Jumud Literasi: Fakta Bukan Fiksi

0
144

Jumud literasi adalah fakta yang tidak dapat terbantahkan lagi menurut kesejarahan hidup manusia. Berangkat dari sejarah kehidupan Rasulullah SAW dan masyarakat jahiliyah di Makkah maupun di Madinah. Kata jahiliyah yang identik dengan arti kebodohan merupakan istilah klasik dari kejumudan literasi di era kontemporer (sebutan lainnya ada jahiliyah modern).

Jahiliyah tumbuh subur dan berkembang di kehidupan masyarakat Makkah maupun Madinah waktu itu, faktor penyebabnya karena doktrinal kuat dari ajaran nenek moyang terhadap kepercayaan mistisisme (animisme, dinamisme, dan taoisme). Maka salah satu strategi dakwah Rasulullah SAW agar membendung arus maraknya kejumudan literasi di masayarakatnya, yaitu dengan literasi kehidupan sosial di samping literasi ayat-ayat suci dari zat maha sempurna. Beliau kerjakan pesan literasi itu dengan bentuk penyampaian dakwah secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan sampai masyarakatnya terbebas dari belenggu kejumudan literasi zaman.

Jumud literasi merupakan fakta faktor utama keterbelakangan individu maupun kelompok dalam segala lini kehidupan, hal itu juga sudah menjadi gambaran masalah sejak purbakala yang mengakar adanya di dalam masyarakat Indonesia, seperti apa yang dialami masyarakat Makkah dan Madinah terdahulu. Masalah tersebut bisa terjadi dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan beragama dalam rangka dinamisasi berbangsa maupun bernegara menuju kesadaran masyarakat madani atau masyarakat berkemajuan, cerdas, dan berkeadaban.

Masalah itu juga bisa terjadi dalam keadaan sadar maupun tidak kita sadari. Terkhusus muslim mayoritas di Indonesia jangan sampai terjebak dan tergelincir pada pola-pola kejumudan literasi kontemporer.

Semakin canggih dan pesatnya teknologi informasi dan komunikasi masa kini, membuat seseorang tiap generasi (generasi A-Z) yang masih survive sampai saat ini, terlena bahkan terbuai dengan sampah-sampah literasi media berupa fiksi bukan fakta, yang tidak diketahui dengan jelas sumber keotentikan rujukan tulisannya dari mana berasal. Mereka dengan mudah menerima literasi instan atau fiksi populer dengan sebutan hoax dan menelannya secara mentah-mentah tanpa harus ada pertimbangan bersifat korektif.

Hal ini sangat perlu diperhatikan masyarakat di Indonesia yang mayoritas muslim, supaya tidak cenderung digelari fundamentalis dan radikalis oleh pihak-pihak yang tidak menyukainya, juga mereduksi sentimen-sentimen negatif bahwa masyarakat Indonesia mudah menjustifikasi, sebab yang disampaikan hanyalah hasil dan bersumber pada literasi fiksi omong kosong, karena dibuktikan dan dapat dipertanggungjawabkan dengan skala global dari peringkat minat literasi orang-orang di berbagai negara. Hasil survei minat literasi negara di berbagai belahan dunia menempatkan minat literasi orang Indonesia terendah berada pada urutan ke-2 terkahir dari total keseluruh 61 negara (Hasil sebuah studi dari Central Connecticut State university di tahun 2016).

Tak bisa dipungkiri kejadian itu eksis sampai awal tahun ini. Per Januari 2018, data di statistica.com menunjukkan sebuah fakta bahwa 44 persen populasi masyarakat Indonesia menggunakan gadget atau smartphone android untuk mengambil foto dan video saja, dimana hanya tiga persen yang menggunakannya untuk literasi buku dan majalah digital.

Fakta itu diperkuat lagi oleh studi dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang menunjukkan persentase minat literasi masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen atau 1 berbanding 10.000. Alasan premier penyebab itu semua adalah sulitnya akses terhadap buku. Adapun jika saat ini meningkat karena teknologi sudah canggih, itupun peningkatannya tidak akan terlalu signifikan karena tergantung pemanfaatannya yang beraneka ragam.

