Jomblo, Fluktuasi Ekonomi, dan Campur Tangan Pemerintah

0
70

Melihat konteks judul opini di atas sekilas memang terlihat sepele tetapi dibalik sepelenya status perkawinan seseorang ini dapat menentukan fluktuasi perekonomian suatu daerah bahkan negara.

Bagi kita, kaum milenenial, tentunya instagram sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pak Ridwan Kamil adalah salah satu pejabat yang dapat dikategorikan sebagai orang yang instagramable, karena seringnya beliau dalam mengupdate foto dan video di instagram.

Jika kita amati, apa yang sering dishare oleh Pak Ridwan Kamil berisi konten-konten status pernikahan, dan cenderung lebih kepada untuk mengampanyekan gerakan Ayo Menikah! bagi kaum jomblowan dan jomblowati.

Tentunya ini bukan tanpa maksud beliau sering membagi konten-konten yang seperti ini, dan ternyata tujuan utamanya adalah untuk meningkatakan pertumbuhan ekonomi kota Bandung, khususnya selama beliau menjabat sebagai walikota..

Lalu bagaimanakah status pernikahan dapat mempengaruhi perekonomian? Teorinya, ketika semakin banyak jumlah penduduk, maka kebutuhan aggregate yang dihasilkan juga akan meningkat, sehingga penawaran kebutuhan juga meningkat.

Untuk mendapatkan kebutuhan yang diinginkan masyarakat harus melakukan konsumsi, yaitu kegiatan ekonomi untuk membeli dan menggunakan barang dan jasa yang dibutuhkan. Nah, konsumsi inilah yang kemudian dapat berpengaruh secara langsung terhadap kondisi perekonomian suatu daerah atau bahkan negara.

Baca Juga Sofyan Anif: UMS Menuju World Class University

Hal tersebut memiliki hubungan yang bersifat negatif, yaitu ketika konsumsi aggregate melemah, maka kondisi perekonomian juga akan melemah. Penyebabnya adalah pendapatan nasional  menurun, dan begitu juga sebaliknya ketika konsumsi meningkat, maka kondisi perekonomian menguat karena pendapatan nasional meningkat.

Kegiatan konsumsi tentunya tidak bisa lepas dari masyarakat selaku subyek. Ada banyak kriteria masyarakat, masyarakat berdasarkan suku, masyarakat berdasarkan ras, masyarakat berdasarkan agama, masyarakat berdasarkan status sosial, masyarakat berdasarkan status pernikahan, dan sebagainya.

Terkait dengan beberapa kriteria masyarakat di atas jomblo masuk dalam kriteria berdasarkan status pernikahan, karena yang dinamakan jomblo adalah orang yang belum menikah dan belum punya keturunan.

Dalam penentuan besar kecilnya jumlah pendapatan nasional konsumsi memiliki peran paling besar, sebab dengan mengonsumsi maka akan banyak barang yang diproduksi sehingga keuntungan yang didapat produsen juga bertambah.

Suatu negara tidaklah berbeda dengan segelintir orang yang melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi. Pembeda antara negara dengan seseorang atau kelompok adalah terkait dengan perannya. Peran negara dalam proses keberlangsungan kegiatan ekonomi adalah sebagai pemrakarsa, pengatur, pengawas, pengontrol, dan pembuat kebijakan terkait dengan perekonomian.

Untuk menjalankan tugasnya, negara memerlukan biaya atau modal untuk proses pelaksanaannya. Biaya dan modal ini diperoleh dari aktivitas negara dalam berekonomi, misalnya sebagai produsen produk barang dan jasa, yang akrab disebut Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Peran negara dalam kegiatan produksi inilah yang kemudian memicu pertumbuhan pendapatan suatu negara. Sehingga, jika produksi yang dilakukan ingin mendapatkan keuntungan tentunya harus ada kegiatan mengonsumsi.

Pihak yang dijadikan sasaran konsumsi produk BUMN tidak lain dan tidak bukan adalah masyarakatnya sendiri, dengan persyaratan tidak akan mempersulit masyarakat baik berupa peraturan transaksi, harga beli, dan akses untuk memperolehnya.

Untuk memperjelasnya, akan lebih mudah apabila dibuat ilustrasi sederhana seperti berikut ini. Negara sebagai produsen yang menghasilkan produk untuk dijual kepada masyarakat, salah satu perusahaan produksi BUMN adalah PT PLN yang menjual sumber energi nuklir untuk kegunaan listrik, yang hingga saat ini sudah beroperasi mulai dari sabang sampai merauke.

Pada tahun 2015 laba yang diperoleh PT PLN sebesar 11,74 triliun dengan jumlah produksi kurang lebih 176 ribu dan pembelian kurang lebih 57 ribu. Dari data ini masih terlihat bagaimana konsumsi masyarakat terhadap listrik masih dikatakan minim, karena hanya sepertiga hasil produksi yang dimanfaatkan.

 

Rafiq Afif

Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan

 

Baca Juga PhD Games, Wadah Bakat Bidang Olahraga Mahasiswa Farmasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here