Fakultas Farmasi UMS Sikapi Moratorium

0
775

UMS, pabelan-online.com – Penuntutan moratorium program studi (prodi) S1 Farmasi  sebenarnya telah muncul ke permukaan sejak tahun 2016 lalu. Namun kini digaungkan kembali melalui petisi dari situs change.org.

Saat ini, petisi yang ditujukan kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti) tersebut telah ditandatangani lebih dari 6.600 orang. Lalu, bagaimana Fakultas Farmasi  Universitas Muhammadiyah Surakarta (FF UMS) dalam menyikapi isu moratorium ini?

Menurut KBBI, moratorium adalah penundaan; penangguhan. Dalam konteks ini, moratorium prodi S1 Farmasi berarti penangguhan izin bagi universitas atau institusi yang baru berencana membuka prodi S1 Farmasi. Penuntutan moratorium ini bermula dari maraknya pendirian prodi S1 Farmasi di Indonesia. Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan pembukaan program studi Profesi Apoteker (PSPA).

Bertambahnya prodi S1 Farmasi di Indonesia, tidak menjamin ketersediaan apoteker. Sebab secara hukum, sarjana farmasi bisa disebut apoteker jika telah menempuh studi profesi apoteker dan menjalankan sumpah profesi. Bila ini terus dibiarkan,  tidak menutup kemungkinan akan semakin timpangnya jumlah sarjana farmasi dengan PSPA yang tersedia. Sedangkan di masa mendatang, jumlah kebutuhan terhadap apoteker akan semakin meningkat.

Menanggapi isu tersebut, Azis Saifudin selaku Dekan FF UMS memaparkan bahwa moratorium hanya dilakukan untuk mencegah pendirian prodi S1 Farmasi baru. Namun tidak memberhentikan program studi S1 Farmasi yang telah lama berdiri dan berkembang.  “Kita masih mengkaji hal ini dengan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat –red). Kita juga ikut mencarikan data untuk tim pengkajian mutu pendidikan farmasi yang terdiri dari beberapa perguruan tinggi,” jelasnya saat ditemui tim Pabelan Online, Selasa (19/02/2019).

Isu tuntutan moratorium ini juga mendapat perhatian dari Nadia Khairunnisa Ramadhani, selaku mahasiswi Fakultas Farmasi UMS. Mahasiswi yang akrab disapa Nadia ini beranggapan bahwa moratorium bisa dijadikan ajang untuk meningkatkan kualitas lulusan S1 Farmasi. “Semoga dengan adanya moratorium ini, kualitas perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi S1 Farmasi bisa lebih baik. Dan kualitas lulusannya juga bisa jauh lebih baik,” ujar Nadia, Selasa (19/02/2019)

Reporter     : Ani Sariski

Editor         : Rifqah