Hahahehe dalam Student Government

0
77

Saya mahasiswa biasa, tidak ada afiliasi dengan apapun.

    Yah, cuma deklarasi aja, nanti ngeri dikira macem-macem.

            *

Sungguh, kalau saya tidak membaca koran edisi Pemilwa, saya nggak ada tahu-tahu itu presiden dan wakil presiden total suaranya berapa-berapa, yang nyoblos berapa persen, dan konstelasi (kayaknya) panasnya Pemilwa tahun ini kayak gimana, lha iya wong saya mah mahasiswa biasa dan gak punya jabatan apa-apa, mana berani mahasiswa biasa kayak saya ikut diskursus yang seram-seram, paling yo cuma bisa nonton live debat Capres-cawapres di Instagram KPUM dan ghibah di Line yoan. Gak bisa verif ke mana-mana pula, untung ada Pabelan, alhamdulillah J! Sampai opini ini saya tulis pun, saya belum tahu  pula DPM itu sesiapa aja, dan tetek-bengek lainnya kayak apa.

Ah.

Sudahlah teman-teman mahasiswa, Pemilwa memangnya buat apa lagi?

Jika ia hanya menghasilkan kebencian-kebencian, saling menghujat, dan contoh yang buruk tanpa menghasilkan bagi-bagi takjil gratis, atau kopi di tengah malam?

Jika ia pula hanya membuat mahasiswa lainnya menyaksikan huru-hara adu argumen, serang sana-sini, tanpa tahu mereka apa yang sedang terjadi?

Apa perlu membuat UMS Netizen Club yang isinya memberikan kronologis dari A sampai Z, pandangan publik, orang-orang penting dan sebagainya hanya untuk membeberkan informed consent pada seluruh pasien Pemilwa agar pikiran kita bisa waras sedikit menghadapi gejolak?

Bagi sebagian yang memilih dirinya untuk berpartisipasi dalam Pemilwa, tentu berhak tahu secara holistik dan runtut tentang sebenarnya apa yang menjadi masalah dalam Pemilwa setiap tahunnya, mungkin bisa pakai metode Siaran Pers, Hak Tanya, Hak Jawab, kronologis peristiwa, dan sebagainya, ini kolom opini Pabelan yang baca banyak lho, kalo kurang banyak, yo Instagramnya diaktifin tho.

Kita, para rakyat yang menyaksikan tentu ingin bagaimana masa depan pemerintah Indonesia dibangun dari kesadaran bertoleransi dalam politik praktis di kampus dan secara sadar menerapkan seluruh ihwal yang berkenaan tentang kemanusiaan, penghargaan, dan cinta kasih.

Jadi, saya pribadi mengajukan sebuah opsi, silahkan bisa dipakai kolom opini Pabelan, atau mungkin media-media lain yang bisa dipakai (itupun kalau ada), untuk seluruh elemen mensucikan diri masing-masing dari lumuran dosa politik. Banyak orang yang tersakiti di luar sana karena tingkat laku segelintir orang, kan gak bagus juga megang amanah dari beban, dendam, dan rasa permusuhan.

Dan, kalau itu tidak bisa, mari kita merunut pada apa yang sering dibilang pepatah, “Kadang ada kalanya kamu harus tertawa untuk menyelesaikan kesedihan.” Maka, mari kita lebih banyak berhahahehe dan lupakan semua tentang politik kampus. Mari tidur, dan voila, keesokannya tiba-tiba pemerintahan mahasiswa jadi luar biasa bagus, dewasa, dan terkendali.

Lalu Spongebob berkata, “Imajinasi.”

 

Penulis: Aesna*

*Nama pena dari Ghiyats Ramadhan.

Mahasiswa Fakultas Farmasi UMS

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here