Selamat Berekspedisi di Mongolia, Malimpa!

0
186

Bagi Malimpa, barangkali bulan September akan menjadi hari yang bersejarah. Mencoba hal baru, mengharap laku menjadi bakti pada negeri. Setelah rencana yang berlalu di pelupuk harap, akhirnya di penghujung tahun 2018 ini apa yang menjadi cita-cita jauh hari akan menjadi sedekat nadi. Selasa, 11 September lalu menjadi saksi untuk keberangkatan Malimpa dalam ekpedisinya menanggalkan jejak di Gunung Khuiten, Pegunungan Altai, Mongolia.

Pada akhir 2014 yang lalu, Malimpa sudah memupuk mimpi untuk menaklukkan salah satu puncak tertinggi di dunia, Gunung Elbrus di Rusia. Karena upaya yang bertemu kendala, akhirnya dengan terpaksa mimpi tersebut gugur di tengah masa. Namun hasrat tak lantas pupus, banyak anggota Malimpa yang justru semakin berupaya untuk menyukseskan mimpi tersebut dengan mencari alternatif pendakian lain.

“Ayo kita tunjukkan bahwa kita bangsa yang hebat, tunjukkan pada orang-orang kita mampu bersaing di luar sana,” tutur Iqbal Nurii Anam dengan penuh semangat saat itu, Minggu (9/9/2018).

Setelah itu, tercetuslah nama Hkakabo Razi yang berlokasi di Myanmar sebagai pilihan lain. Sayangnya, nama tersebut menyusul Elbrus menjadi rencana yang gagal karena banyaknya kendala yang dipertimbangkan oleh Malimpa. Iqbal yang merupakan salah satu anggota tim Malimpa UMS International Expedition (MUIE) 2018 mengungkapkan medan yang jarang dijamah profesional menguatkan pertimbangan tersebut. Alternatif kembali diungkapkan, tetapi dua opsi yang muncul lagi-lagi menemui jalan buntu. “Data terakhir pada 2015 atau 2016 gitu, itu kebetulan tim gabungan dari The Northface dan National Geographic mereka gagal,” tutur Iqbal.

Melalui kawan dan kerabat, saran terus bermunculan, dari China hingga Rusia terdengar di telinga. Hingga pada akhirnya, ketika cakap bersahut dengan teman di Medan, Iqbal memperoleh nama Mongolia secara tiba-tiba. Celetuk bahwa orang Indonesia belum pernah ada yang ke Mongolia memantik atensi Iqbal untuk mencari lebih jauh.

Dipilihnya puncak Khuiten karena gunung tersebut menduduki peringkat teratas sebagai gunung dengan puncak tertinggi. Iqbal mengaku data yang digunakan berasal dari luar negeri. Hal ini karena belum ada orang Indonesia yang meraih puncak setinggi 4.374 meter di atas permukaan laut (Mdpl) tersebut. beruntung, ia mengenal seseorang yang akrab dipanggil Mbak Ira sebagai informan perihal keadaan iklim dan tetek bengeknya.

Ajeng Nurtri Hidayati yang menjadi perempuan satu-satunya di tim MUIE menjelaskan, gunung Khuiten diakui sebagai gunung dengan akses yang sulit. Pengakuan tersebut disadur dari National Geographic, Ajeng lantas berharap bahwa pendakian ini menjadi pengalaman awal bagi penerus Malimpa nantinya. Tidak seperti seven summit yang sudah banyak dijamah orang, referensi dalam pendakian Gunung Khuiten belum banyak beredar. Sehingga, melalui pendakian ini juga diharapkan dapat membuka data baru bagi dunia pendakian Indonesia maupun internasional.

Meski begitu, menurut Iqbal persentasi keberhasilan di sini terhitung besar. Dari data yang diperoleh, secara teknik pendakian grade Gunung Khuiten tidak terlalu tinggi. Walaupun, saat menuju kaki gunung tim MUIE perlu menempuh 200 KM dari ibukota, belum termasuk jarak pendakiannya. Bahkan mereka perlu menunggangi onta dan kuda untuk mencapai basecamp.

Proses Persiapan

Segera setelah rapat kerja pengurus pada bulan Januari lalu, Malimpa membuka seleksi kandidat anggota pendakian. Didapat 12 orang yang mengajukan diri untuk mengikuti seleksi. Proses berlanjut dari akhir Februari hingga September lalu.

Penyeleksian meliputi training center di triwulan pertama, porsi latihan di sini masih dua kali dalam seminggu dan penyampaian materi hanya sekali seminggu. Penilaian yang diperhitungkan adalah sifat disiplin dalam mengikuti latihan dan kemampuan fisik calon kandidat itu sendiri. Setelah itu, diambil enam peserta untuk mengikuti seleksi di triwulan kedua dengan porsi latihan yang ditingkatkan. Hingga akhirnya dipilih Ibnu Syarifuddin, Ajeng Nurtri Hidayati, Iqbal Nurii Anam, dan Dwi Puja Purnama.

Untuk melatih aklimatisasi, Ajeng menyatakan bahwa timnya melakukan try out setiap sebulan sekali  langsung di lapangan. Saat yang pertama, mereka melakukan vo to make, endurace, dan naik-turun di Gunung Merapi. Kedua kalinya, mereka melatih diri naik-turun Gunung Sindoro dan Sumbing dengan jalur pendakian yang sulit. “Kita juga ngelakuin moving together, jadi kita diikat tali, naik terus. Jadi harus sama-sama tiap orang jaraknya tujuh depa,” papar Ajeng.

Nantinya di sana mereka akan bergabung dengan sepuluh orang. Selama persiapan ini, mereka sudah melakukan komunikasi dengan tim besar yang berada di sana. Ajeng mengakui bahwa komunikasi menjadi kendala yang cukup berarti. Meskipun menggunakan bahasa Internasional, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa aksen Mongol yang kental sangat sulit untuk dipahami. “Orang Indonesia itu malah bagus, tapi kalo mereka tuh, Aduh! Ini bukan kita nggak bisa tapi emang lafal mereka yang jelek banget,” keluh mahasiswi ini.

Kegiatan di Mongolia

Ajeng menjelaskan selepas meninggalkan ibukota, ia dan ketiga temannya segera melakukan perjalanan untuk menuju provinsi bagian barat guna menuntaskan pendakian. Setelah itu, mereka juga akan melakukan penelitian di suku Kazakh yang merupakan penduduk muslim di Mongolia. Budaya orang muslim di suku Kazakh menjadi bahan untuk diteliti. Mereka juga akan mengunjungi festival eagle hunt. Di festival tahunan ini, suku Kazakh akan mengenalkan budaya mereka dalam memburu hewan dengan bantuan burung elang.

Agenda yang berskala internasional ini akan diramaikan juga dengan kegiatan berkuda. Iqbal dan kawan-kawannya akan membaur dengan kegiatan sehari-hari suku nomaden tersebut. Mereka akan tinggal di rumah penduduk yang dikenal dengan nama tenda Yourt. Iqbal berterima kasih atas support yang berdatangan dari teman-teman unit kegiatan mahasiswa yang lain. Berkat bantuan dari universitas yang juga ikut antusias dalam membantu mahasiswanya mengukir prestasi. Kemarin, pada 11 September tim MUIE resmi memberangkatkan diri untuk program ini. Selamat berekspedisi, semangat kembali dan mengukir prestasi!

 

Reporter : Afitasari Mulyafi

Editor     : Livia Purwati