Selesai Namun Tak Jadi

0
44

Sebagai tukang stempel kayu yang ulung, Kusnan atau lebih akrab disapa Kus tentu tahu kapan waktu yang tepat untuk menjemur stempel pesanan para pelanggannya. Biasanya dia menjemur stempel saat matahari sedang terik dan itu hanya membutuhkan waktu lima menit, tapi untuk hari itu dia menjemurnya lebih lama. Dia tidak mau stempel kali ini gagal.

Lapak stempel Kus berada di barat alun-alun kota dan kebetulan masih satu kompleks dengan kompleks perkantoran kabupaten. Lapaknya sederhana, hanya sebuah gerobak berwarna biru dan dia modifikasi sedemikian rupa agar alat perlengkapan pembuatan stempelnya aman dari tangan-tangan jahil para pencuri.

Biasanya Kus membuka lapaknya pada hari Senin sampai Sabtu, jam delapan pagi sampai pukul tiga sore. Di hari Minggu dia sengaja tak membuka lapaknya, Kus beranggapan hari Minggu bisa menjadi jeda setelah melakukan pekerjaan saban hari, hari itu biasanya dia habiskan waktunya untuk berkumpul bersama anak-anaknya di rumah. Dulu dia juga sering membuka lapaknya pada hari Minggu tapi semenjak istrinya meninggal karena tabrak lari, Kus enggan lagi bekerja di hari Minggu. Meski jarak rumah dan lapak Kus hanya sekitar tiga kilometer tapi dia telah membuat janji pada isterinya bahwa hari Minggu akan dia habiskan bersama anak-anaknya

***

Hampir semua pegawai yang bekerja di kompleks perkantoran Kabupaten sudah tahu dan mengenal Kus, karena sebagian dari mereka pernah memesan stempel pada Kus, bahkan ada juga yang menjadi pelanggan setia Kus, mereka yang menjadi pelanggan setia Kus biasanya  para pegawai yang rata-rata curang, memesan stempel untuk me-mark up nota atau membuat stempel guna laporan-laporan palsu dari proyek palsu pula yang biasanya mereka buat. Kus bukan tidak tahu-menahu soal itu, bahkan dia sepenuhnya sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah hal yang salah, memuluskan jalan mereka untuk membuat laporan-laporan imitasi atau memanipulasi anggaran, tapi Kus juga berpikir, memang apa yang bisa ia lakukan untuk mencegah hal itu. Bukankah dengan dia mencegah keburukan itu sama saja dengan membunuh jalan nafkahnya sendiri. Kus hanya berpikir bahwa dari pulang kerja dia bisa mendapat uang untuk membeli kebutuhan pokok, memberi uang saku dan membayar biaya sekolah kedua anaknya yang masih duduk di kelas satu dan dua sekolah dasar.

Kus sudah bergelut dengan dunia perstempelan hampir enam belas tahun. Sejak dia bujang sampai sekarang, dimana dia sudah punya dua anak. Dari stempel kayu model cukil sampai sekarang stempel kayu yang bermodel filman kertas kalkir sudah pernah ia buat. Kus mengenal dengan sangat baik kapan waktu yang tepat untuk membuat stempel yang sempurna, bukan hanya tahu tentang waktu pembuatan stempel tapi dia juga hapal dengan ukuran standar stempel. Misal saja untuk stempel dinas berbentuk lingkaran Kus mengatakan ukurannya biasanya 3,8 centimeter, untuk stempel model legalisir ukurannya tak boleh lebih dari 6,5 centimeter dan untuk stempel RT biasanya selalu berubah, sesuai dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten.

***

Zaman seakan terus berlari dan manusia pun dituntut untuk mengikutinya. Siapa yang tertinggal jauh memang akan diabaikan begitu saja, termasuk Kus. Dia memang ngelotok tentang stempel kayu tapi keadaan sekarang sudah berubah, kebanyakan orang lebih memilih stempel model digital yang pembuatannya lebih cepat dan bisa memilih warna sesuka hati pemesan meski harganya lebih tinggi. Lapak Kus sekarang lebih akrab dengan sepi. Di hari dan jam kerja Kus paling banter mendapat tiga pesanan stempel kayu. Harga setiap stempel sekarang dua puluh lima ribu, itu pun masih harga kotor karena belum dikurangi kulak karet bahan stempel dan gagang kayu. Keuntungan bersih dari setiap stempel hanyalah lima ribu rupiah. Kus masih bersyukur bisa membawa pulang uang lima belas ribu rupiah meski dia juga bingung bagaimana memutarkan uang itu untuk kebutuhan makan dan sekolah anaknya. Sempat dia berpikir dan punya keinginan untuk beralih pekerjaan menjadi buruh tani atau buruh bangunan pun tak masalah dan hal itu pernah ia coba seminggu. Tapi karena gajinya tak seberapa, akhirnya dia menyerah dan kembali pada dunia stempel.

