Tuti namanya, seorang gadis desa, hidup di kaki gunung yang menjulang tinggi, miskin akan harta juga tahta dan banyak masalah yang menghadangnya. Masalah tak henti-hentinya mengikuti kisah hidup Tuti. Sebenarnya bukanlah sebuah kisah hidup jika ia berjalan datar-datar saja, tanpa adanya masalah yang menimpanya. Sebenarnya bukan pula sebuah masalah, tetapi sebuah cobaan dari Tuhan untuk mengukur kekuatan hati seorang manusia. Dalam kesehariannya, Tuti hidup sebagai seorang buruh serabutan yang dijadikannya sebagai sumber rezekinya. Ketela sebagai makanan pokok, baju compang-camping, gubuk, dan gerobak adalah bukti betapa berat hidup yang harus ia hadapi. Badannya yang kurus, matanya yang sayu, dan kulitnya yang kering menjadi saksi bisu akan semua peristiwa yang menimpanya, bahwa beban hidupnya diliputi rintangan dan duri yang menghadang.

Sehabis malam yang gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Namun, pagi yang indah itu dijadikan sebuah awal kegiatan yang ia lakukan untuk selalu keliling kampung menjual sedikit sayur dan buah-buahan hasil panen kebunnya. Bukan laksana seorang saudagar yang menjadi kaya karena hasil panennya yang melimpah, melainkan hanya sebuah lahan 5 x 6 meter yang ia hiasi dengan bayam, sawi, cabai, pepaya, dan ketela untuk meringankan beban hidup yang menimpa keluarganya. Ia pernah bermimpi suatu saat dia dan keluarganya menjadi orang sukses di desa. Mimpi itu sepenuhnya ia harapkan kepada Ani adiknya, gadis lima belas tahun yang sedang giat-giatnya belajar. Jika harus bertumpu pada perempuan tangguh itu saja tidak cukup. Tuti terbebani oleh tanggungan hidup nenek Mirah, ibu Marti dan Ani sebagai keluarga angkatnya.

Sebenarnya Tuti bukanlah keluarga kandung mereka. Tuti adalah anak pengusaha kaya di kota. Namun, impiannya terhenti ketika ibu kandungnya meninggal, ayahnya-pun menikah lagi. Ibu tiri Tuti sangat membencinya dan berusaha untuk menjelek-jelekkan Tuti di depan ayahnya. Setelah berkali-kali mencoba dengan berbagai trik, akhirnya ibu tiri Tuti berhasil menghasut ayah Tuti untuk membuangnya. Terdamparlah Tuti dalam kehidupan desa yang jauh dari kemewahan dan kegemerlapan. Sedari itu, nasibnya ia serahkan ke tangan Tuhan. Tiada kenangan yang bisa mewakili kerinduannya kepada keluarganya. Kecuali sebuah kalung emas yang tergantung di lehernya.

“Hanya ini satu-satunya pengobat rinduku kepada mama, karena kalung ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke-10 yang mamaku berikan sebelum ia menghadap Tuhan.” tuturnya kepada Ani dengan berlinangan air mata membasahi pipinya.

Sebenarnya, Tuti dibuang di desa adalah peristiwa yang terjadi ketika ia berusia empat belas tahun. Sekarang Tuti telah dewasa, umurnya sekarang sudah dua puluh empat tahun. Tepat sepuluh tahun ayahnya telah membuangnya. Rasa sedih yang mendalam tentu Tuti rasakan, tetapi selalu ia sembunyikan dengan senyum manisnya.

“Jangan terlalu memikirkan masa lalumu, karena kau akan penuh penyesalan karenanya. Tapi jangan pula kau terlalu pikirkan masa depanmu, karena kau akan khawatir tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang. Cukup syukuri apa yang terjadi hari ini untuk menjajaki dan memperbaiki esok hari.” sahut nenek Mirah ketika memandangi Tuti sedang duduk di teras dan melamun menatap langit. Entah apa yang ada dipikirkannya.

