(Calon) Mahasiswa LGBT Ditolak Atau Diterima?

0
175

LGBT merupakan budaya yang identik dengan simbol pelangi. Sejak kapan fenomena indah yang terjadi setelah hujan turun ini diidentikkan LGBT? Sekarang jangan melihat pelangi kalau tidak ingin terpengaruh jadi LGBT!

Pada Januari 2018 lalu saya membaca artikel bahwa kampus UI 1, maksud saya UII atau Universitas Islam Indonesia yang berdomisili di Yogyakarta mencetuskan sebuah aturan tegas bahwa mereka menolak golongan LGBT, akan mengeluarkan mereka, baik mahasiswa ataupun dosen yang terbukti melakukan LGBT.

Di Indonesia sendiri LGBT merupakan sebuah perilaku yang dianggap hina oleh budaya masyarakat sehingga kalaupun ada yang LGBT biasanya akan merahasiakannya atau melakukannya diam-diam, siapa yang tahu orang yang membuat aturan LGBT dilarang ternyata dia seorang LGBT?

Setiap kota di Indonesia sudah mempunyai komunitas LGBT yang bahkan berani tampil di masyarakat, tidak terkecuali di Solo. Di Solo sendiri khususnya kaum gay mencapai ribuan orang, belum lagi lesbian dan warianya.

Jumlah yang meningkat setiap tahunnya semakin meresahkan masyarakat, bahkan ada kemungkinan virus LGBT ini akan ditemui di kampus Wacana Keilmuan dan Keislaman, UMS. Sampai hari ini saya masih belum mendengar sikap tegas UMS terkait jika LGBT terjadi di dalam lingkungan kampus, bagaimana jika dosen atau mahasiswa terciduk terbukti melakukan LGBT? Apakah langsung dikeluarkan? Atau apakah UMS mentolerir kegiatan LGBT tersebut?

Akhir tahun 2017 ramai dibicarakan terkait isu DPR RI yang melakukan pembahasan RUU khusus larangan perilaku LGBT di Indonesia. Walaupun undang-undang tersebut belum dibuat, tetapi sikap DPR RI dan mayoritas masyarakat tegas monolak legalitas LGBT, karena hal tersebut dapat merusak moral bangsa.

LGBT merupakan virus di masyarakat yang terus beranak-pinak dan merusak tatanan hidup bermasyarakat serta beragama. Sudah seharusnya kampus atau sebuah universitas mempunyai sikap tegas bahkan solusi untuk mengatasi hal ini. Tidak hanya memikirkan akreditasi, jumlah mahasiswa, kualitas lulusan, pembenahan infrastruktur, publikasi jurnal nasional dan internasional, tetapi juga memikirkan nasib masyarakat ketika merebaknya virus tersebut.

Saya pribadi menyayangkan sikap kampus UII yang menolak kaum LGBT masuk lingkungan di sekitas kampusnya, bahkan mengeluarkan dosen dan mahasiswanya (jika ketahuan). Tidak dapat dipungkiri LGBT merupakan sebuah penyakit yang harus diberantas, tetapi bukan orangnya yang diberantas melainkan virusnya yang harus dikeluarkan dari orang tersebut. Menolak orang yang terkena virus LGBT tanpa memberikan solusi bagi saya sama saja melarikan diri dari kenyataan, bahkan (maaf) bisa dikatakan pengecut.

UMS dengan kampus nuansa islaminya, saya pikir bisa menerima mahasiswa baru yang terkena virus LGBT, bahkan bersikap tenang dahulu ketika menemui kenyataan bahwa ada dosen atau mahasiswa yang ketahuan mengidap LGBT. Apakah kita melarang seorang mahasiswa yang ingin menuntut ilmu? Apakah kita harus memecat seorang dosen yang sudah mengabdikan dirinya bertahun-tahun untuk UMS?

Kalau saya diperbolehkan untuk memberikan saran, seperti judul opini ini yaitu UMS bisa memberikan sebuah sikap tegas dengan menerima kaum pelangi di lingkungan kampus, TAPI dengan catatan akan dilakukan sebuah treatment khusus dan kerahasiaannya terjamin. Apa treatment atau perlakuan penyembuhan yang bisa dilakukan oleh UMS?

UMS mempunyai sebuah program pesantren Sobron yang menjadi kebanggannya dalam memperkenalkan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Saya pikir sudah seharusnya Sobron tidak hanya berdakwah kepada kaum yang terlihat baik-baik saja, tetapi juga bisa berdampak positif khusus untuk kaum pelangi dalam menghilangkan virus dari orangnya sehingga mahasiswa dan dosen dapat kembali ke kodrat alamiahnya serta kegiatan intelektualnya. Mungkin bisa menggunakan istilah Program Sobron Plus-Plus atau Sobron Rainbow.

Islam adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin, kaum pelangi merupakan bagian dari dinamika dan dialektika alam semesta sehingga cahaya Islam sudah seharusnya dapat menerangi kaum pelangi dengan Nur Allah Subhanahuwa Ta’ala, mengalahkan cahaya semu warna-warni yang dapat dihilangkan dengan sebuah kesabaran. Muhammadiyah sudah bergerak maju, tidak hanya memberantas TBC tetapi bisa berkontribusi memberantas LGBT melalui dunia akademis.

UMS merupakan tempat menimba ilmu bagi mahasiswa dan mencari nafkah bagi para dosen. Jangan sampai putuskan ikatan silaturahmi, mari kita suguhkan solusi, perlakukan mereka dengan hati,  dan sembuhkan dengan terapi nuansa islami.

 

Penulis: Rahmat Rinaldy

Mahasiswa aktif Fakultas Farmasi UMS

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here