Saya kira, perlunya muslim di Indonesia (terbesar se-Asia Tenggara) juga menyadari betul, serta saling mengingatkan dan menguatkan bersama pentingnya untuk membuka, membaca, dan mengamalkan kembali syarat makna pesan yang terkandung dalam Qs. An-Nur ayat 11-15 dan juga ayat 19. Di situ diterangkan bahwa datangnya berita bohong (hoax) itu dari golongan sendiri juga, maka jangan menganggap langsung berita yang diterima itu baik atau buruk bagi si penerima.

Di situ jelas pula mengandung titik tekan perintah untuk literasi yang bersifat korektif terhadap segala bentuk berita apapun yang diterima, baik isi literasi yang diterima dengan disampaikan dari mulut ke mulut maupun berbentuk literasi tulisan. Sesungguhnya jika itu bukan sebuah rahmat bagi si penyampai isi literasi dan menyebarkan dalam bentuk fiksi, dia akan mendapatkan azab baik di dunia maupun di akhirat. Sebab, yang mengetahui dan maha mengetahui tentang kebenaran isi literasi itu hanyalah Allah SWT.

Sebuah autokritik datang dari gagasan berbentuk literasi tulisan oleh Azaki Khoirudin (Penulis Muda/Penulis Buku Teologi Al-‘Ashr: etos kerja KH. Ahmad Dahlan yang terlupakan) di dalam buletin Quadrum halaman 19. Tulisan ini berjudul “Jihad Literasi Melawan Literasi Instan”, bagi saya tulisan tersebut untuk membuktikan fakta betapa kekhawatirannya seorang penulis terhadap kegiatan literasi orang-orang di Indonesia yang terjerembab dalam kejumudan literasi.

Makna kata jihad di dalam judul tulisan, menurut saya menunjukkan betapa pentingnya berjihad universal di dalam lintas sosial kehidupan dengan cara-cara mendidik. Dalam hal mendidik (memperoleh social korektif value) ini adalah untuk generasi muda zaman now, teruntuk generasi muda muslim seperti seorang penulis tersebut.

Di beberapa paragraf awal tulisan gagasan itu menyebutkan bahwa masalah literasi di Indonesia adalah masalah klasik. Meskipun orang-orang Indonesia telah memiliki semboyan “sedikit bicara, banyak bekerja”, namun faktanya tidak demikian. Karena, tradisi oral-oral tetap saja berdiri kokoh dan mengakar kuat. Faktanya masyarakat Indonesia lebih suka ngobrol daripada menulis. Lebih suka mendengar dari membaca.

Bahkan perkembangan di media sosial, masyarakat lebih suka berkomentar dan menjadi penyebar informasi tanpa tradisi literasi yang kuat, daripada membaca.
Mengenai pentingnya literasi (membaca) masyarakat Indonesia sebenarnya sudah menyadarinya. Tetapi, menjadikan membaca menjadi sebuah habitus masyarakat, nampaknya membutuhkan perjuangan dan energi ekstra serta semangat yang tak pernah padam.

Ini adalah bentuk perjuangan atau jihad yang tak kalah mulianya dengan ibadah kata penulis muda Azaki. Ditambahkan, bahwa dapat dikatakan sebagai jihad literasi adalah bagian dari perjuangan mewujudkan tujuan agama karena sesuai dengan Maqashid Syariah, yakni (hidz al-aql: menjaga nalar). Bahkan konteks kontemporer (zaman millineal) menjaga nalar tidak sekadar menjaga atau merawat agar manusia memiliki “nalar sehat” tetapi lebih jauh mengembangkan, melipatgandakan daya nalar, daya pikir dan daya literasi dengan riset dan publikasi untuk memproduksi pengetahuan.

Terpenting bagi saya, banyak bukti diatas untuk memperkuat argumen ketika mewacanakan bahwa jumud literasi merupakan sebuah fakta dan bukan fiksi di samping bukti-bukti dari hasil riset lainnya. Fakta kejumudan dalam berliterasi ini yang seharusnya menjadi bagian peran sentral untuk diperangi pemuda saat ini. Termasuk tulisan ini, penulis sebagai pemuda Indonesia ingin mengajak dan mencipta habitus menulis di dalam masyarakat, terkhusus kaum muda, terutama yang masih bergelut di civitas akademika.

 

Penulis: Sawaluddin Eka Saputra (Juara I dalam lomba opini yang diadakan LPM Pabelan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here