan sejauh mana eseorang tersebut akan melakukan penelusuran. Keempat, Formal Search, seseorang mempersiapkan waktu dan usaha untuk menelusur informasi atau topik tertentu secara khusus sesuai dengan kebutuhannya. Penelusuran ini bersifat formal karena dilakukan dengan menggunakan metode-metode tertentu (Choo, dkk, 1999).

Menurut Bonnie Triyana (2017), kini cara yang sama lazim digunakan seiring pesatnya penggunaan media sosial. Hoax menyebar bak air bah, membanjiri ruang-ruang pribadi, mempengaruhi cara pandang orang terhadap satu isu tertentu yang sedang marak diperbibcangkan. Mungkin bukan kebetulan jika dari sekian banyak tema hoax.

Pada taraf ini, hoax  mudah sekali memancing pembaca untuk mempercayainya tanpa menyaring kebenarannya. Sekedar membaca, hanya mengiyakan dan menyetujui lalu membagikannya ke media sosial lainnya, membuat para pelaku merasa bangga akan hal itu karena merasa informasinya seakan-akan berguna dan diterapkan.

Dilansir dari kominfo.go,id, terdapat beberapa cara menangkal hoax agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya. Pertama, hati-hati dengan judul provokatif. Berita hoax seringkali menggunakan judul-judul yang mengundang sensasional. Maka dari itu, sebaiknya cari referensi yang serupa kemudian bandingkan. Kedua, cermati alamat situs. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai instusi pers resmi teliti dahulu kebenarannya.

Ketiga, periksa fakta. Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pergiat ormas, tokoh politik, atau pengamat. Keempat, cek keaslian foto. Untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google. Kelima, ikut serta grup diskusi anti-hoax. Di grup ini, bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan orang lain.

Reporter: Afifah Hutria

Rate This Article

lpmpabelanums@gmail.com

No Comments

Leave A Comment