Merasa Bahagia Sejak Dalam Mencari Bahagia

0
142

Judul Buku      : Tuhan, Saya Ingin Bahagia

Penulis             : Ngadiyo

Penerbit           : Dio Media

Tahun              : 2017

Halaman          : 256 halaman

Sudah menjadi fitrah manusia ingin hidup bahagia. Selama masih waras akal dan jiwanya, siapa pun dia pasti menginginkan kebahagiaan.     “Tuhan, saya ingin bahagia dengan belajar, berkarya, berasmara, berkeluarga, berteknologi, berolahraga, beragama, dan bersama TUHAN.” Begitulah doa yang dipanjatkan Ngadiyo, penulis buku Tuhan, Saya Ingin Bahagia (2017) yang tertulis di cover belakang buku.

Ngadiyo menempatkan Tuhan sebagai prioritas dalam penulisan bukunya—semoga juga dalam menjalani kehidupannya, Tuhan sudah disebut di kata pertama dalam judul dan kelak menjadi puncak alias klimaks kebahagiaan. Namun ketidakbahagiaan sudah menggentayangi kita sejak dalam pengantar yang ditulis oleh Udji Kayang Aditya Supriyanto di buku. Kita disuguhkan tokoh-tokoh penolak Tuhan di awal buku.

Ada delapan cara menggapai kebahagiaan di buku ini. Ngadiyo menempatkan Bahagia dengan Beragama pada bagian ketujuh dan Bahagia Bersama Tuhan di bagian kedelapan alias terakhir. Tentu, kita mesti pantang bernafsu menuju bagian akhir buku dan mengabaikan yang lain. Toh kebahagiaan itu tidak instan seperti mengisi perut yang lapar dengan membeli makan di warung ketimbang memasaknya sendiri.

Kita mesti membaca bukunya sedari awal karena sebuah kezaliman apabila tidak membacanya dengan sistematis. Ngadiyo mengawali bukunya dengan Bahagia dengan Belajar. Manusia sendiri sudah mengalami proses belajar sejak dalam rahim melalui laku dari ibu yang mengandungnya. Apakah dengan begitu kita sudah merasakan Bahagia dengan Belajar? Mestinya belum. Ngadiyo menyebut belajar itu berwisata merujuk pada opini dengan judul Seandainya Bersekolah itu Berwisata, terbit di Harian Kompas (20 Mei 2016) yang ditulis oleh Guru Besar ITB, Iwan Pranoto.

Namun karena bersekolah sendiri memiliki keterbatasan ruang dan waktu. Maka Ngadiyo menuliskan “Orang belajar tidak terikat pada ruang dan waktu: di mana pun dan kapan pun, baik belajar sendiri, belajar dengan guru, teman, atau lainnya” (hlm. 18).

Ngadiyo sangat antusias tatkala mengulas tema pendidikan—barangkali karena dia seorang pendidik. Bisa dilihat dari Bahagia dengan Belajar yang menempati bagian pertama dan paling banyak referensinya daripada yang lain. Mengenai metodik belajar yang membahagiakan kita bisa lebih mendalaminya dengan membaca buku Ngadiyo yang berjudul Buah Segar Pendidikan (2017). Kendati demikian, yang paling penting dari proses belajar adalah sering membaca! Dan mesti memilih bacaan yang bergizi demi kesehatan akal serta kepekaan rasa.

Setelah kita menuntut ilmu lantas selayaknya merepresentasikannya dengan amal. Hidup tentu akan lebih bermakna bila mampu berkontribusi di masyarakat. Maka seusai Bahagia dengan Belajar, Ngadiyo melanjutkan dengan Bahagia dengan Berkarya. Ngadiyo selama ini berkarya lewat teks. Beberapa buku dan esai telah dia tulis dengan tangan dinginnya dan beredar menembus ke mata para pembaca, dan semoga mengendap dalam pikiran.

