Memerangkap Realitas Sosial dalam Jejak Digital

0
68

Tiga belas hari setelah penayangan film perdananya sukses memberi kesan apik di mata penonton, saya memutuskan untuk ikut serta menjadi saksi saat kejeniusan film tersebut dielukan. Selama 102 menit, layar bioskop seakan menyuguhkan monitor perangkat digital, termasuk laptop, handphone, dan televisi dengan ukuran besar.

Tentunya, hal itu bukan tanpa sebab. Aneesh Chaganty mengemas cerita dengan cara yang berbeda. Film ini berkisah tentang usaha David Kim (John Cho) untuk menemukan anaknya, Margot Kim (Michelle La), yang hilang tanpa kabar. Berbekal rekaman bukti-bukti hilangnya Margot melalui jejak digital di media sosial miliknya.

Di era serba digital seperti sekarang ini, orang tua tak jarang lalai untuk mengenali anak sendiri. Merasa bahwa apa yang disampaikan melalu pertanyaan yang serba tertutup sudah cukup untuk menjadi bekal mengenali sang anak. Hal ini juga menimpa David, yang pada akhirnya mempertanyakan diri sendiri mengapa sebagai Ayah, ia sama sekali tidak mengenali sang anak. Saya rasa, melalui film ini Aneesh sebagai sutradara terlihat ingin menunjukkan kritik sosial di zaman bersosial media saat ini.

Keintiman relasi antara anak-ayah ini sukses dibangun John Cho dan Michelle La, keduanya mampu menunjukkan respon canggung ketika bertatap wajah sekaligus ramah hanya via layar digital. Terlebih Margot yang merupakan gadis sekolah biasa, mengabdikan diri pada bangku sekolah dan pulang berharap meluruhkan lelah. Juga David, seorang pekerja kantoran yang berkawan dengan lembur. Realita seperti ini dapat dipastikan terjadi di dalam rumah.

David, yang tak pernah menggubris perkataan saudaranya perihal Margot yang memiliki permasalahan di rumah, pada akhirnya menyadari bahwa ia sama sekali tak mengenali sang anak. Setelah mengetahui ada tiga panggilan yang tak terjawab dari Margot, David mulai mengkhawatirkan anak tunggalnya karena tak jua kunjung memberi kabar.

Laptop Margot yang tergeletak di rumah menjadi pilihan sebagai alternatif mencari kabar. David berharap dapat menemukan harapan melalui daftar nomor yang dianggapnya sebagai teman Margot. Namun, bukannya lega yang menghampiri David melainkan justru perasaan ‘astaga’ yang mampir dalam benaknya. Pasalnya, David baru mengetahui bahwa Margot tidak memiliki teman meski satu.

Berbagai sudut mesin pencari dijamah David. Hingga akhirnya, ia mendapat interaksi yang intens dengan seorang anonim melalui akun FaceTime milik Margot. Kembali, penonton disuguhkan realitas bahwa media sosial, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

David tidak hanya berkutat dengan layar laptop milik Margot. Bersama upaya mandirinya itu, ia juga bekerja sama dengan pihak kepolisian yang dipimpin Detektif Rosemary Vick (Debra Missing). Penonton semakin diajak bermain tebak-tebakan dengan berbagai subjek yang dicurigai sebagai kunci hilangnya Margot. Melalui usaha David yang tak henti-hentinya mencari, Margot akhirnya ditemukan di sebuah jurang dekat danau–tempat favorit Margot.

Pada intinya, jalan cerita seperti ini tidak sulit untuk ditemui di industri perfilman Hollywood. Sebutkanlah, cerita yang dibangun dalam serial tv seperti NCIS, CSI, atau Criminal Minds, ketiganya banyak menyuguhkan cerita berbalut misteri dengan ikatan pihak-pihak pemerintahan terkait. Diawali dengan sebuah kasus yang menimpa warga sipil, kemudian dijalankan dengan upaya pencarian yang dilakukan melalui bantuan pihak pemerintah seperti misalnya kepolisian.

Namun dengan adanya penyegaran di sisi penyajian cerita, film ini sukses dibicarakan sebagai film yang layak ditonton sebelum turun layar. Meski membawakan genre cerita yang sudah umum, tetapi sutradara mampu menghadirkan sentilan-sentilan yang sederhana nan menohok.

Film ini juga membuktikan bahwa untuk memproduksi sebuah karya yang apik tak melulu harus menggelontorkan banyak uang. Bagi saya pribadi, kekuatan sebuah karya tulis ataupun film seperti ini bisa dipertanggungjawabkan pada alur cerita yang dibuat. Tak seperti judul film ini, penonton tidak dituntut untuk mencari letak bagusnya film ini. Hanya dengan menikmati alur cerita yang disajikan, penonton dibuat duduk khidmat mengikuti alur cerita film ini.

Akhir cerita ini dikemas untuk memberi kesan tak tertebak di pikiran penonton. Sepanjang cerita, tak henti-hentinya penonton diajak untuk ikut menyumbang pikiran dalam menebak akhir cerita ini. Plot twist di penghujung cerita semakin menjauhkan penonton dari rasa sesal menebuskan uang dengan tiket bioskop.

Penulis: Afitasari M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here