Aku dan Kamu adalah Mahasiswa

0
46

Mahasiswa, nama dan sebutan yang maha agung untuk seorang pelajar dengan mengemban banyak tugas dan peran dalam kesehariannya. Agent of changeiron stock, dan social control merupakan sebutan yang sering terdengar sebagai fungsi mahasiswa. Mahasiswa diharapkan bisa menjadi agen perubahan ke arah lebih baik, pengamat keadaan social, melakukan suatu perubahan dengan keintelektualitasannya,  serta menjadi tumpuan harapan bagi penerus bangsa.

Namun, apakah peran mahasiswa itu sudah teraplikasikan dengan baik? Mungkin jawabannya ada yang sudah, ada yang belum. Karena mengingat orang yang dijuluki mahasiswa sangatlah banyak, tetapi yang bergerak sangatlah sedikit. Lingkungan UMS mengelompokan mahasiswa menjadi beberapa golongan, ada mahasiswa yang organisatoris akut, mahasiswa organisasi tapi study oriented, mahasiswa non organisasi study oriented, dan ada juga mahasiswa yang di pertengahan, tidak organisasi juga tidak study oriented.

Ketika berbicara tipe-tipe mahasiswa tentu sangat unik dan beragam,  hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah lingkungan tempat mahasiswa tersebut berada. Ketika mahasiswa bersama lingkungan yang baik, maka dia akan menjadi baik. Namun jikalau di dalam lingkungan buruk maka bukan tidak mungkin dia akan terpengaruh ke arah yang lebih buruk. Hal ini bukan tanpa alasan,  karena sebuah ide gagasan dan pembentukan karakter pemikiran seseorang berawal dari beberapa hal.

Pertama, bisa berawal dari sosok yang menginspirasi,  karena berawal dari sosok inilah muncul decak kagum seseorang sehingga ingin mengikuti jejak langkahnya.

Kedua, berdasarkan alam pikiran masyarakat tempatnya berada. Ada beberapa kelompok mahasiswa atau beberapa mahasiswa yang menjadi motor penggerak di lingkungannya yang akhirnya membuat suatu sikap dan dimensi pemikiran kritis yang diterima oleh kelompok tersebut.

Dan yang ketiga adalah pemikiran yang berdasarkan keyakinan universal, artinya keyakinan-keyakinan tentang apa yang menjadi landasannya berpikir adalah kehendak Tuhan. Di sini lebih condong ke sisi religius dimana segala bentuk pemikirannya disamakan dan diserupakan dengan ajaran-ajaran yang dituntun oleh agama tanpa adanya sikap kritis sedikitpun terhadap ajaran tersebut.

Dalam opini ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk mengenali dan mengetahui sebenarnya berasal dari mana pemikiran kita ini berasal.  Apakah dari sosok yang menginspirasi,  atau dari tokoh-tokoh di kelompok kita berasal,  atau mungkin karena suatu ajaran agama yang telah membangkitkan spirit ketuhanan. Untuk mengetahui hal tersebut tentu jawabanya ada pada diri pembaca.

Sebagai sosok yang dikenal dengan keintelektualannya, selayaknya kita sebagai mahasiswa mampu bersikap kritis terhadap suatu hal yang dirasa merugikan kepentingan umum dan tetap menjaga kestabilan berpikir. Semata-mata agar tak jatuh di dalam kepentingan-kepentingan yang mengatasnamakan rakyat atau bangsa atau kelompok masyarakat atau bahkan umat namun sejatinya untuk diri sendiri.

Bahkan kalaupun kita memiliki kefanatikan terhadap pemikiran seseorang atau tokoh yang menginspirasi jangan sampai kita ingin seperti tokoh tersebut 100% sama.  Jangan sampai, karena kita memiliki pemikiran yang lebih berharga dan bukan tidak mungkin bisa melampaui tokoh tersebut. Maka bangga dengan keorisinilan berpikir itu perlu, tetapi jangan sampai membutakan pemikiran dan pandangan kita terhadap pandangan dan pemikiran dunia luar.

Mari bersikap kritis, mari berproses,  mari memajukan dan meruncingkan pemikiran untuk perubahan bangsa di masa mendatang. Di pundak kita poros perjuangan ke depannya dipikul.

Karena aku dan kamu adalah mahasiswa.

 

Penulis: Kiki Eko Prasetio

Mahasiswa Fakultas Hukum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here