Menghidu Kata dalam Semerbak Aroma Karsa

0
79

Judul               : Aroma Karsa
Pengarang       : Dee Lestari
Penyunting      : Dhewiberta
Tebal               : 710 halaman
Penerbit           : Bentang Pustaka, Maret 2018

Setelah 15 tahun mendedikasikan waktunya untuk seri Supernova dan beberapa buku fenomenalnya seperti Filosofi Kopi dan Perahu Kertas, Dewi ‘Dee’ Lestari membuka tahun 2018 dengan buku berjudul Aroma Karsa. Sebelum menerbitkannya dalam versi cetak, Dee sudah menggemparkan pembacanya lewat dunia maya dengan mengunggahnya secara bersambung dan dinikmati secara digital.

Buku setebal 710 halaman ini akan menyeretmu pada aroma-aroma yang bisa jadi seumur hidup belum atau tak akan pernah kauhidu. Hal yangtelah Jati Wesi rasakan sejak masa kecilnya. Ia mendapat julukan si Hidung Tikus dari orang-orang yang mengenal dirinya bukan tanpa alasan. Jati tahu betul bagaimana aroma mayat bayi laki-laki di hari kesepuluh yang tercium seperti campuran keju, buah, metil butirat, metil butamoat, dan metil pentanoat. Bahkan sebusuk-busuknya bau Bantar Gebang, tempat akhir pembuangan sampah yang ada di Bekasi, ia masih bisa mengendus aroma gurih dari tahu yang masih berada di penggorengan atau aroma segar dari buah mangga yang mengkal.

“Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Masih lebih mudah dipengaruhi oleh yang tidak terlihat.” Halaman 153.

Jati sudah terbiasa hidup dengan aroma yang paling busuk sekalipun. Sejak bayi, ia besar dan tumbuh di Bantar Gebang bersama Nurdin, sementara orang tua kandungnya menjadi teka-teki dalam hidupnya. Beberapa pekerjaan dilakoninya sekaligus, termasuk menjadi peracik parfum di toko Attarwalla milik Khalid hingga mengantarkannya pada empat seri parfum Puspa Ananta—Teja, Condra, Darani, Anggana. Parfum itu diproduksi oleh perusahaan kosmetik bernama Kemara. Perjumpaannya dengan Puspa Ananta kemudian membawanya pada Raras Prayagung dan anak angkatnya,Tayana Suma.

“Dari semua yang pernah kukenal, kamu orang pertama yang bisa membaui dunia seperti yang kubaui, yang bisa mencium apa yang kucium. Orang pertama yang mengerti.” Begitulah kata Jati Wesi tentang Tanaya Suma di halaman 249. Jati Wesi dan Tanaya Suma adalah dua tokoh yang serupa tapi tak sama. Keduanya sama-sama memiliki indera penciuman di atas manusia normal. Misteri asal-usul keduanya tak hanya sebatas siapa orang tua kandung mereka, lebih dari itu, ada misteri yang perlu dirunut sejak berpuluh tahun silam. Sementara Raras Prayagung adalah ibu angkat Suma yang begitu terobsesi pada cerita masa lalu tentang bunga bernama Puspa Karsa. Pertemuan ketiganya bermuara pada akhir yang sama; Aroma Karsa.

Satu persatu-satu, rentetan misteri yang berkelindan erat seakan memikatmu layaknya angin yang terpikat aroma. Menyatu. Menyaru. Dee mengenalkanmu pada aroma-aroma yang menuntun imaji pada batas-batas tak terkira. Aroma itu mengajak pembacanya ikut berpetualang hingga Gunung Lawu, memecah misteri di antara belukarnya hutan, menyimak mitologi dari kerajaan besar Majapahit, mempelajari epigrafi dalam lontar dan prasasti berbahasa jawa kuno, dan turut mengenal keluarga, persahabatan, sekaligus percintaan yang terjalin di antara Jati, Suma, Raras, dan tokoh lainnya.

Dee memang tidak tanggung-tanggung dalam mengeksekusi sebuah karya, hasil risetnya selama dua tahun tak berbuah sia-sia. Bagi saya pribadi, Aroma Karsa masih setipe dengan serangkaian seri Supernova, hanya dengan tema yang berbeda dan lebih singkat. Di bagian awal hingga pertengahan buku, Dee berkutat dengan world building dalam kisahnya dengan penggambaran yang luar biasa. Serangkaian misteri dan fantasi yang dikemas dalam alur cerita maju mundur berhasil membius pembacanya hingga tak terasa telah mencapai akhir cerita.

Penulis: Dian Aulia Citra Kusuma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here