Sesal, Abdi Ketiadaan Sebuah Pilihan

0
153

Judul Film: Present Perfect

Tahun Rilis: 2014

Sutradara: Nattawut Poonpiriya

Skenario: Nattawut Poonpiriya dan Wattanapong Wongwan

Pemain: Sushar Manaying, Ongsritragul Natthaya, Oraphan Artsamat, dan Charttong Anavil

Produksi: Super Uber

“Kamulah yang membuat pilihanmu sendiri.”

Film berjudul Present Perfect garapan sutradara Nattawut Poonpiriya diunggah pertama kali melalui situs video daring Youtube empat tahun silam, tepatnya pada 28 Februari 2014. Film berdurasi 43 menit 50 detik ini hingga sekarang telah ditonton lebih dari 1,4 juta kali.

Film dengan kategori short film ini mengisahkan tokoh utama, Pam (Sushar Manaying), yang hobi berpesta dan memutar musik di apartemennya dengan volume keras, suatu hari dimintai tolong sang kakak (Oraphan Artsamat) untuk menjaga anaknya. Pam yang awalnya bingung karena tidak pernah mengurus anak kecil, perlahan menyukai anak kakaknya, UK (Natthaya Ongsritragul). Dalam rentang sepuluh hari bersama, mereka berhasil membuat kenangan manis tak terlupakan yang juga kemudian menguak kisah pahit masa lalu Pam.

Film ini menuturkan kisahnya secara runtut berdasarkan urutan hari, dimulai dari hari ke-1 hingga ke-9 serta bonus satu hari berjudul “last day”. Pada menit-menit awal, kita akan disuguhkan momen-momen lucu dan menggemaskan antara Pam dan UK yang didukung oleh teman Pam, Boy (Niti Chaichitathorn) dan tetangga apartemen, Best (Anavil Charttong). Tutur kata dan tingkah laku Boy yang jenaka sering membuat gelak tawa, tanpa kehadirannya suasana film hanya akan terasa sendu dan datar. Kemunculan Best kerap kali membuat salah fokus, bukan karena tutur kata dan tingkah lakunya tetapi wajahnya yang lumayan good looking.

Hingga ke pertengahan film semua berjalan baik-baik saja. Sampai pada hari ulang tahun UK di hari ke-9, Pam dan UK merayakan ulang tahun UK dengan mendayung perahu kecil di tengah danau. Dalam suasana yang bahagia itu, Pam dikejutkan dengan kemunculan Tum (Wutthiwat Thiticharatthanachoe) yang merupakan mantan pacar Pam.

Lazimnya, film dengan titel plot-twist kerap kali mengajak penonton berpikir, Memento misalnya. Tetapi untuk film yang satu ini, ringan dan tidak meminta kita berpikir. Penonton dibawa untuk mengikuti arus, menguak satu demi satu teka-teki yang merujuk pada kesimpulan akhir film; penyesalan akan selalu datang terlambat. Dan ketika sadar akan keterlambatan itu, seringkali kita berharap seandainya waktu dapat terulang kembali, supaya dapat membuat pilihan yang tepat sehingga tidak jadi penyesalan.

Penulis menyukai bagaimana film ini bertutur dengan jujur dalam mengisahkan tokoh utama dalam menghadapi konflik. Penulis menilai, meski film ini menawarkan premis yang sederhana tetapi Sutradara tidak lupa untuk menyelipkan cerita yang penuh makna.

Ditinjau dari segi cerita, plot dan penokohan sudah sangat rapi dan menarik. Nattawut Poonpiriya, selaku sutradara dan penulis naskah, berhasil menyuguhkan ide cerita yang simpel namun menyentuh. Semua aktor dan aktris bermain dengan porsi yang pas di film ini. Pam yang cantik dan UK si imut, seperti memiliki ikatan batin yang terjalin erat. Hubungan emosional kuat yang mereka pertontonkan secara perlahan mengena di hati, membuat terenyuh siapa saja yang menonton.

Terlepas dari suatu kelebihan, ada pula kekurangannya. Ada banyak pertanyaan yang dibiarkan mengganjal, seperti tidak diceritakan secara detail bagaimana hubungan Tum dan Pam di masa lalu. Jalinan hubungan antara UK dan Pam yang masih tersimpan sebagai rahasia bagi UK. Dan lagi, bagaimana kelanjutan kisah romansa Best dan Pam yang mulai terlihat.

Kisah Pam dan UK yang digambarkan dalam film ini mengilhami kita sebagai penonton untuk membuat keputusan dan mempertimbangkannya secara matang. Sekecil apapun keputusan, akan memberi pengaruh untuk kehidupan yang kita jalani kedepannya. Dari film ini, konsekuensi yang didapat dari kelirunya pengambilan keputusan akan berakibat penyesalan di akhir.

Dalam hidup, kita selalu punya pilihan. Tidak harus hal besar, menentukan pilihan kecil seperti mau makan apa hari ini, shampoo dan sabun apa yang akan kita gunakan. Apakah pilihan itu baik atau buruk, hanya kita yang menentukan. Tidak seperti Tum ketika beralasan melakukan ‘itu’ pada Pam dia mengatakan, “Aku tak punya pilihan.” Namun, Pam secara tegas membantah dengan wajah garang, “Kamu yang membuat pilihanmu sendiri.”

Secara keseluruhan, film dengan premis menarik ini berhasil menghipnotis penonton dengan ending-nya; sangat tidak terduga dan memainkan emosi. Bahkan penulis sangat mendukung adanya sequel atau mungkin versi layar lebar dari film ini supaya bisa melengkapi plot hole yang belum terjawab di short film-nya ini. Tentunya, dengan pemeran dan juga sutradara yang sama, supaya premis cerita yang dihadirkan tetap utuh dengan perkembangan lebih lanjut. Pada intinya, Present Perfect mengetuk sanubari kita untuk selalu berhati-hati dalam bertindak, dalam mengambil keputusan, dan dalam menentukan pilihan.

Annisavira Pratiwi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here