Dari Perempuan untuk Perempuan: Mengubah Trauma Menjadi Karya

0
446

Jam di gawai baru menunjukkan pukul 08.30. Setengah jam lagi Car Free Day (CFD) di protokol Jalan Slamet Riyadi Solo usai. Dari selatan jalan besar seberang taman Sriwedari terlihat segerombolan orang menyisir arah utara jalan, mereka lantas berhenti pada sebuah warung soto.

Di sana, seorang yang saya tunggu ikut duduk beristirahat. Ia membawa sebilah papan dan meletakkannya di samping kursi. Sembari menikmati segelas minuman, ia asyik bercengkerama bersama kawan-kawannya. Suaranya terdengar sampai di seberang shelter tempat saya duduk.

Selepas sarapan bersama usai, saya bersama salah seorang teman menghampirinya. Ia pun sumringah. Senyumnya mengembang.Bersama salah seorang kawannya,perempuan ini mengajak saya mencari tempat teduh. Tapi bukan di shelter ataupun warung makan hik, ia mengajak saya duduk bersila di halaman depan rumah yang tepat berada di pinggir jalan besar.

Sesaat setelah duduk di tempat berteduh, ia langsung memulai percakapan, ”Heh Cuk, suwe ra ketemu koe, piye kabarmu” – Heh Cuk, lama tidak bertemu denganmu, gimana kabarmu?- Ujarnya sambil tertawa-tawa dan menepuk tangan teman saya. Saya pun bersigap mengulurkan tangan, ia lalu menyambut uluran tangan saya.

Namanya Helvana. Perawakannya pendek, berkulit kuning langsat. Rambutnya sebahu dan dibiarkan tergerai. Karakteristiknya simpel, jika suka, ia akan terang-terangan bilang suka. Apabila merasa tidak nyaman, ia bakal langsung mengungkapkan eskpresinya. Bicaranya blak-blakan dan tak sungkan memberi panggilan akrab ”Cuk” ke teman yang sudah ia anggap akrab.

Helvana lalu mengenalkan saya pada salah satu temannya, namanya Mega. Mereka berdua berasal dari satu almamater, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Mereka berdua pernah belajar di satu tempat yang sama, yakni di Unit Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).

Hari ini, ia mengaku lelah. Helvana bercerita agenda pribadinya sudah dipenuhi oleh kegiatan-kegiatan komunitas yang dibikin bersama teman-temannya. Salah satu kegiatannya adalah menggelar Lapak Baca Buku Larasati. Nama Larasati konon diambil dari celetukan ide yang sekilas begitu saja tanpa ada rencana.

”Aku sebenarnya agak repot juga, tapi aku mau menyempatkan waktu untuk melakukan ini karena aku berpikir ini nggak cuma buat aku saja. Ya makanya kalau halu-haluan (berkhayal-red) aku bilang ini kayak perjuangan, karena ada yang dikorbankan.”

”Sebenarnya gara-gara kumpul seperti ini aku sempat dibilang lesbi sama teman-temanku karena bareng sama si Helva dan teman-teman perempuan yang itu-itu saja,” celetuk Mega sambil terbahak.

”Aku juga. Tapi biarin aja lah. Ngapain juga digubris?Masa bodoh dengan ejekan-ejekan seperti itu.”

Sembari mengalirkan pembicaraan, Mega meloloskan sebatang rokok ke mulutnya. Helvana lalu mengeluarkan satu bungkus rokok yang disimpannya selama semalam. Mega kemudian menawari saya rokok yang masih berjejer rapi di dalam bungkusannya. Saya menampik karena sudah punya di saku celana. Lalu percakapan kembali berjalan di antara kami.

Helvana bercerita kalau Lapak Baca Buku Larasati ia gawangi bersama keenam kawannya. Inspirasi membuat lapak baca buku diawali tatkala ia dan kawan-kawannya jalan-jalan di CFD, ia melihat beberapa perpustakaan jalanan yang menggelar lapak baca buku. Dari sana terbersit ide untuk membuka juga. Saat itu ia sudah berangan-angan, jika membuka lapak baca, katalognya akan banyak diisi buku-buku bertema sastra dan perempuan.

