Krisis Arab, Populisme, dan Kegelisahan Buya Syafii

0
49

Judul : Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam

Penulis : Ahmad Syafi’i Ma’arif

Penerbit : Bunyan

Cetakan : Pertama, Maret 2018

Tebal : 222 Halaman

Persatuan nampaknya masih sebatas harapan bagi umat Islam di penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia. Pasca peristiwa Arab Spring, kondisi politik negara-negara Islam di Timur Tengah yang tak kunjung membaik menimbulkan pesimisme tersendiri di kalangan umat Islam. Ironisnya, dalam suasana yang runyam seperti itu, fanatisme mencuat seiring dengan fenomena politisasi agama.

Keruwetan politik Timur Tengah, mulai dari despotisme presiden Mesir, percekcokan pangeran Arab Saudi, hingga yang jadi lagu lama seperti  perang saudara di Suriah, dan konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina masih terus berlangsung. Sorotan media internasional seolah terkonsentrasi pada Timur Tengah sebagai pusat gejolak tersebut.

Bertolak dari hal itu, tak heran jika cendekiawan-cendekiawan Muslim di berbagai belahan dunia mulai angkat bicara mengenai rekonsiliasi dan perdamaian. Di Indonesia, yang mengambil peran itu salah satunya adalah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif yang biasa disapa Buya Syafii dan merupakan salah satu cendekiawan Muslim Indonesia terkemuka saat ini.

Selepas memangku jabatan sebagai ketua Muhammadiyah, Buya Syafii tampak lebih leluasa menyuarakan aspirasi-aspirasi pluralisme-nya di hadapan publik. Karakternya sebagai salah satu produk migrasi intelektual Muhammadiyah menunjukkan persistensinya sebagai wakil ”Islam kontekstual” di tubuh umat Islam Indonesia.

Sayangnya, pasca tuduhan penistaan agama yang dalamatkan pada Ahok, serta merebaknya  gerakan massa dengan kode nomor, pamor Buya Syafii ibarat kalah dari nama-nama baru seperti Felix Siauw ataupun Adi Hidayat. Preferensi keagamaan umat Islam Indonesia mulai bergeser dari rasionalitas ke populisme yang berbasis agama dan politik.

Fenomena-fenomena populisme semacam itu yang menjadi pangkal kegelisahan Buya Syafii. Dalam buku Krisis Arab dan Masa Depan Umat Islam ini, Buya Syafii memang memang tidak terang-terangan menyebut populisme sebagai atensi utamanya. Akan tetapi tulisannya adalah rekaman analisis mengenai sifat-sfiat populisme yang di dalamnya bersemayam kejumudan, intoleransi, politik, kekuasaan, hingga despotisme.

Buku ini diawali perhatian Buya Syafii terkait peradaban Arab. Buya Syafii mengkritik peradaban Timur Tengah dengan mulai merekonstruksi cerita perang Shiffin yang disebut Buya sebagai musabab dari dikotomi Sunni dan Syi’ah. Cerita perang Shiffin ini menurut Buya harus menjadi pelajaran agar di kemudian hari umat Islam tak terjebak pada polarisasi yang berlebihan (Hal.41).

Buya menyayangkan kebencian yang mengakar di antara kalangan Islam Sunni dan Islam Syiah. Ia menganggap dialog perlu diadakan untuk perdamaian.  Sejarah memang mencatatkan pernah terjadi suatu peristiwa yang mengakibatkan perpecahan ini. Sejarah itulah yang disebut-sebut oleh buya agar dipelajari lagi untuk memunculkan agenda rekonsiliasi.