***

Sabtu sore dimana kebanyakan orang lebih bersantai dan bergembira karena esoknya adalah hari libur menjadi hari yang berbeda untuk Kus. Sabtu sepulang Kus dari lapak stempelnya, dia disambut tangis kedua anaknya, hal itu juga yang membuat Kus seketika mengeluarkan air dari salah satu panca inderanya, mata. Kedua anaknya mengadu bahwa mereka lapar. Tak ada kata yang diucap Kus, dia hanya megeluarkan uang sepuluh ribu setelah merogoh sakunya. Hari ini, satu pun pesanan stempel tidak ada, uang sepuluh ribu dia dapat karena dia utang Parmin-salah seorang teman yang berprofesi sebagai tukang becak. Bukan tanpa usaha untuk hari ini, Kus sudah buka lapak stempel lebih lama dari hari biasanya. Dia juga sudah wara-wiri mencari utangan tapi tetap gelengan kepala yang dia dapat dari teman-temanya. Lingkaran kemiskinan dirasa Kus menyeret orang-orang seperti dirinya dan kawan-kawan lain yang tak beda jauh dengannya, semisal Parmin. Sebenarnya, bukan hanya hari ini, lebih tepatnya sudah satu minggu ini tidak ada pemesan stempel di lapak Kus.

Akhirnya keputusan berat dibuat Kus, dia terpaksa melanggar janji yang dulu dia buat kepada almarhumah istrinya. Besok dia akan buka lapak stempelnya, berharap ada satu pemesan stempel untuk besok. Dia bulatkan tekad itu sembari mencoba menenangkan kedua anaknya yang belum berhenti isak tangisnya.

Matahari Minggu terbit. Pagi belum ada pukul delapan Kus sudah berangkat ke lapak stempelnya. Dia berharap besar untuk hari ini ada satu pemesan stempel, satu saja baginya sudah cukup daripada tidak ada sama sekali.

Pagi diganti siang, siang diganti sore. Tak terasa waktu cepat berlalu namun satu pemesan seperti yang diharapkan Kus belum juga ada. Kus memainkan gagang kayu stempelnya sembari menahan lapar karena dari pagi belum makan. Perutnya hanya di isi air dan gorengan yang tadi dibawakan seorang teman yang kebetulan mampir untuk ngobrol di lapaknya.

Azan asar terngiang di telinga Kus, dia biasanya segera menutup lapaknya ketika asar tiba, namun untuk kali ini berbeda. Kus tidak terburu untuk menutup lapak dan setia menunggu meski sedikit harapannya untuk mendapat orderan satu stempel mulai luruh. Kus tahu dan menyadari resiko membuat stempel di jam-jam dimana matahari mulai redup. Stempel kayu membutuhkan matahari, bukan pada sinarnya saja tapi terlebih pada daya ultra-violet matahari.

***

Terdengar mobil yang berhenti. Lelaki paruh baya keluar dari sedan putih. Menghampiri Kus dan berkata bahwa dia memesan stempel kayu cepat. Kus girang bukan main. Resiko kegagalan membuat stempel di sore hari dia acuhkan. Dia langsung membuat stempel sembari bercerita dengan pemesan yang menunggu. Tidak sampai setengah jam stempel digosok Kus, namun jauh panggang dari api. Stempel tak jadi, terlalu cepat dia menjemurnya. Harapannya untuk mendapat upah satu stempel hilang. Namun lelaki itu memberi Kus uang meski stempelnya gagal. Seratus ribu uang yang dibayarkan pada Kus sembari berkata, “Stempelnya saya ambil besok saja.”

Lelaki itu pergi. Keesokannya dia tak datang. Berhari-hari Kus menunggu kedatangan lelaki itu tapi lelaki itu tak pernah datang juga ke lapak Kus. Sampai akhirnya di sebuah koran yang tidak sengaja dilihat Kus tertera kabar duka pada sebuah halaman orbituari koran hari itu.

***

Begitulah yang Kus ceritakan padaku, usai para pelayat pulang dari rumah duka. Air mata Kus berlinang dan mulutku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun seperti stempel kayu yang terlalu lama di jemur, kaku. Jasad Ayahku yang berbaring di peti mati dan arwahnya telah ada dilangit mungkin juga menyaksi air mataku dan air mata Kus.

 

Penulis: Ruly R

Tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Litersi Kemuning. Kumcernya yang akan segera terbit berjudul Cakrawala Gelap dan Novel pertamanya yang akan segera terbit berjudul Tidak Ada Kartu Merah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here