Penyesalan Bukan Sebuah Hiburan

0
143

Beberapa hari ini aku mulai berpikir dan membayangkan hal-hal yang mungkin tidak pernah terbesit sedikitpun di anganku. Akhir-akhir ini, aku pergi jauh ke masa lampau lewat angan dari perenungan panjangku yang kerap kali membuatku gundah dan sering goyah. Sial memang, hal ini terus mengusik ketenanganku, mengusik perasaanku yang sedang merasa bahagia sebagai makhluk pemilik kesempatan untuk menjadi raja dunia.

Aku adalah lelaki, sebagaimana banyak dikatakan oleh orang, lelaki adalah pemimpin keluarga, bukan hanya itu, lelaki adalah penentu kehidupan sebuah bangsa. Ah, bukan, bukan untuk aku kata-kata itu. Aku lelaki yang tidak pantas mengemban kata-kata itu saat ini. Dua puluh lima tahun aku hidup, tak banyak prestasi kutorehkan. Tidak ada  piala-piala dan piagam-piagam penghargaan menempel dan berdiri tegak di dipan rumah indahku. Yaa, aku tidak pernah pula berpikir untuk itu, untuk menjadikan piala sebagai hiasan tempat tinggalku.

Benar, benar katamu, walau kecil benda itu akan membuat ayah ibumu bangga. Aku setuju dengan itu, tetapi sekarang tidak, tidak bisa aku seperti itu. Ibuku tidak pernah lelah sebenarnya mengingatkan aku.

“Hey, ayolah, kenapa kamu tidak belajar malam ini?”

“Tenang, Bu, besok di sekolah ada tamu dari dinas kabupaten,”

“Besok ada rapat guru-guru di sekolah, Bu.”

Seperti itu aku, punya banyak rangkaian kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku anggap basi dari ibuku. Pikiran busuk itu adalah salah satu faktor yang membuat aku menjadi seperti saat ini. Bobroknya iman yang aku miliki kala itu, membuat hidupku jauh dari mimpi-mimpiku.

Jangan salah, aku juga punya banyak sekali mimpi di anganku. Mimpi menjadi seorang pemain sepak bola termahal, keinginan jadi artis papan atas, kemauan jadi pemilik isteri tercantik sedunia, dan mimpi-mimpi indah yang membuatku melayang ketika aku membayangkannya. Mimpi itu saat ini, kurasa telang hilang, bukan karena aku sudah tidak menginginkannya, bukan juga karena aku berhenti membayangkannya, namun mimpi itu sirna karena pikiranku sudah penuh dengan bagaimana hidupku ke depan.

Aku baru saja menyadari apa yang selama ini mengganjal pikiran dan hati nuraniku. Perjalanan lebih dari dua puluh tahun terlewati, banyak hal yang harusnya aku lewati dengan penuh kebanggaan. Bagus hal itu, namun itu bukan aku yang dulu, aku yang dulu adalah aku yang sebaliknya.

Dua puluh tahun bagiku harusnya cukup, cukup untuk mengembangkan potensi diriku, meningkatkan kecerdasan otakku, dan pasti bisa membuat orang tua bangga memiliki seorang anak laki-laki seperti aku. Benar memang, bukan hanya aku keturunan yang dimiliki orangtuaku, orangtuaku punya tiga penerus dan itu semua adalah laki-laki. Hal itu membuat ibuku menjadi seorang wanita paling cantik di rumah. Ibuku menjadi wanita paling tangguh juga di rumahku. Tiga orang yang kalah jauh soal pengalaman dari orangtua ini pun tidak melaksanakan apa yang menjadi harapan dari ayah dan ibuku.

Anak-anak ini susah untuk berjalan bersama dan sulit untuk melakukan tugas-tugas rumah dengan ramai-ramai. Aku pun mendapati raut muka ibuku sering berbeda dan menjadi masam ketika aku tidak melaksanakan perintahnya. Fakta itu, membuat aku sedih sebenarnya, namun itu tidak dapat merubah waktu yang telah berlalu yang kemarin aku tidak melaksanakan perintah ibuku. Ya, itu sedikit kisah yang terjadi di dalam rumah tangga orang tuaku.

Di luar masalah keluarga, persoalan-persoalan dari sekolah pun juga tidak sedikit. Semua jenjang sekolah aku pernah mencicipinya, namun karena zamanku belum ada yang namanya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) aku tidak pernah memasuki jenjang itu. TK, SD, SMP, SMA, dan ramainya kampus aku pernah melalui itu semua. Enam tahun SD dan tiga tahun di SMP dan SMA sudah aku lewati dengan memakan total dua belas tahun kerasnya pendidikan dasar dan menengah. Bukan waktu yang sedikit untuk menghabiskan dan mengisi waktu hidup selama itu.

“Kalau besar nanti, kalian mau jadi apa anak-anak?” tanya guru SD kami sewaktu kami masih imut dulu.

“Mau jadi dokter, Bu Guru,” jawab temanku.

“Mau jadi polisi, Bu Guru,” ucap temanku.

“Mau jadi guru, Bu Guru,” ujar temanku.

“Aku mau jadi presiden, Bu Guru,” aku menjawab dengan nada semangat.

