Pernak-pernik Kehidupan Gerakan Mahasiswa

0
96

(Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Pabelan Pos edisi 56 dan ditulis ulang oleh Ahmad Hafiz Imadudien)

Gerakan mahasiswa lahir layaknya perjuangan untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, mewujud dengan lika-liku dan pengorbanan serta air mata yang bercucuran. Gerakan mahasiswa dimulai dari kekecewaan tehadap penguasa hingga tidak sabarnya mahasiswa dalam menikmati perubahan. Persamaan selain sama-sama melawan penguasa yang tidak adil adalah akhir perjuangan semua aktor protagonis yang terlibat dalam cerita itu menjadi sengsara dan meninggalkan kesedihan bagi keluarga. Dongeng tentang penculikan, penghilangan, dan bahkan pembunuhan sudah menjadi bayang-bayang bagi mereka yang mencoba bermain sebagai aktor protagonis dalam menghadapi kesewenang-wenangan penguasa. Pabelan Pos edisi 56 September 2002 pernah mengungkap sejarah dan alasan hadirnya pergerakan mahasiswa.

Awal abad dua puluh adalah awal dari hadirnya gerakan-gerakan mahasiswa di Indonesia. Waktu itu Indonesia masih dalam cengkraman tangan kasar Belanda yang sangat merugikan bangsa. Bukti dari hadirnya pergerakan mahasiswa saat itu adalah terbentuknya organisasi Budi Utomo oleh Dr. Soetomo pada 20 Mei tahun 1908 yang hingga sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Organisasi ini didirikan oleh Dr. Soetomo bersama beberapa mahasiswa dari School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) bernama Goenawan Mangoenkoesuma dan Soeradji.

Selain itu, organisasi lain yang berdiri di awal abad dua puluh adalah Trikoro Dharmo yang memiliki arti tiga tujuan mulia. Perkumpulan ini terbentuk karena banyak mahasiswa yang memandang Budi Utomo sebagai organisasi kaum elite. Satiman Wirjosandjojo resmi mendirikan Trikoro Dharmo pada tanggal 7 Maret 1915 di gedung STOVIA. Organisasi-organisasi itulah yang kemudian menjadi wadah persatuan mahasiswa dan pelajar Indonesia untuk menumpas kekejaman kolonial Belanda hingga puncaknya adalah tercetusnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Pergerakan seperti itu juga yang membuat Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta diculik dan diperintahkan segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Rektor UMS pada masa kepemimpinan 1996-2004, Dochak Latief, mengungkapkan bahwa gerakan mahasiswa sering terjadi karena mahasiswa menganggap penguasa atau pemerintah gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat dan mereka selalu ingin melihat dan merasakan perubahan sesuai keinginan mereka. Perubahan itu harus dimulai dari hal-hal paling mendasar dengan proses penyampaian pendapat yang mereka lakukan dengan cara radikal karena menggebunya emosi dan kurang matangnya pemikiran-pemikiran mahasiswa. “Mahasiswa terlalu muda sehingga muncul emosi daripada pemikiran matang dalam menyikapi masalah,” terangnya.

Penyampaian pendapat di muka umum memanglah dilindungi oleh undang-undang dan itu berhak dilakukan oleh siapapun selama kententuan-ketentuan penyampaian pendapat terpenuhi. Sebagai mahasiswa yang disebut agent of change memang perlu mempunyai sikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Tugas seorang mahasiswa yang tidak hanya menjadi pengkritik, namun juga menjadi pemecah dari masalah yang menjadi sorotannya.

Priyono, selaku Pembantu Rektor (PR) III, berpesan kepada seluruh mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah untuk tetap menjaga sopan santun dan tetap melaksanakan pergerakan sesuai dengan syarat-syarat murni pergerakan. Memiliki kejelasan konsep terhadap isu yang diangkat, mengedepankan intelektualitas, kuat, dan rasional yang tinggi dalam menyampaikan argumen, serta bisa memberi solusi dari setiap permasalahan. “Mahasiswa harus bisa melakukan fungsinya dalam peran intelektual dan sosial, mahasiswa sebagai pemecah masalah di kalangan masyarakat maupun negara,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here