Menjumpa Generasi Z dalam Masa Orientasi Kampus

0
188

Bosan, bukan tidak mungkin itu yang akan dirasa oleh para Mahasiswa Baru (Maba). Sistem orientasi yang diberlakukan kampus beberapa tahun belakangan terlihat memang begitu monoton (bila tidak bisa dikatakan membosankan). Bagaimana tidak, sistem yang hanya menggiring para Maba untuk datang mendengarkan sambutan dan berbagai promosi kampus beserta berbagai elemennya sedari pagi hingga petang. Alih-alih untuk menghindari tindak kekerasan yang memang sering di-blow up oleh media pada setiap tahun ajaran baru, sistem duduk manis inipun dirasa sebagai jalan keluarnya.

Pada awal tahun perkuliahan di 2018 ini kampus akan kedatangan sebuah generasi yang telah memiliki pola berbeda. Jika dihitung dari masa studinya, perkiraan saya para Maba ini adalah mereka yang terlahir pada tahun 2000. Lantas apa yang menarik dari generasi 2000-an ini?

Ada sebuah studi tentang  pola pada sebuah generasi. Karl Manheim, seorang sosiolog dari Hongaria dalam esainya yang berjudul “The Problem Of Generation”. Menurutnya, manusia-manusia di dunia akan saling mempengaruhi dan membentuk karakter yang “sama” karena melewati masa sosio-sejarah yang sama, dalam artian mereka akan memiliki karakter yang berbeda namun saling memengaruhi.

Berdasar teori tersebut, para sosiolog pun membagi manusia menjadi sejumlah generasi. Generasi era depresi, Generasi Perang Dunia (PD) II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomers I, Generasi Baby Boomers II,  Generasi X, Generasi Y (Milenial), lalu Generasi Z.

Banyak literatur berpendapat berbeda mengenai batasan tahun dalam pembagian generasi ini. Maka izinkan saya menyampaikan salah satunya. David dan Jonah Stillman dalam bukunya Generasi Z berpendapat bahwa generasi ini adalah mereka yang terlahir pada rentang tahun 1995 sampai dengan 2012. Ada hal yang perlu diketahui dari karakteristik generasi ini. Pertama, meraka adalah Figital, yakni hubungan erat dengan dunia digital. Kemudian, Hiper-Kustomisasi yakni menciptakan sesuatu sesuai dengan diri mereka sendiri. Ketiga, Realistis. Keempat, Fomo (Fear of Missing Out) ketakutan tertinggal informasi, sehingga mereka menjadi generasi yang berada paling depan dalam tren dan kompetisi. Kelima Weconomist, yakni mereka hanya mengenal dunia dengan ekonomi berbagi. Keenam DIY (Do It Yourself). Terakhir adalah mereka merupakan generasi yang mudah terpacu dalam mengerjakan suatu hal.

Jika masa orientasi diartikan sebagai rentang waktu sebuah pandangan yang mendasar dalam penentuan sikap yang tepat dan benar terhadap suatu tempat atau wilayah. Maka, alangkah sia-sianya waktu tersebut jika hanya diisi promosi-promosi saja. Mengapa tidak kemudian orientasi dijadikan benar-benar masa pengenalan.

Masa orientasi kampus pun juga berperan penting dalam menciptakan kehidupan civitas academica yang kondusif, terutama dalam kehidupan organisasi mahasiswa. Pengamatan saya mengikuti masa orientasi terakhir, kampus hanya mendorong mahasiswanya beroganisasi berdasar credit point semata. Maka yang tercipta juga tidak berbeda dari apa yang disampaikan. Di sisi lain organisasi mahasiswa pun dirasa sudah harus mulai berbenah, mengikuti pola zaman. Hal ini diartikan juga tidak lantas meninggalkan gagasa-gagasan besar masing-masing organisasi, yang diubah cukup ranah taktisnya saja esensi dan cita-cita tetap dijaga. Kenapa organisasi mahasiswa ini penting, karena Generasi Z kelak mampu belajar lebih baik lagi, menjadi counter dari sikap pragmatisme zaman.

 

Penulis            : Galih Budi Saputro

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)