Suatu waktu akhirnya impian itu kesampaian juga. Katalog buku yang disajikan dalam lapak baca itu berasal dari koleksi Helvana. Karena sejak awal memang sudah disepakati bahwa lapak baca akan diisi dengan buku-buku bertema perempuan, jadilah katalog Lapak Baca Buku Larasati ramai dengan penulis sampai pemikir ampuh semacam, Pramoedya Ananta Toer, Aamin Maalouf, hingga Simone De Beauvoir.

Helvana memang berminat pada isu perempuan. Literatur referensinya juga kebanyakan bertema perempuan. Ia sendiri mengaku masih memperdalam kajian gender. Sedari semester tujuh ia sudah menekuni kajian perempuan beserta kasus-kasusnya. Sekarang, semakin banyak yang ia baca, Helvana mengaku semakin banyak yang tidak ia ketahui. Makanya ia berniat untuk terus membaca dan belajar.

Awal Mula Tercetus Ide

Minat ketertarikannya dari hal-hal di atas bermula pada perlakuan yang ia alami. Bentuk-bentuk pelecehan seperti bodyshaming, catcalling, sampai dengan hal yang paling parah yaitu kontak fisik, semuanya pernah ia alami. Pelbagai macam pelecehan itulah yang menuntunnya sampai pada kajian perempuan yang bagi dirinya memberi gagasan agar ia tak terjerumus pada pengalaman buruk semacam itu lagi.

Sebenarnya beberapa bulan sebelum lapak bacanya digelar, Helvana sempat mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang tidak dikenal. Rencananya pada Rabu pagi tanggal 22 September ia akan berangkat liburan ke Tawangmangu. Namun nahas, tiba-tiba ia mendapat kabar bahwa neneknya meninggal dunia. Ia terpaksa membatalkan rencananya ke Tawangmangu. Dan dini hari pukul 01.00 ia harus lekas pulang ke Malang agar siangnya ia sudah sampai di Kota Malang.

Pada pukul 01.00, sewaktu menunggu bus jurusan Malang di halte bus Sekarpace Solo, Helvana tengah asyik mendengarkan musik dari gawai yang terhubung dengan headset di telinganya. Dari arah utara halte, dua orang laki-laki berboncengan motor datang dan berhenti tepat di depan Helvana. Penunggang motor itu bersiul-siul menggoda Helvana. Helvana tak menggubris. Ia acuh tak acuh seraya tetap mendengarkan musik. Tanpa disangka, salah satu dari mereka turun menghampirinya.Pria tak dikenal itu lalu menyentuh dadanya dengan sengaja. Sontak Helva mengumpat sejadi-jadinya, ”Asuuuu” jeritnya waktu itu.

Seorang yang barusan menyentuh dada Helvana cepat-cepat melompat ke jok motor. Satu orang yang di depan buru-buru menggeber motor. Mereka pergi sambil berteriak-teriak kegirangan. Dari kejauhan Helvana mendengar tawa mereka. Hatinya mendongkol bukan main kala itu. Dalam perjalanan pulang menuju ke Malang, ia menceritakan kejadian ini di media sosial dan mendapat banyak simpati dari pengikut Instagramnya. Usai itu, hatinya pun makin teguh untuk membuat Lapak Baca Buku Larasati, ”harus ada yang memulai,” katanya. Sepulangnya dari Malang, ia langsung menghubungi kawan-kawannya dan merealisasikan wacana menggelar lapak baca.

Helvana mengakui mulai mempelajari banyak materi mengenai perempuan setelah putus dari pacarnya. Pengalaman buruk dengan mantan pacarnya membuatnya terpuruk. Selama berpacaran perlakuan tidak menyenangkan banyak didapatkannya, entah itu dalam bentuk verbal maupun fisik.

Masa-masa pacarannya sempat dilewati dengan momen menyenangkan. Namun beberapa saat kemudian, layaknya sebuah dinamika, semakin lama, Helvana merasa semakin sakit hati. Perlakuan pacarnya benar-benar membuatnya trauma dalam arti yang sesungguhnya.

Tangan pacarnya sempat mendapat pemakluman untuk beberapa saat. Itu dilakukannya atas kesadaran diri sendiri. Beberapa kali ia membiarkan tangan sang pacar menggerayangi dadanya.Kerelaan sempat diberikan pada mantan pacarnya itu. Kemudian setelah paksaan-paksaan datang, dan ajakan senggama mampir beberapa kali, ia menolak dengan tegas. Mau tidak mau, tekanan-tekanan datang menghantam psikisnya.