Sebagai contoh Buya menuliskan sosok yang membunuh Ali Bin Abi Thalib dalam shalatnya sebagai orang yang taat beribadah dan kecewa pada keputusan Ali. Ia yang taqlid buta terhadap teks ini kemudian memutuskan membunuh Ali. Figur inilah yang dalam sejarah perang Shifiin mengambil peran dalam perpecahan umat Islam. Buya menonjolkan fragmen sejarah itu sebagai contoh kesalahpahaman memandang teks Al-Qur’an yang menyebabkan perpecahan. Oleh Buya hal itu dikhawatirkan terulang kembali di masa kini.

Di esai yang lain, yang berjudul Krisis Peradaban Arab (Hal.156) Buya Syafi’i memberi kredit positif bagi pemikir Arab diaspora bernama Khaled Abou El Fadl. Dalam tulisan itu, Buya menyetujui sebagian dari kritik yang dilontarkan oleh Khaled mengenai modernisasi Islam yang macet lantaran agama menjadi tameng politik para penguasa di beberapa negara Arab.

Bagi penulis pribadi, ini salah satu esai yang menarik. Karena jika kita menguliti rekam jejak kedua sosok ini, sesungguhnya ada temali yang menghubungkan pemikiran pembaharuan kedua figur tersebut. Analisis Khaled dan Buya Syaifii hampir serupa, mencakup antara sejarah, politik, dan diskursus agama. Lalu, sifat kedua orang ini yang tak takut pada caci maki, dan intervensi demi kejujuran intelektualnya merupakan parrhesia yang representatif bagi umat Islam.

Sedangkan Esai Al-Qur’an, Umat Islam, dan Persaudaraan Universal adalah seruan Buya untuk umat Islam, supaya mempelajari Al-Qur’an secara meluas dan mendalam. Dengan pemahamam yang luas dan dalam, inti universal Al-Qur’an yakni persaudaraan yang universal bisa terealisasikan di masyarakat. ”Al-Qur’an tidak diragukan lagi memerintahkan agar umat manusia menggiring bola sejarah kepada pilihan yang pertama : yaitu Persaudaraan yang universal (Hal.146)

Tiga esai di atas menggambarkan inti pemikiran Buya dalam buku ini. Kritik peradaban Arab secara tidak langsung menggambarkan kritik buya atas kecenderungan umat Islam Indonesia yang bersimpati dengan gerakan trans-nasional. Rekonstruksi perang shiffin adalah suara kerpihatinan Buya terhadap intoleransi umat Islam pada sesama saudara Islamnya. Sedangkan esai terakhir merupakan contoh bagaimana memahami kitab suci sebagai pedoman persatuan umat Islam, bukan ijma’-ijma’ yang intoleran.

Sebenarnya masih banyak esai-esai Buya Syafii yang bisa dibaca. Namun pada intinya, sepilihan esai-esai Buya Syafi’i ini menunjukkan kegelisahan Buya terhadap kecenderungan umat Islam di Indonesia yang mulai gagap mengkonstekstualisasikan pemahaman agamanya. Buya memblejeti kebobrokan praktik politik di Timur Tengah dan menanamkan pemahamannya mengenai Al-Qur’an sebagai bahan pemebelajaran kritis untuk para pembaca.Tujuannya, tak lain dan tak bukan adalah untuk persatuan umat.

Lantas, selain menghimpun serangkaian kegelisahan Buya Syafii ihwal konservatisme umat Islam di Timur Tengah, buku ini secara lugas menampilkan ide-ide ”Berkemajuan” Buya Syafii. Tak hanya berkisar di isu-isu politik saja, perdebatan teologis dan ide-ide reformasi Islam yang termuat membuat buku ini mengesankan karakternya sebagai salah satu buku bernas yang memuat ide-ide pluralisme dan modernisasi Islam.

Di sisi lain, meski hanya berisi kumpulan-kumpulan esai, buku ini dapat menjadi salah satu referensi penting bagi umat Islam di Indonesia untuk memahami kaitan antara serangkaian konflik yang terjadi di negara-negara timur tengah dan fenomena laku kehidupan beragama masyarakat Indonesia termutakhir.

Penulis: Taufik Nandito

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here