“Baik nek, karena apa yang aku pikirkan tak mungkin terwujud kalau aku hanya sibuk merencanakannya” jawab Tuti.

“Bagus, ku kira kau sangat paham tentang hal itu.”

“Iya nek”

“Kak, besok senin ujian kenaikan kelasku dimulai” sahut Ani sembari mengambil beberapa buku dan kotak pensil di tasnya.

“Iya kakak tahu, belajar yang rajin! Hanya kau yang bisa mengubah nasib keluarga kita.” jawab Tuti.

“Baik kak”

Siang telah tiba, ketika terik matahari menyayat panasnya kulit ini, Tuti bergegas menuju rumah bu Rani guna menyetorkan hasil payetannya. Jarak dari rumahnya-pun begitu jauh. Namun, demi sesuap nasi, Tuti menerjang jarak dan panasnya terik matahari. Dengan sepeda ontel yang sudah berkarat dan tas plastik yang menggantung di sepeda depannya, dia berharap semoga dia mendapat berlembar-lembar uang rupiah sebagai hasil payetannya.

“Eh Tuti” sapa bu Rani, pemilik usaha payet yang ditekuni Tuti.

“Iya bu, ini bu hasil payetan saya minggu ini”

“Oh iya, saya lihat dulu ya”

Sembari menunggu, Tuti menghampiri ibu-ibu yang bertujuan sama dengan Tuti.

“Tuti, kamu kok kerja pontang-panting sih, ingat lho, rezeki udah diatur Tuhan” sahut salah satu ibu-ibu.

“Iya bu, tapi jika takdir itu tidak dibarengi dengan usaha yang keras tiada gunanya kan? Ingat, hasil tak akan mengkhianati proses dan usaha.” jawab Tuti dengan lembut.

Ibu-ibu itupun terdiam, akhirnya bu Rani pun datang. “Ini Tuti uangmu” tutur bu Rani. “Iya bu terima kasih” jawab Tuti.

Tuti bergegas pulang dengan mengantongi lima lembar uang Rp 10.000-an. Sambil mengambil sepedanya, ia menyapa ibu-ibu “Mari bu, saya duluan ya”

“Iya, hati-hati di jalan” jawab ibu-ibu kompak.

Kehidupan di zaman modern memang lebih mementingkan keberadaan uang yang digenggam. Hampir terjadi pada semua aspek kehidupan, bahkan kebahagiaan-pun harus di beli dengan uang. Sungguh tragis kehidupan di zaman ini. Lalu, bagaimana dengan manusia kecil seperti Tuti? Akankah ia tak pantas bahagia? Tuhan itu adil. Roda kehidupan terus berputar, jika satu kegagalan menimpa hari ini, pasti seribu kebahagiaan akan datang di esok hari. Tuti selalu berkiblat dengan kata-kata itu.

Tiap hari Tuti selalu dihantui perasaan cemas, bagaimana jika esok hari kita tidak bisa makan? Namun, bersama ibu, nenek dan adiknya, dia selalu tabah dan kuat menghadapi perasaan itu.

Tuhan memang adil, selagi kita masih mempercayai-Nya. Walau uang yang ia dapatkan tak seberapa tetapi dia selalu bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Tetesan embun memadamkan ganasnya luka, walau hanya serintik saja. Kuatnya baja pun bisa ia rapuhkan hanya dengan ketekunan, kesabaran, dan kasih sayang. Begitulah embun yang mengisyaratkan karsa, cita, dan rasa kehidupan.

Angin semilir membangunkan dedaunan layu untuk terbang bersama burung-burung yang menari di angkasa. Kilauan mentari diam-diam mengukirkan harap untuk siapa saja yang bersujud kepada pelukisnya. Ketika suara petir menyuluh gulita, kerlipnya membasahi derita dalam sujud keridhaan-Nya. Gulita akan memberikan kejernihan rasa, ia hadirkan tetes sejuk embun dan pelangi nan elok dalam sajak kebahagiaan.

Penulis : Anisa Cintya Putri

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here