Beberapa saat kemudian, karena tidak tahan dengan keadaan yang menimpa dirinya, Helvana mengajak putus. Ajakan itu sempat ditampik. Lambat laun, sang mantan pacar pun menerima keputusan itu. Sekarang hubungan mereka biasa saja. Komunikasi sudah jarang lagi terjalin.

Bertolak dari hal itu Helvana sempat lari ke psikiater. Kasusnya adalah kasus trauma personal terhadap seseorang, yakni mantan pacarnya. Banyak temannya yang menyepelekan kasusnya. Ia sempat frustasi. Pasca terapi dan penyembuhan, ia mencoba mencari aktualisasi diri. Hingga akhirnya ia menemukan bacaan-bacaan tentang perempuan,baik itu yang bertema feminisme maupun ihwal gender.

Dari sana, ia menemukan pelbagai macam ide, mulai dari kritik atas budaya patriarki, dominasi laki-laki yang kelewat batas, sampai dengan hak-hak perempuan yang harusnya dipenuhi. Dari banyaknya referensi yang ia lahap, ia menemukan suatu kesimpulan bahwa seharusnya relasi pacaran tak memungkinkan seseorang menjadi berkuasa atas diri orang lain.

”Aku banyak belajar dan banyak baca tentang masalah perempuan. Selain itu aku juga banyak mendengarkan masalah-masalah dari orang lain juga. Makanya aku nggak heran kalau teman-teman aku banyak yang nyepelein pilihanku. Tapi tetap ada yang support juga lah,” ujarnya sembari mengepulkan asap rokok dari bibirnya yang bergincu merah itu.

Helvana tak menampik jika apa yang dialaminya sangat jauh bobotnya dibanding dengan orang-orang lain yang jadi korban pemerkosaan. Jauh di luar sana, ia meyakini banyak perempuan-perempuan penyintas yang kasusnya jauh lebih pelik darinya. Namun Helvana tak lantas menjadi minder untuk bersuara. Justru, ia ingin menjadikan kasus yang mereka alami sebagai pelecut yang lainnya untuk ikut bersuara.

”Seharusnya ini menjadi awal kesadaran teman-teman survivor yang lain untuk ikut bersuara di masyarakat. Yang penting kita ada dulu. Urusan mau bicara atau tidak, itu masalah waktu,” ucap Helvana.

Sekarang Helvana sudah satu tahun lebih mendalami pelbagai macam hal mengenai perempuan. Koleksi bukunya kian bertambah, dan ia masih saja merasa kurang sekali dalam bidang itu. Meski demikian, ia mengaku ada beberapa hal yang ia kuasai lewat bacaan ataupun diskusi dengan teman-temannya.

Bertolak dari situ, ia merasa butuh membagikan akses pengetahuan lewat buku itu kepada masyarakat umum. Barangkali, ada yang lebih paham setelah membaca buku-bukunya lalu muncul ajakan untuk mendiskusikan materi itu bersama-sama. Sehingga setelah itu, rasa kolektivitas dan solidaritas antar sesama perempuan akan mencuat dalam sifat yang organik.

Mega, hampir serupa dengan Helvana, ia bersepakat dengan konsep perpustakaan jalanan yang hendaknya berupaya meningkatkan akses baca masyarakat. Lewat buku beserta lapak baca itu, kajian-kajian perempuan juga diharapkannya menjadi konsumsi masyarakat luas tanpa pengecualian apalagi diskriminasi.

Bagi Mega, perihal gender sudah semestinya tidak lagi menjadi hal yang tabu. Menurutnya, masyarakat terutama kaum perempuan harus dididik dengan literasi kritis. Tujuannya, jelas agar perempuan masa kini paham akan kondisi yang saat ini sedang mereka hadapi di tengah masyarakat.

”Aku merasa buku-buku yang aku gelar di lapak baca harus menjadi sarana untuk menyemaikan pengetahuan buat kaum perempuan.Sayangnya di sisi lain aku kok merasa jengah dengan suara miring dari teman-teman dari lingkaran luar,” kata Mega yang mengaku tidak terlibat penuh dalam proyek Lapak Baca Buku Larasati karena ada kesibukan tertentu.

