Mengenal Kejujuran, Mengenal Botchan

0
36

Judul Buku: Botchan

Penulis: Natsume Soseki

Penerjemah: Indah Santi Pratidina

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan:  Ketujuh, 2017

Tebal Buku: 224 Halaman

ISBN: 978-602-03-3167-6

Botchan menjadi guru Matematika di sekolah menengah setelah mendapatkan tawaran pekerjaan dari kepala sekolahnya di daerah terpencil bernama Shikoku; kota kecil yang jauh dari Tokyo dengan logat bahasa yang jauh berbeda. Sebuah kota kecil dengan sekolah yang menyimpan anak-anak usil di dalamnya.

Awalnya keusilan siswa-siswanya masih sebatas meledek. Namun lambat laun, tingkat keusilan mereka meningkat. Mulai dari membuat kegaduhan hingga memasukkan belalang ke balik selimut yang digunakan Botchan untuk tidur. Ajaibnya, tak ada rasa bersalah sedikit pun yang tergambar dalam raut wajah anak-anak itu. Sebab itu Botchan berang. Apalagi, rupanya ada dalang di belakang tingkah nakal anak-anak.

Memiliki sifat keras kepala dan emosi yang meledak-ledak, Botchan memang tipikal guru yang akan membuat siswanya semakin senang untuk mengerjainya.Namun harusnya hal itu hanya terjadi di awal-awal perjumpaan saja. Sebab, semakin banyak lembar halaman yang dibuka, kita akan tahu bahwa Botchan memiliki banyak sifat yang harusnya dihormati, tak hanya siswanya, namun juga oleh guru-guru lainnya. Ialah si pemberontak yang akan mengedepankan keadilan dengan kejujuran.

Bagi Botchan, jika kamu tidak punya nyali untuk mengakui tindakan yang telah kamu lakukan, lebih baik sejak awal kamu tak perlu melakukan tindakan itu. Hal sepele yang sering kali kita abaikan, berkelit dan enggan mengakui kesalahan. “Kalau kau melakukan sesuatu, kaulah si pelaku; kalau kau tidak melakukannya, berarti kau bukan pelaku. Sesederhana itu.” (hlm. 66).

Sebab itu ia tetap keras kepala untuk menghukum siswanya yang telah melakukan kesalahan agar mereka menyesali tindakan yang sama sekali tidak benar itu. Sayang, para guru dan kepala sekolah tidak ada yang mendukung keinginannya. Hal yang sebenarnya cukup sering dilakukan di Indonesia dengan kedok agar tidak terlalu keras kepada siswa dan justru membuat sebagian dari mereka lebih bertingkah semena-mena.

“Kata pendidikan tidak hanya berarti memperoleh pengetahuan akademis. Pendidikan juga berarti menanamkan semangat mulia, kejujuran, serta keberanian, lalu menghapuskan kebiasaan licik, usil, serta tak bertanggung jawab.” (hlm. 112).

Botchan memiliki prinsip hidup yang sederhana, hal yang membuat Kiyo, seorang wanita tua yang dulunya menjadi asisten rumah tangganya, begitu menyayanginya sekaligus mengkhawatirkannya. Botchan terlalu lurus dibanding dengan orang-orang yang hidup di sekelilingnya. Prinsip hidupnya cukup menjadi orang yang jujur dan berterus terang, suatu sifat yang begitu naif. “…Kalau dipikir-pikir, sebagian masyarakat malah mendorongmu untuk bertindak jahat. Mereka seolah percaya tanpanya, kau tidak akan bisa sukses dalam kehidupan.” (hlm. 91)

Sadar tidak sadar, memang begitulah cara kita bertindak menjalani kehidupan sehari-hari. Apapun yang kita lakukan pada akhirnya kembali lagi pada penilaian masyarakat; sedikit banyak telah mendorong kita untuk melakukan sesuatu dengan cara yang salah agar mereka memandang baik apa yang ada di diri kita. Tapi kembali lagi, bukankah semua keputusan ada pada masing-masing individu?

“Selama saya tidak melakukan sesuatu yang salah, keadaan akan baik-baik saja, bukan?” (Hlm. 90)

Toh nyatanya Botchan sadar meski ia berbuat demikian, orang tidak serta merta memandangnya sebagai orang yang terhormat. Ia bahkan sadar betul bahwa sifat jujur dan terus terangnya menjadi sumber dari masalah-masalah yang menimpanya.

“Apa yang bisa kaulakukan di dunia dimana kepolosan dan kejujuran ditertawakan?” (Hlm. 91).

Selain Botchan, ada banyak tokoh dengan karakter yang menarik untuk diikuti seperti Hotta yang diam-diam selalu membela mereka yang baginya benar, kepala sekolah yang diberi julukan Tanuki dengan karakter pandai berkelit, si Kemeja Merah yang selicin belut dan sepandai tupai, si guru seni atau si Badut yang arogan, serta Koga atau si Labu yang menjalani hidupnya tanpa semangat dan begitu pasrah.

Barangkali begitulah cara masing-masing orang bertahan hidup; Natsume berhasil menggambarkan karakter tokoh-tokoh itu dan membuatmu jadi mengingat karakter orang yang ada di sekelilingmu, atau barangkali malah dirimu sendiri. Meski merupakan karya sastra klasik yang ditulis pada tahun 1906, Botchan kental dengan satire yang dekat dengan masyarakat saat ini.

Meski dibuka dengan alur yang lambat dan datar hingga terasa membosankan, tapi begitu setengah buku terbaca, percayalah, kamu akan terseret masuk ke dalam dunia Botchan yang naif ini. Buku setebal 224 halaman itu akan membuatmu berpikir tentang bagaimana caramu hidup selama ini; menjadi orang yang terbawa arus atau tetap bertahan.Kamu akan paham seiring dengan lembar demi lembar yang terbuka dan cobalah selami karakter mereka.

Penulis: Dian Aulia Citra K

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here