Namun dia tidak serta-merta membatasi bahwa berkarya hanya melulu melalui tulisan saja. “Anda berhak menunjukkan eksistensi diri dalam menuangkan gagasan atau ide ke bentuk sesuai bidang yang diminati: sastra, arsitek, seni rupa, fashion, politik, kebudayaan, dan sebagainya. Apa pun wujud karya seseorang jelas membuktikan ketekunan, kerja keras, dan optimisme kuat agar hasil karyanya bermanfaat untuk orang lain. Paling tidak, dengan berkarya manusia menjadi eksis” (hlm. 81). Berkarya juga menjadi salah satu wujud syukur atas karunia yang Tuhan berikan.

Barangkali kita akan memasuki bagian yang paling menggairahkan di buku ini, Bahagia dengan Berasmara. Di bagian ini, Ngadiyo mengajak kita untuk menyelami cinta dari berbagai perspektif. Ngadiyo mengawalinya dengan kutipan dari Jalaludin Rumi, Risalah Cinta karya Ibn Hazm Al-Andalusi, menyingkap 50 buah rasa cinta yang dikemukakan Ibnu Qayyim Al-Juziyah, menjumpai Anthony de Mello, dan akhirnya bertemu tulisan mandraguna ala Erich Fomm, The Art of Loving.

Perjalanan literer ihwal cinta membuat kita menjelajahi beragam pemikiran tentang cinta. Tapi toh, cinta memang gak harus dimengerti, yang penting mesti dijalani dan dihayati. Implementasi nyata penghayatan dari cinta ialah berkeluarga. Maka penting bagi kita untuk segera melamar si doi. Agar kebahagiaan dalam berasmara bisa berlanjut di bahtera rumah tangga dengan bahagia.

Bagian selanjutnya adalah Bahagia dengan Berteknologi dan Bahagia dengan Berolahraga lebih kepada untuk mewaraskan gaya hidup keseharian zaman now. Melaraskan diri dengan berteknologi, sedangkan gaya hidup yang sehat dengan berolahraga. Ngadiyo ingin menunjukan bahwa laku bahagia generasi milineal dengan mobilitas yang tinggi—baik di dunia nyata maupun maya.

Salah satunya dengan mononton kisah Mark Zuckerberg saat berpidato pada kelulusan jenjang doktoral yang disiarkan langsung melalui akun facebook-nya. Teksnya bisa dibaca secara daring. Kita semua pun masih bisa menyimaknya kembali melalui gawai. Semua otomasisasi ini akan berdampak pada kesehatan ragawi maupun rohani. Maka dengan menjaga kesehatan kita mampu bermedsos dengan bijak.

Bagian pamuncak sebagaimana telah ditilik di awal teks adalah Bahagia dengan Beragama dan Bahagia bersama Tuhan. Mungkin bagi mereka yang sudah taat (menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) telah merasakan ketenangan di dalam hatinya. Namun bagaimana nasib hidup mereka yang terlanjur masuk ke jurang kenistaan? Mereka yang mendapat trauma atas polemik hidup kemudian menemukan kenyamanan dengan hidup bergelimang dosa? Apakah mereka tidak bisa hidup dengan bahagia?

Tentu sangat berlebihan ketika kita serta-merta menganggap mereka hidup dengan sengsara. Apalagi masing-masing dari kita itu unik. Apa yang membuatmu bahagia belum tentu membuat orang lain bahagia. Namun, berbagai fakta memperlihatkan bahwa ada hal-hal yang selalu berkaitan erat dengan kebahagiaan.

Maka kehadiran buku ini membantu pembaca untuk menyadari bahwa kebahagiaan bukan saja ketika kita dirasa sampai, namun juga saat menuju. Biar kebahagiaan kita tidak pendek-pendek amat. Buku Tuhan, Saya Ingin Bahagia barangkali juga menjadi bagian dari hidup Ngadiyo yang sudah bertahun-tahun dalam meraih kebahagiaan.

 

Penulis:

Indra Hartanto

Mahasiswa Prodi Teknik Mesin

Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here