Helvana pun menimpali, ”iya, kita sering dicap orang yang mencari pelarian.Tapi kalau aku pribadi semisal ada yang nyinyir, ya cuek aja.”

Uniknya, dari kejadian-kejadian ini Helvana sendiri sempat ragu akan apa yang ia lakukan dan pelajari. Ia sebenarnya ogah dicap sebagai feminis. Apalagi sampai disebut feminis karbitan. Baginya itu cukup membuatnya merasa jengah.

Bersuara Lewat Karya

Pada intinya, Helvana beserta kawan-kawannya hanya ingin bersuara dan berkarya atau lebih-lebih bersuara dengan karya. Karena mereka sendiri mengakui, secara akademis mereka belum disiplin, mereka lebih memilih jalan sunyi, yakni jalan literasi jalanan dan karya-karya independen. Itu semua dilakukannya dengan roda kolektif tanpa hirarki.

Helvana adalah mahasiswa jurusan film. Di bangku perkuliahan ia memang dikondisikan untuk berkecimpung di dunia perfilman. Produksi film jadi daya tawar Helvana. Ditambah pengalaman buruk dan literasi yang kini ditekuninya, ia berusaha membuat karya-karyanya sebagai sebuah pesan penting untuk para perempuan.

Dalam kelompok kolektifnya Helvana mengatakan juga tidak bersandar pada struktur. Helvana dan kawan-kawannya bergerak atas kesadaran masing-masing. Mereka juga saling mem-backup satu sama lain. Tak ada paksaan ketika bergerak. Motif adalah masalah akhir. Mereka lebih mementingkan substansi daripada bentuk.

”Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, kita ini kerjanya support system. Ngga ada struktur. Ngga ada hirarki. Kita saling membantu satu sama lain. Saling memberi masukan. Dan juga peka kapan harus diam dan kapan harus bergerak,” Ungkapnya.

Dan sekarang ini Helvana besertateman-temannya juga tengah menyiapkan project film. Agenda Lapak Baca Buku Larasati yang mereka inisiasi, serta project film yang sedang mereka bikin terhubung dalam satu akun media sosial di Instagram yang bernama @FeminisSolo.

Film yang sedang mereka buat konsepnya tak jauh-jauh dari masalah gender. Sebelumnya mereka sempat juga membuat film perihal stererotip masyarakat akan perempuan. Film pendeknya itu mendapat penghargaan di salah satu lomba. Sekarang ia sudah menyiapkan lagi film bertajuk perempuan yang masih dalam proses penggarapan.

Film yang saat ini sedang ia kerjakan dengan kolektifnya bercerita tentang kuasa tubuh perempuan. Mereka sedang menawarkan sebuah gagasan dalam film itu. Salah satu gagasannya adalah perempuan seharusnya memiliki wewenang penuh atas tubuhnya. Inspirasinya, jelas datang dari pengalaman Helvana dan kawan-kawannya, serta buku-buku yang sering mereka diskusikan bersama.

Sebenarnya sekarang ini Helvana dan kawan-kawannya sadar bahwa mereka belum memiliki ilmu yang cukup. Tapi dengan perencanaan, semangat, serta solidaritas yang tinggi, ia yakin gerakan dan karya-karya yang dihasilkan bersama kolektifnya dapat membuka wadah alternatif kaum perempuan di Kota Solo untuk bertukar pengalaman ataupun gagasan.

Yang terpenting kata Helvana, ”Bersuara adalah cara supaya mereka yang pernah menjadi korban setidaknya lebih berkurang tekanannya. Dan kita bisanya ya buka lapak atau bikin film, sekarang diam bukan lagi emas. Kita harus bicara dan bersuara.”

Barangkali benar kata Helvana bahwa diam bukan lagi emas. Selama diam membuka kesempatan bagi orang-orang yang berpikiran picik, maka selama itu pula diam adalah ketertindasan. Dan lewat lapak baca buku dan film-filmya, Helvana dan kawan-kawannya memberi contoh ke kita, jika banyak bicara bukan lagi sebuah tabu, tapi perlu.

Penulis: Muhammad Taufik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here