Begitu banyak mimpi kami dahulu dan kami pun juga punya rasa optimis dan percaya diri tinggi untuk memimpikan banyak mimpi yang besar. Itu dulu, ketika aku dan teman-temanku masih memikirkan kesenangan saja, belum mengenal istilah sedih karena cinta, tidak mengenal tangisan karena perpisahan, dan sedikit kenakalan karena gesekan sepele yang sorenya sudah terurai kembali seperti biasa.

Waktu kami SD tidak pernah terbayangkan jika kami gagal untuk menggapai mimpi-mimpi kami. Aku sangat-sangat yakin akan menjadi presiden di negara ini waktu itu, apalagi dulu aku adalah ketua kelas dan pemimpin upacara. Selain itu, kala aku duduk di bangku sekolah dasar, aku adalah salah satu siswa laki-laki yang menjadi pesaing berat dalam perebutan peringkat di kelas sewaktu ujian kenaikan kelas. Aku pikir dengan modal itu, aku bisa memiliki jalan lurus dan lapang untuk menggapai apa yang aku cita-citakan di masa depan. Ya, hanya itu saja prestasiku selama menjadi seorang pelajar.

Awakdewe, meh sekolah nandi ki?” tanya temanku setelah selesai ujian nasional.

Aku paling meh nang MTs wae, seng murah,” sahut temanku yang lain sambil meminum es teh bungkus dengan sedotan plastik.

“Kalau aku, mau coba ke SMP Negeri dahulu sebelum ke MTs,” aku ikut menjawab pertanyaan temanku Ricky.

“Wah, kita bakal berpisah dong tiga tahun nanti kalau beda sekolah,” Tarmi menyambung obrolan kami.

Pikiran itu benar adanya, kami terpisah dan kami memulai keseharian kami dengan orang-orang baru. Orang yang memiliki karakter berbeda dengan orang yang selama enam tahun selalu bersama. Menurutku, dari sinilah titik penentu hidupku, dari sini aku mulai merasakan tidak mudahnya menjadi seorang yang berpengaruh di masyarakat. Masa-masa ini juga membuat aku mengerti bahwa tidak semua yang kau inginkan akan tercapai dengan modal seadanya. Cita-cita dan impian yang dahulu sangat banyak terpikir dan tercatat, seiring berjalannya waktu semakin banyak yang kucoret karena ikut lunturnya rasa percaya diri untuk menggapai semua mimpi itu.

Aku menganggap, apa yang kulakukan terhadap daftar mimpiku tidak salah. Kenapa? Aku menyadari bahwa kelakuanku selama di sekolah menengah bukanlah cerminan untuk menggapai mimpi yang besar. Seringnya datang terlambat, kebiasaan mengerjakan PR di sekolah, sukanya tidur waktu guru menjelaskan, dan tidak pahamnya aku ketika disuruh mengerjakan soal di depan teman-temanku membuatku semakin yakin bahwa menjadi presiden hanyalah angan kosongku sewaktu aku belum terkontaminasi teman-teman yang berpikiran negatif dan sewaktu aku masih menjadi seorang pemimpi yang tidak terbendung untuk bermimpi.

“Anak-anak, kalian adalah penerus bapak ibu di sini, kalau bukan kalian yang mengganti, siapa lagi? Apa mau orang-orang gelandangan tanpa pendidikan itu yang akan menggantikan kami? Tidak mungkin kan, jadi belajarlah dengan rajin dan sungguh-sungguh,” seperti itu pidato kepala sekolah sewaktu kami masuk pertama kali di SMA.

“Pak, pak, kami pinginnya juga begitu, tetapi kenyataan gimana, kami aja makan susah, mau kuliah pakai uang siapa?” bisik Ipan di telinga kananku.

“Lah, kok mikir mau kuliah, setelah lulus nanti aja, aku pesimis bakal dapat kerja atau tidak,” balas Eindri yang duduk di kanan Ipan.

Hal seperti itulah yang membuat aku merasa sangat sulit untuk mengembangkan potensi dan menumbuhkan semangat belajar untuk mengubah nasibku dalam memahami setiap ucapan yang dilontarkan guruku di dalam belajar mengajar. Keadaan itu, berlangsung selama tiga tahun aku berada di SMA, apalagi SMA ku adalah salah satu sekolah yang memang berisi siswa-siswi yang gagal dalam perjuangan masuk ke sekolah milik pemerintah, yang pastinya sekolahku adalah sekolah yang dihuni oleh siswa-siswi yang didominasi minim prestasi. Ibarat kata, aku ada di dalam kerumunan perampok yang mana hanya ada dua pilihan untukku, pilihan pertama adalah ikut meraka dengan selamat, namun harus menjadi buruk atau membangkang dengan risiko mati mengenaskan.

Penyesalan bukan sebuah hiburan, aku baru menyadari itu, penyesalan bukanlah sebuah tindakan yang akan membuatmu semakin tersenyum lebar jika kau hanya diam dan tidak melawan. Penyesalan harus kau tikam dengan cara bangkit dari keterpurukan untuk berani melangkah dan berteriak,  “Aku masih punya masa depan, Aku masih punya harapan!”. Bukan saatnya lebih sayang pada penyesalan, hingga melupakan bangsa besar Ini dan banyak kesempatan untuk menjadi seorang saudagar. Jangan pernah kembali melakukan kesalahan-kesalahan mendasar dalam belajar dan jadilah seorang yang berprinsip seorang panglima besar. Itu sedikit hikmah yang bisa kuambil dari perjalanan panjang selama kurang lebih delapan belas tahun.

 

Penulis: Ahmad Hafidz I

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here