Sebelum Iblis Menjemput, Klenik yang Berisik

0
75

Demam film horor seakan melingkupi industri film di Indonesia. Di awal Agustus lalu, Sebelum Iblis Menjemput menambah daftar film horor yang berhasil diproduksi oleh kancah perfilman Indonesia. Rupanya, tema okultisme belum mencapai tingkat kejenuhan untuk diangkat sebagi latar cerita. Buktinya, film besutan Timo Tjahjanto ini berhasil dikemas dengan gaya khas Timo yang terkesan “sadis”.

Film ini bercerita tentang seorang Ayah, Lesmana (Ray Sahetapy) yang menahbiskan diri pada hal gaib untuk memeroleh kekayan secara instan. Hingga pada akhirnya, ia meninggal secara misterius. Kejanggalan bersarang di benak anaknya, Alfie (Chelsea Islan). Hal tersebut mendorong Alfie untuk mendatangi vila yang ditinggalkan sang Ayah, di sini lah kengerian di film ini bermuara.

Ibu tiri Alfie, Laksmi (Kirana) mendatangi vila tersebut bersama tiga anaknya, Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan Nara (Hadijah Shahab). Maksud kedatangan tersebut untuk mencari peninggalan Lesmana yang masih bisa diuangkan. Namun, keempat rombongan tersebut justru masuk ke dalam jurang kengerian yang terjadi.

Meskipun mengangkat tema klenik yang sudah umum dimainkan di industri film horor indonesia, film ini tetap mampu memberikan ciri yang kental dengan suasana gelap yang berhasil dibangun Timo di sepanjang film. Seperti di film sebelumnya, Takut: The faces of fear dan Rumah Dara, Timo tetap mempertahankan gaya sadisnya dengan menampilkan tubuh yang bersimbah darah.

Proporsi film ini didominasi oleh peran Alfie, Maya, Ruben, dan Nara. Akting aktor dan aktris muda ini patut diapresiasi, terlebih sebagai debut perdana di film bergenre horor. Keempatnya mampu menempatkan emosi yang tepat di sepanjang film. Sayangnya, kekurangan terlihat ketika akting yang apik tersebut tidak dibarengi dengan alur cerita yang sempurna.

Pasalnya, di dalam film tersebut alur cerita terasa mengambang tanpa ada eksplorasi yang menonjol. Film dengan durasi dua jam ini terkesan mengulur waktu untuk menyampaikan sebuah adegan. Di dalam beberapa adegan, lakon cerita juga terkesan nanggung dan terlalu didramatisir.

Seperti misalnya saat Laksmi masuk ke dalam gudang tempat Lesmana melakukan ritualnya, peristiwa tersebut menimbulkan kesedihan yang berlebih dalam diri Maya. Penulis mengapresiasi akting Pevita pada scene ini, namun terasa sia-sia ketika ia ingin menolong tetapi tidak melakukannya. Terlebih durasi pada scene ini berhasil menggiring penonton untuk menebak akhir dari sikap Maya tersebut.

Selain itu, tak ada kesan horor yang benar-benar terpatri selain banyaknya jumpscares yang bermunculan di sana sini. Meskipun begitu, alunan musik yang mengiringi adegan para aktor memang cukup efektif untuk mendukung kengerian yang dimunculkan. Namun menggantungkan kualitas film horor hanya pada jumpscares  kurang berhasil untuk membangun citra di mata penonton.

Penulis: Afitasari Mulyafi

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here